Another Templates

Sunday, 21 August 2016

Dua Cangkir Kopi Pahit

Sore itu, hujan turun membuat pelangi di tengah langit jingga. Aku duduk termenung menatap jendela, di sebuah kedai kopi di daerah Kemang. Suara mesin kopi barista beradu dengan suara dua orang mahasiswi masa kini yang sibuk berdebat soal judul skripsi mereka yang ternyata sama, suara siaran langsung pertandingan tenis dari televisi yang teronggok sepi di pojok atas ruangan dan dengan musik pengiring manusia belanja di lorong Mall yang sayup-sayup masuk ke dalam kafe. Tapi semua suara itu tidak lebih keras dari getaran ketukan kakiku ke lantai. Gugup. Aku akan bertemu dengan ayahku untuk pertamakalinya.

Dua cangkir cappuccino panas, tersaji di hadapanku. Aku tidak tahu dia suka atau tidak, karena memang tidak ada yang tahu apapun tentang dia. Tidak juga ibuku. Ayahku itu pergi meninggalkan aku dan ibuku, seminggu setelah aku lahir.

Ibuku jarang bercerita tentang ayah. Baginya ayah tidak lebih dari sekadar pewujud kehadiranku, anak perempuannya, anak satu-satunya. Dia lebih memilih tenggelam dalam kesibukannya, bekerja sana-sini.

Ayah bukan orang yang sulit ditemui. Dia bahkan ada di mana-mana. Tentu saja. Dia adalah pembaca berita stasiun televisi berita News 9. Setiap kali aku tidak sengaja mengganti channel TV, ibuku mengeluh kesal, “Orang tidak tahu diri!”

Aku melirik jam di layar ponsel. Dia sudah terlambat lima menit dari waktu janjian. Tiba-tiba panggilan telepon masuk. Ibuku. Aku menjawabnya,”Halo?”

“Arin kamu di mana?”

“Kemang.”

“Dia sudah datang?” tanyanya cemas.

“Belum.”

“Pulang saja! Jangan temui dia! Kamu hanya akan kecewa.”

Ketika aku berpikir untuk memutuskan pulang, dia datang. Rambutnya sudah mulai memutih, tapi badannya masih tegap. Dia tampak telaten merawat tubuhnya, menjaga makannya. Tidak seperti pria paruh baya yang biasa ditandai dengan perut yang mulai membuncit, dia masih memiliki perut rata, dada yang bidang dan pinggang yang kokoh. Aku bisa mengenalinya begitu mudah. Begitu juga semua orang.

Dia berhenti di ambang pintu, memindai isi ruangan. Kami bertemu pandang. Aku menganggukkan kepala. Dia tersenyum, sambil menunjuk ke arah barista. Dengan wajah kaku, aku menggelengkan kepala, sambil menunjuk ke arah dua cangkir kopi yang sudah ada di meja.

Ayahku itu, seperti pria 50 tahunan masa kini lainnya, aktif di berbagai media sosial mengomentari semua peristiwa. Banyak yang menganggap opininya adalah pandangan masa kini dengan sudut padang menarik. Tapi aku tidak seperti mereka. Aku tidak suka apapun katanya. Jangankan membaca semua tulisannya, membaca namanya saja dadaku sesak.

“Nanti Aku telepon lagi,” kataku pada ibu di telepon, seiring langkah ayah menghampiri mejaku.

“Maaf terlambat.” katanya sambil menyimpan kunci mobil dan ponsel cerdasnya di atas meja.

“Tidak juga. Batas keterlambatan orang kita kan dua jam dari waktu janjian,” kataku mencoba santai. Maklum. Tidak menuntut.

“Ha ha ha.” Dia malah tertawa terbahak-bahak.

Semua orang di kedai kopi itu pun menoleh, tertarik dengan suaranya. Tapi aku tidak.

“Apa kabar?” tanyanya memecah buaiannya.

“Baik.”

“Ibu?”

Gila. Dia masih bisa bertanya kabar ibu. Harusnya hal itu dia bisa jawab sendiri. Sakit dan luka di hatinya tidak akan sembuh. Bukan hanya karena ditinggal, tapi juga dikucilkan, Ibu terpaksa tinggal di kontrakan kumuh di Tanjung Priuk. Masa itu masa yang sulit, tapi dia tidak peduli. Jangankan uang untuk tempat tinggal, uang untuk keperluan aku yang masih bayi pun tidak dia berikan. Akibatnya ibu sering membawa aku keluar masuk rumah sakit. Bukan, Puskesmas. Sampai akhirnya aku masuk rumah sakit, dirawat karena flu Singapura. Kakek dan Nenek turun tangan, untuk membantu ketika itu.

