Another Templates

Saturday, 25 December 2010

Bunga Matahari

Cila menari mengikuti gerakan arabesque angin semilir di sekitarnya. Kupu-kupu yang berwarna-warni berterbangan memutari kepala Cila yang tertutup topi rotan yang lebar. Ini kali pertamanya pergi memetik bunga matahari, bunga yang sama tinggi dengan badannya.

Tiba-tiba berdiri seorang pria tinggi besar menutupi matahari yang selama ini menjadi penerang hidupnya. Pria itu tampak tersenyum, tapi tidak bagi Cila yang hanya bisa melihat bayangan hitam.

Para angin lari menusuk tengkuknya yang mungil. Cila berlari tanpa tahu kenapa. Pria itu mengejarnya dengan kata sayang. Cila terjerembab dalam ladang bunga matahari yang sepi. Pria itu menahan pundak Cila yang kecil. Cila berteriak kencang sekali.

Pria itu benar-benar menutup siang. Pria itu tidak peduli dan merusak bunga matahari dalam genggaman Cila.

Topi rotannya melayang membubarkan para kupu-kupu yang menghilang di balik kepakan sayap burung gagak yang hadir menutup erangan Cila. Pergelangan tangannya memerah. Sepatunya terlepas. Matanya terpejam sakit. Cila membuka mulutnya dengan sekuat tenaga. Suaranya tidak keluar sama sekali.

***

“Sayang-sayang, tenang sayang, mama disini”, seorang wanita dengan mata merah dan berkantung ditambah jejak air mata yang mengering di pipinya, memeluk seorang anak kecil berusia delapan tahun dengan dekapan kesedihan dan penyesalan.

Anak kecil itu mengerang terbangun dari mimpi buruk tanpa henti dalam pelukan seorang wanita yang tidak berdaya memutar waktu dan masih terus berharap telah menceraikan suaminya lebih cepat.

tamat


note:

Taken from,
http://flashfiction.ubudwritersfestival.com/2010/08/bunga-matahari/

sebetulnya kalau short stories atau flash fiction ada di blog satu lagi, tapi mulai tahun depan mau pindah ke sini ah... ^_^...

2 comments:

wew... baru tahu teh ternyata bakat nulis hehe

1 % bakat, 99% latihan smangat!!!! hehehe

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More