Another Templates

Friday, 26 February 2010

Dua Anak Lain

Sarat

Menjadi saudara kembar sangat menyebalkan. Kecantikannya membuatku menjadi si 'Beast' yang dianggap selalu menunggu datangnya seorang 'Belle'. Tinggal sendirian di rumah besar tidak terurus, benar-benar mengukuhkan bahwa aku seorang yang terkutuk. Seluruh keluarga menyelamatiku ketika surat wasiat ayah bertuliskan aku sebagai pewaris seluruh "istana" beserta isinya. Tapi semuanya kosong dan entah kenapa aku berdiri di rumah ini sendirian.

Dia memilih pergi menggunakan kecantikannya beranjangsana mencari yang dia cari. Bukan iri, karena aku memiliki seluruh wasiat ini, tapi aku benci padanya. Aku satu-satunya keluarga yang dia punya. Tidak sekalipun dia membantuku mengurus rumah ini. Rumah rongsok berisi seribu jam.

Ayah adalah kolektor jam terhebat di dunia. Salah satu jam kecil yang tergantung pada sebuah rantai kalung, dihargai seharga satu pulai kecil di Riau oleh seseorang pengusaha minyak dari Arab. Ayah bahkan rela tertimpa reruntuhan jaman di dalam pyramid Mesir demi mendapatkan sebuah jam matahari yang sekarang teronggok diam di sebuah museum pyramid di Inggris.

'Passion adalah uang', kata ayahku ketika dia pamit berangkat untuk menyelami atlantik mencari sebuah jam yang katanya bisa mengeluarkan Poisedon. Omong kosong, ayah kembali dalam surat wasiat.

Rumah ini berisik. Bunyi tik-tok, membuat mataku berkantung menghitam. Hanya satu dari sekian banyak, tidak berbunyi, malah menunjukan waktu yang berbeda. Kadang pukul 6:00 Meksiko, tiga jam kemudian pukul 8:00 waktu Sao paolo, tiga belas jam kemudian pukul 21:00 waktu sanghai. Rusak! Aku kesal semua menanyakan ada apa dengan jam itu. Jam dinding segienam sekarang tersimpan dalam sebuah ember penuh cucian. Aku takut jam itu mengeluarkan Poisedon. Jam yang tidak berguna dalam rumah tak berguna dengan saudara yang tak berguna, sebentar lagi aku yang tak berguna.

Rasa

Aku sayang padanya. Aku sayang ayah. Tapi passionku adalah berkelana mengajarkan alfabet pada anak-anak itu. ‘uang akan datang pada passion’, kata ayahku ketika berhasil menjual jam kalung pada sepasang suami istri pemilik perkebunan coklat di Swiss. Pengusaha minyak yang sebelumnya menawar dengan harga mahal bangkrut secara tiba-tiba ketika Amerika mengirimkan pasukannya ke Afganistan. Suami istri pengusaha coklat itu kini tak berhenti mengirimkan laba hasil penjualan coklat mereka ke rekening ayah. Tapi berhenti sejak ayah tidak kembali.

Sudah berkali-kali aku mencoba untuk tidak mengguruinya, agar dia mau pergi keluar mengamalkan ilmunya. Karena orang melihat ilmu bukan kecantikan. Tapi dia lebih memilih berteori mencari fungsi distribusi baru untuk mendapatkan sebuah nobel. Dia berdiam di rumah dan membaca berita bahwa nobel itu baru saja diberikan pada seorang anak jenius dari China. Baru pertama kali aku mendengarnya terisak.

Aku langsung mengambil penerbangan pertama dari Chile ke Jakarta. Hal yang pertama diucapkannya adalah ‘untuk apa kau pulang?’. Aku diam dan merapikan rumah dari debu. ‘kenapa kamu gak mau ikut aku pergi sih?’

‘untuk apa? Memainkan drama beauty and the beast untuk anak-anak itu?’

Aku ingat ketika masih TK. Dia berperan jadi Beast karena tubuhnya yang besar dan bentuk mukanya yang sedikit aneh dan hanya dengan sebuah baju terusan berwarna kuning, aku dipilih menjadi Belle. Sejak saat itu, kami selalu dibeda-bedakan, padahal kami lahir dari rahim yang sama. Rahim seorang ibu yang merelakan dirinya demi kami berdua. Sedetik setelah dia melihat dokter yang dahinya berkerut, aku lahir membuat kekaguman.

‘paling-paling cuma jadi pengangkat barang!’, sahutnya. Aku perhatikan perlahan-lahan semua jam di rumah ini habis terjual. ‘aku mau menjual rumah ini, lumayan untuk sampai akhir hidup’, katanya lagi. Aku memang seorang sukarelawan yang hidup dari rasa dermawan orang lain. Tapi aku masih sanggup membantunya, mengirimnya uang bulanan agar dia tidak menjual rumah ini.

‘kenapa kamu simpan jam ini di ember!’, kataku mengambil sebuah jam dari tumpukan cucian bersih. ‘jam sinting, fungsi angka yang random!’, katanya sambil menatap sebuah deret angka. Di hadapannya ada dua buah komputer menyala dengan lagu klasik dan grafik aneh.

Dalam surat wasiat ayah ada satu jam yang harus dibagi berdua. Sudah lima tahun jam ini aku berikan padanya, malah terdampar di ember. Aku amati jarum jamnya, jarum menit, jarum detik, dan suara gerigi di dalamnya. Aku buka bagian belakangnya. Aku selalu ingin tahu mengapa ayah tertarik dengan bunyi-bunyi benda ini. Melihatnya ternyata membuatku terkejut dan menangis.

Ayah memberikan kami deposito yang sangat besar. Jam aneh itu selalu berhenti pada pukul 7 selama satu jam. Sandi adalah salah satu kegemaran ayah yang lain, tapi dia ataupun aku tidak pernah memikirkannya. 71 adalah nomor deposito brankas. Dia memelukku menangis dan meminta maaf.

Selesai.

ilma f

27-feb-2010, jakarta

(Respon untuk http://janjijumat.wordpress.com topik 26 feb 2010)

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More