“Dia masih sendiri?” tanyanya lagi.

Tentu saja! kataku dalam hati. Aku kira dia orang yang cerdas, tapi nyatanya benar kata ibu, dia orang yang bodoh. Ibuku bukan orang bodoh yang lari dari tanggungjawab, lalu menikah lagi.

“Iya,” jawabku.

“Katanya sekarang kamu editor majalah Ruang Perempuan?” dia bertanya dengan suaranya yang berat tapi halus seperti suara senar cello yang dipetik sesekali.

“Iya.”

“Hebat. Umur berapa kamu? Dua puluh…?”

“Lima. 25,” sahutku.

“Hebat, baru 25 sudah jadi editor. Anak saya tidak mau bekerja di media. Dia sekarang sibuk melukis. Ada pameran di Milan, katanya,” Dia menjelaskan sambil menunjukkan foto seorang gadis cantik, di ponselnya.

Usaha yang bagus. Memuji. Tapi aku tidak terbawa, tidak terangkat. Apalagi ketika dia bicara soal anaknya. Apa bisa dia bandingkan anak yang dirawat dengan kasih sayang dengan aku yang hidup di bawah tekanan?

Kami kemudian terdiam lama.

“Ada apa?” akhirnya dia bertanya.

“Bulan Oktober aku akan menikah.”

“Wah, selamat! Ingatkan saya dua minggu sebelum hari H, ya. Soalnya masih terlalu lama, sembilan bulan lagi saya mungkin sudah lupa. Maklum sudah tua.”

Aku terdiam, menatap dua cangkir cappuccino yang mungkin sudah mulai dingin, seperti lidahku yang semakin kelu. Kelu untuk bertanya, apakah dia mau menjadi waliku?

“Minum?” kataku mengambil ancang-ancang untuk bicara lebih lanjut.

Dia mengangguk. Kami berdua menyeruput kopi secara bersamaan, sama-sama jengah dalam percakapan semu.

“Aku tahu mungkin permintaanku kali ini terlalu besar. Terlalu mendadak. Aku juga tidak memaksa. Tapi aku harus menyampaikan ini, meminta ijin. Apakah bapak bersedia menjadi wali nikahku nanti.”

Dia hanya berdeham, terdiam. Berpikir.

Aku pun berpikir. Sebetulnya berat bagiku untuk melakukan ini. Aku lebih memilih pamanku, kakak ibuku, ketimbang harus menemui si landak tua ini. Kalau saja kekasihku tidak memaksa, aku tidak akan ada di sini sekarang.

”Siapa namanya?”

“Bimo.”

“Apa pekerjaannya? Asal dari mana? Tinggal di mana?”

Aku terdiam.

“Maaf. Kebiasaan saya mengorek informasi, selalu keluar tiba-tiba,” katanya diikuti sedikit tawa. “Oke, saya tidak akan ikut campur. Saya yakin kamu yang lebih tahu. Siapa dia? Pantas atau tidak kah dia? Bagaimanapun juga saya yakin kamu sudah mempertimbangkannya.”

Aku masih terdiam. Cappuccinonya sudah tidak hangat lagi.

“Begini. Saya tidak bisa menjadi wali nikahmu.”

Bagus. Hanya itu yang perlu aku dengar. “Oke,” jawabku. Sekarang tidak ada alasan lain untuk tidak pergi darinya. “Terima kasih sudah mau datang,” kataku lagi dengan nada santai. Aku mengerti, mengurus keluarganya saja tidak mau, apalagi jika dia harus menjadi wali nikahku. Sudah berulangkali aku menjelaskan pada Bimo, bahwa pertemuan ini akan percuma, tapi berulangkali pula dia memaksaku untuk melakukannya.

“Tunggu! Jangan marah!” tangannya menahan tanganku agar aku tidak berdiri dari kursi.

Aku tertegun. Aku tidak marah, sudah terlambat untuk marah. kataku dalam hati. “Tidak apa, aku tidak memaksa,” aku berusaha menjelaskan, mengapa aku langsung setuju.

“Sebenarnya apa yang ibumu ceritakan tentang saya?” tanyanya tidak mempedulikan keinginanku untuk pergi. “Kamu pasti mengira saya tidak pantas lagi menjadi ayahmu kan?”

Rasanya aku ingin teriak, IYA! Tapi aku hanya mampu berteriak dalam hati. Aku rasa semua orang akan maklum jika aku tidak lagi menyebutnya ayah.

“Apa kamu ada waktu mendengar cerita saya?” tanyanya lagi.

Enggan. Tapi aku malah mengangguk pelan. Lagipula aku tidak ada janji dengan siapapun lagi malam ini.

Dia meminum kopinya seteguk, lalu mengangguk perlahan, menyuruhku menunggu kopi di tenggorokkannya menghilang. Dia menyimpan cangkir kopi di atas meja, lalu membetulkan posisi duduknya agar bisa lebih tegak. Dia mencondongkan badannya ke arahku, hendak menyampaikan hal penting dan memaksaku untuk mendengarkannya dengan seksama. “Setahun saya menikah dengan ibumu, saya masih seorang reporter lapangan. Waktu itu, saya mendapatkan tugas meliput ke Timur Tengah. Saya tidak bisa menolak, karena itu memang tugas saya.”

Perlahan suaranya yang tegas menenggelamkan suara bising di dalam kedai kopi yang semakin ramai.

Dia kemudian melanjutkan bercerita. “Ternyata memang medan perang itu mengerikan. Bukan satu dua hari, tapi dua tahun kami di sandera. Pemerintah sudah mengusahakan negosiasi dan imbalan. Tapi tampaknya kita tidak bisa apa-apa selain menunggu kebaikkan mereka. Namun, perang berkepanjangan membuat daerah itu gersang, kehabisan makanan. Sampai akhirnya, pemimpinnya wafat sendiri dan pasukan Garuda bisa masuk menolong kami. Akhirnya saya bisa pulang dengan selamat, tentu saja, semua orang senang. Saya juga. Saya sangat merindukan ibumu. Setiap malam di sana, di antara bunyi tembakan dan bom, yang saya bayangkan adalah pelukan ibumu. Yang saya bayangkan adalah bisa pulang ke rumah, yaitu ibumu.

Aku duduk terdiam, seperti sedang terpaku di depan tv, mendengarkan seorang pembawa berita membacakan berita.

“Waktu itu, saya senang bukan main. Satu bulan setelah kepulangan saya, ibumu memberikan sebuah tes pack dua garis. Positif. Tapi kamu tahu? Ketika saya dan ibumu memeriksa kandungan? Apa kamu tahu kalau ternyata kandungannya sudah masuk minggu ke-10. Dia menangis, berlutut di kaki saya.

Aku mulai menyadari, sama seperti mata ibu, matanya hitam pekat.

“Saya tidak tega meninggalkannya begitu saja. Saya bertahan. Atas janji yang saya ucapkan ketika menikahinya. Saya mencoba memaafkan kesalahannya. Tapi begitu kamu lahir dengan mata coklatmu. Hati saya remuk,” dia berkata dengan suara yang bergetar.

Aku masih terdiam. Semua orang memang sering mempertanyakan dari mana aku mendapatkan mata coklatku. Meski tidak tahu jawabannya, Bimo menyukainya.

“Kopi ini terlalu manis. Saya biasa minum yang pahit. Gayo, kamu tahu?” katanya setelah menyeruput cappuccino-nya. “Kopi Gayo itu pahit, tapi gurih. Tidak mudah bagi saya meninggalkan ibumu, tapi saya tidak punya pilihan lain.”

Aku terdiam menatap kopi di cangkirnya yang masih tersisa banyak.

“Kalau ibumu berkata bahwa aku tidak pantas menjadi ayahmu. Dia benar, karena aku memang bukan ayahmu,” jelasnya sesaat sebelum kemudian dia pamit lalu melangkah pergi keluar kafe, tanpa sekalipun menoleh.

Seperti menelan batu besar, tenggorokkanku tercekat. Dadaku sesak. Air mataku seolah hendak berontak. Aku seruput cappuccino yang dingin dan pahit, sambil menatap jendela kafe. Langit sudah mulai gelap.

Bekasi, 20 Mei 2016.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Tuesday, 5 April 2016

Orang-Orang Pasar

              Pagi belum juga terang, lorong-lorong sebuah pasar kecil di perbatasan Jakarta-Depok, sudah dipenuhi para pedagang. Tanah pasar yang baru saja kering akibat hujan semalam, sudah kembali basah oleh tetesan es pengawet ikan-ikan segar yang baru saja mati. Bau sengit campuran daging busuk, ikan asin dan tanah sehabis hujan membuat rindu Minah terhadap tempat penghidupannya hilang sudah. Seminggu lamanya, Minah meninggalkan pasar demi mengurus pemakaman orangtuanya di Kuningan.

               Sehelai - dua helai daun rontok dari keranjang besar yang terikat di jok belakang motor tua Fauzan. Fauzan merapatkan motornya tepat di samping bilik kecil yang sudah di sewanya selama setahun. Minah yang sudah lebih dulu tiba di pasar, langsung membantu suaminya menurunkan keranjang besar berisi sayur mayur tersebut.

“Cabai naik lagi,” kata Fauzan datar.

“Berapa?” tanya Minah.

“30ribu.”

“Kok bisa?”

Fauzan menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.

Sambil merapikan sayur mayur di atas meja, Minah menggumam,”Harus jual berapa kita nanti?”

“Kita masih mending, barusan Pak Solihin bilang daging udah sampe 80ribu. Dia bingung hari ini mau jualan apa nggak.” Fauzan menaiki motornya,”Ayah ke pelabuhan ya.”

 “Katanya hari ini mau istirahat dulu?”

“Kalau ayah nggak kerja, gimana kita bisa beli sepeda untuk Azam?” ujar Fauzan tersenyum tipis.

“Nanti pinjem sama Abah … ”

“Jangan pinjam siapapun!” kata Fauzan memotong ucapan Minah. “Semiskin apapun kita, jangan berhutang!” Fauzan menegaskan sambil terbatuk.

Minah tahu, Fauzan sebetulnya sudah harus mengistirahatkan badannya yang semakin kurus. Pelabuhan sedang ramai-ramainya. Kapal-kapal pengangkut beras dan bahan makanan import sedang ramai merapat. Bulan depan, bulan Ramadhan.  Di satu sisi, Fauzan merasa bersyukur karena dengan demikian jasanya sebagai kuli panggul di pelabuhan akan semakin dibutuhkan, tapi di sisi lain tubuhnya meronta, kelelahan. Kondisi peralihan musim hujan ke musim panas menambah parah kondisi pelabuhan. Panas terik di siang hari, berubah menjadi hujan dan angin dingin yang menusuk di malam hari. Belum lagi, Fauzan harus menghirup angin dini hari, setiap kali dia mengantarkan sayur mayur agar Minah bisa berjualan di pasar setiap paginya.

Perlahan, pasar yang awalnya berbisik, sekarang mulai bersuara ramai. Minah duduk termenung menunggui dagangannya. Dia teringat tadi malam, anak pertamanya meminta sepeda untuk kenaikan kelasnya kali ini. Semuanya bermula dari kebiasaan Fauzan yang selalu menjanjikan hasil atas perbuatan. Dulu, ketika Azam baru mengerti tentang uang, Fauzan menyuruhnya mencuci motor dengan imbalan dua ribu rupiah. Akibatnya Minah dan Fauzan terpaksa memberikan Azam uang 2ribu setiap hari, karena setiap hari pula Azam mencuci motor. Sampai tiba musim kemarau panjang, Minah tidak tahu harus bersyukur atau tidak, tapi akhirnya Azam berhenti mencuci motor, karena air sumur rumahnya yang kering. Tapi kebiasaan itu tidak berhenti disitu. Ketika duduk di kelas satu, Fauzan menjanjikan sepatu baru untuk Azam jika berhasil mendapatkan nilai sempurna. Untungnya saat itu, Minah dan Fauzan sudah mulai berjualan di pasar tradisional kecil di sebuah komplek perumahan. Mereka bisa membelikan sepatu baru untuk Azam dan adiknya Isna yang masih TK. Tahun ini, Azam minta dibelikan sepeda agar dia bisa membonceng Isna dan tiba lebih cepat di sekolah.

“Mba, masih pagi kok sudah bengong? Nanti rejekinya dipatok ayam lho!” tanya seorang wanita 10 tahun lebih tua dari Minah dengan ramah.

“Jangan dong, Bu Haji. Doain saya rejekinya nambah dong, Bu.”

“Iya, saya doain,  biar banyak yang beli.”

“Amiin.”

“Biar banyak rejekinya.”

“Amiin.”

“Biar bisa bayar kontrakannya.”

Minah tersenyum,”Kata Kang Fauzan, Pak Haji setuju kalau kami bayarnya minggu depan, Bu. Soalnya kan orang tua saya… .”

“Iya, saya tahu. Saya kan cuma mengingatkan,” ujar Bu Haji yang wajahnya tiba-tiba berubah jadi dingin. “Beli bumbu rendang, sayur asem sama cabeinya seperempat.”

“Iya.”

Minah membungkuskan sayur mayur yang diminta, lalu memberikannya pada Bu Haji.

“Berapa?” tanya Bu Haji masih dingin.

“25ribu,” jawab Minah.

“Biasanya juga 18!”

“Harga cabainya naik, Bu.”

“Belum juga bulan puasa kok udah naik?”

Minah terdiam.

“20!” kata Bu Haji memaksa. “Lagian juga belum bayar kontrakan,” ujar Bu Haji setengah menggumam.

Minah terpaksa menerima 20ribu dari Bu Haji. Minah memang telat dua bulan belum membayar kontrakan.  Tiba-tiba telepon seluler butut milik Minah berbunyi.

“Halo?” jawab Minah. Dalam seketika raut wajah Minah berubah, khawatir, takut bercampur sedih. Tapi Minah harus tegar. Tak lama kemudian, seorang wanita sebaya Minah datang menghampiri.

“Mba jual angkak?” tanyanya.

Minah terdiam.

“Mba?” tanya wanita itu lagi.

Minah tersadarkan dari lamunannya lalu berkata,”Suami saya pingsan!”

“Kenapa?”

“Kecapaian. Barusan temannya menelepon akan segera mengantarkannya pulang.”

“Jadi mba mau tutup sekarang?”

Minah tidak mungkin menutup dagangannya. Jika dagangannya tidak habis hari ini, bisa jadi besok tidak terjual sama sekali karena layu. “Nggak,”kata Minah pelan. “Mba cari apa?” tanya Minah.

“Mba jual angkak?”

“Angkak?” Minah balik bertanya.

“Iya, beras merah kering, obat untuk demam berdarah. Anak saya masuk rumah sakit. Katanya kalau minum itu bisa cepat sembuh,” tanya wanita itu dengan cemas.

“Maaf, Mba. Saya nggak jual.”

Minah memperhatikan wanita itu bergegas pergi ke toko sebelah, sebelahnya lagi dan ke seluruh pasar menanyakan hal yang sama. Dari kejauhan, Minah bisa melihat wanita itu mendekati toko Omah, wanita yang sudah dianggap Minah sebagai kakak sendiri. Di sela-sela keramaian pasar, Minah memperhatikan Omah berbicara pada wanita itu, hingga membuat wanita itu tampak lega.

Matahari sudah semakin tinggi. Keringat mulai mengalir keluar dari balik kerudung yang menutupi pelipis Minah. Sebentar lagi pasar mulai lengang, itu berarti sebentar lagi Bang Ramon datang. Setiap bulannya, Bang Ramon berkeliling menagih uang keamanan. Entah apa yang dilakukannya, tapi selama para pedagang tidak pernah lupa membayar uang keamanan, pasar benar-benar aman dan nyaman. Minah bergegas menutup dagangannya yang setengah laku, dia tidak rela memberikan uang hasil dagangannya hari itu untuk Bang Ramon. Tapi belum juga sempat Minah memasukkan sayuran sisa ke dalam keranjang, Bang Ramon datang.

“Kok sudah tutup?” tanya Bang Ramon ramah meski suaranya yang serak terdengar garang.

“Kang Fauzan dibawa ke rumah sakit. Katanya muntah darah.” Kata Minah menjelaskan dengan gugup. Bang Ramon mengusir Abdi, pedagang kelapa parut, dari pasar itu bulan lalu. Kejadian itu membekas jelas diingatannya dan juga semua pedagang di pasar itu. Abdi tidak sanggup membayar hutangnya pada Bang Ramon. Ketika itu Abdi berhutang pada Bang Ramon untuk melunasi hutangnya pada tukang kredit lainnya. Bang Ramon mengambil semua barang milik Abdi. Abdi dan keluarganya terpaksa pulang ke kampungnya di Sukaraja, kembali menjadi petani lahan sawah milik orang Jakarta.

“Waduh. Sakit apa?” tanya Bang Ramon lagi.

“Nggak tahu, kayanya kecapaian. Lagi dibawa ke rumah sakit sama teman-temannya,” jelas Minah.

Bang Ramon menganggukkan kepala,”Kalau begitu bulan ini kamu tidak usah bayar penuh! Cukup 20ribu saja!”

“Makasih, Bang!” ujar Minah seraya memberikan selembar 20ribu pada Bang Ramon.

“Tapi ingat, bulan depan kau harus bayar 80ribu!”

Minah mengangguk perlahan. Dia tidak percaya Bang Ramon mau melepaskannya begitu saja. Setelah, Bang Ramon beralih ke pedagang lain, Minah mengangkat keranjang sayurannya dan melangkah pergi meninggalkan pasar.

“Mba!” sapa Rizan, pemuda pasar pedagang gorengan yang letakanya di pintu keluar pasar.

Minah menoleh.

“Kok bisa ngutang sama Bang Ramon?”.

“Kang Fauzan lagi sakit,” ujar Minah setengah lelah harus menerima kenyataan sekarang suaminya ada di rumah sakit.

“Oh, cepet sembuh atuh yah!”

“Hari ini saya jualannya baru habis separuh, cuma dapat 150. Kalau boleh saya pinjam…”

“Saya lagi nggak pegang uang. Coba pinjam Pak Solihin!”

Minah melirik Solihin, pria 60an yang masih tampak sehat. Minah melangkah dengan berat menghampiri Solihin. Solihin tampak sedang berbincang dengan anaknya, Maman. Minah menghentikan langkahnya, begitu mendengar Maman kecewa harus menunda melamar kekasihnya karena Solihin belum ada uang untuk menikahkannya. Minah terngiang peringatan suaminya tadi pagi, jangan berhutang!

Tiba-tiba tepukan tangan ramah jatuh dibahu Minah. Minah berpaling, Omah berdiri di hadapannya.

“Baru hari ini jualan lagi, kok malah pulang cepat?” tanya Omah dengan wajah khawatir.

Minah terdiam, menatap Omah. Sejak pertama kali datang ke Jakarta, Omah adalah orang yang paling sering menolong Minah dan keluarganya. Dari mulai menumpang di rumah Omah, sampai dibantu mencarikan tempat berjualan di pasar. Minah tidak bisa berpikir panjang lagi, ucapan kata ‘pinjam’ sudah ada di ujung lidahnya.

Tiba-tiba Omah berkata, “Minah, anak saya masuk rumah sakit kena DBD. Hari ini sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi saya bingung gimana caranya bayar rumah sakit. Saya tahu orangtua kamu baru saja meninggal. Kamu pasti nggak pegang uang. Tapi kalau bisa sedikit saja ….”

Minah terdiam, di hadapannya Omah terlihat tidak berdaya. Dari kejauhan, tampak Azam dan Isna yang masih berpakaian seragam sekolah berlari mendekati Minah dengan semangat.

Selesai.


Wednesday, 9 December 2015

Monster

Semua orang bilang anakku seorang monster. Matanya terlihat tajam kalau menatap. Tampak seperti selalu curiga. Tangannya kasar, bisa membuat tangan orang lain remuk ketika bersalaman. Langkahnya berat, seolah ada seekor godzila sedang berjalan. Tapi Aku tidak percaya begitu saja. Aku tahu siapa anakku, bocah lanang yang memiliki masa depan yang luar biasa.

Aku membesarkannya seorang diri. Istriku pergi dari rumah begitu saja ketika dia belum berusia 6 bulan, alasannya karena dia tidak tahan tinggal dengan seorang monster. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seorang ibu tidak tahan dengan anaknya kandungnya. Dia belum pernah sekalipun meninabobokannya. 'Suaranya tangisnya terlalu keras, seperti suaramu!', kata Istriku setiap mendengar tangisannya. Semua bayi pasti akan menangis keras, dikarenakan mereka kaget melihat dunia yang kejam. Bagiku tangisannya adalah tangisan teriakan semangat tiba di dunia. Teriakan semangat untuk mengubah dunia.

Aku tidak mau anakku berubah menjadi monster seperti yang mereka bilang. Aku memilih untuk mengajarnya seorang diri, ketimbang memasukkannya ke sekolah umum. Sekolah dengan orang kebanyakan, menerima ilmu dari orang lain yang tidak kau ketahui latar belakangnya. Aku pernah mendengar cerita seorang guru alim yang bijaksana, tapi ternyata meniduri anak kandungnya sendiri. Aku juga tidak suka bagaimana perilaku anak-anak yang bersekolah di sekolah umum, menularkan sifat-sifat buruk, iri, dengki, saling curiga dan cemburu. Belum lagi jika anak-anak itu menurunkan sifat-sifat dan perilaku orangtuanya di rumah, orang-orang yang ternyata bukan orang yang pantas untuk membesarkan anak. Orang-orang yang egois, memiliki anak hanya karena akibat dari keinginan untuk bisa berhubungan badan secara sah.

Lantas aku atur jadwal tumbuh kembang anakku. Aku siapkan semuanya yang terbaik, makanan, minuman, pakaian, buku-buku dan alat-alat penunjuang rasa keingintahuannya. Aku ingin anakku mendapatkan yang terbaik. Setiap pagi, aku ajak anakku olahraga, 100 kali push-up, 100 kali sit-up, 100 putaran lari keliling lapangan bola. Mungkin terdengar berat, tapi sejak kecil aku biasakan dia tidak menyerah. Setiap kali dia mengeluh 'Ayah aku tidak sanggup lagi'. Aku pecut dia, setiap kali keluhannya. Hasilnya sekarang, badannya sudah hampir melebihiku, padahal usianya baru 12 tahun. Itu semua karena aku tidak lupa memberikannya makanan dan minuman yang bergizi. 2 liter susu, 10kg daging, 10 macam sayuran, 10 macam buah setiap pagi.

Bukan hanya dari fisiknya yang tinggi, tegap dan kekar, tapi kemampuannya menganalisa sudah melebihi Vladimir Putin. Aku ajarkan dia semua ilmu yang ada di dunia ini, dari aljabar sampai filsafat Aristoteles. Waktu umurnya 6 tahun, aku sudah melatihnya untuk membuktikan rumus E = M C2, Einstein. Bukan hal yang mudah, aku harus mengurungnya di kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin ratusan kali, sampai akhirnya dia mampu melakukanya.

Bulan depan usianya 21, dia sudah bisa masuk ke dalam pemerintahan. Dengan bekal pengajaran militer yang aku terapkan sejak kecil, umur 15 dia sudah lulus akademi tentara dan umur 18 dia sudah terpilih menjadi jendral. Sekarang aku sudah bisa berbalik mentertawakan semua orang yang mengatakan bahwa anakku adalah seorang monster.

Anakku terpilih menjadi presiden termuda yang pernah ada. Dengan kemampuannya menganalisa dan mempimpin pasukan, tidak ada orang yang tidak tunduk padanya. Negara aman dari ancaman negara luar. Negara aman dari rayap pemberontakan yang tidak tahu diri. Negara aman dari siapapun yang ingin berkuasa atas keegoisan dan nafsu untuk menang sendiri. Setiap ancaman yang muncul selalu bisa diatasinya. Semua orang yang menentangnya berakhir di tiang gantung.

Suatu ketika, dia datang kepadaku. Dia memohon ijinku untuk menikahi seseorang. Aku kaget, tertegun untuk beberapa saat. Aku merasa tidak pernah mengajarkannya untuk jatuh cinta. Seperti pengalamanku sebelumnya, aku tidak percaya tentang cinta. Cinta yang membuatku harus mengurus anakku seorang diri, ditengah ejekkan orang lain. Seketika itu pula aku berkata tidak. Tapi ajaranku untuk gigih dan tidak menyerah membuatnya datang berkali-kali kepadaku, meminta ijin untuk bisa menikah. Dan berkali-kali itu pula aku memecut dan melarangnya untuk menikah.

'Sejak kecil aku membiarkan diri mengikutimu. Hidup denganmu. Tidak ada satupun hal yang aku tentang. Maka sekali lagi aku memohon ijinmu untuk menikahi gadis yang aku cinta', katanya.

'Tidak', jawabku singkat.

'Kenapa?', tanyanya.

'Kamu tahu betapa mereka meremehkan kamu. Betapa mereka menganggap kamu seorang monster. Tidak ada satupun orang yang akan dengan tulus mencintai kamu. Mereka hanya ingin menjatuhkan kamu dengan fantasi cinta'

Dalam sekejap, dia mengambil belati jendralnya dan menusukkannya tepat ke jantungku. Dia lalu berkata 'kamu adalah seorang monster'.

-tamat-

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More