Another Templates

Monday, 26 December 2011

animation - the kite

Script title: The Kite
Genre: Animation
Duration: 2-5 minute
Main role: 1
Log line: Give up means when the result is succeed
Short synopsis:

A boy stood still with his new kite in his backyard. He tried to fly a kite without the help of his father. But it turns out it's hard to fly a kite. Various ways he tried, using a stick, threw the kite up high, he still failed. But he did not give up. A minute later, he notices the wind direction. He tried flying his kite once again and it’s worked!

But NOOOOOO!

The wind was too strong. He could not hold his kite and then it was out of his grasp and flew in the wind. The boy stood still as the winds start shook his sweaty hair.

Contact information.
ilma fath

Sunday, 4 December 2011

The Labyrinth City

Ext. Beautiful Village. Morning

A dark mist slowly fade away opened up small village with brown simply house surrounded by park and green yard. Sunlight glimpse out the mist and lighten the city.

Int. Bold Room. Morning

Bold (25) stand still in front of the window. His eyes was starring the window he buttoned up his shirt sleeves. He was dressed neatly as a person wants to go to work.

                    Bold (v.o)
               There's a city, a forbidden city

Still staring at the crowd that occurred on the street outside his bedroom window, Bold took his old brown coat and wear it.

                    Bold (v.o)
               The town is if you go into it, you'll never get out.


Bold move to a table next to the window and took a pen and then kept the pen on a piece of paper with the words 'Good bye'.


                    Bold (v.o)
              But once you find a way out, you will find life.  


Bold went to the bedroom door. He opened the door and left the room. His old red room filled with a mattress, table and cabinets were remain empty and still.

Ext. Hutan. Morning

Bold panting breath. He ran through a lusty forest. A voice cries from the depths of the forest. Bold glimpse through his right shoulder, then quickly stared ahead and kept running through every bushes and twigs on his way. He cut a twig that suddenly appear on his face with his arm. The flakes of broken twigs scratch his cheek to bleed. Bold kept running until he reached the edge of the forest. Bold refrained from falling. Bold bowed, his hands are in his knee. As sweat ran down his scared cheeks, he looked at a city.Tall buildings, train whistle that runs through the fog toward the city. High bridges, thick smoke.

Bold
stared the forest behind him. But then he started ran.


Ext. Grassland. Morning

The wind moved every strand of his hair. Bold ran desperately approached the main gate.

The gate of
a forbidden city.

The labyrinth City.


Ext. Labyrinth City. Afternoon


...tbc...


ilma_ff@yahoo.

Monday, 28 November 2011

my bumblebee


You know, recently I've been so friendly with my car. He's (consider it's a he :p) quite useful and very helpful. Yet sometimes I wish he's alive (T_T ) as a pet or something.

I don't have an automatic garage door. Every time I'm home, I have to stop my car first then open it. At late night, after I opened the garage door, I stare at him. I snap on my thigh. I whispering to him to get his feet off and get into the garage. As a master dog to her dog. As Sam to his bumblebee.

A minute latter, it's still a car.

As I feel tired, I went inside the car and parked it into the garage. I shut the car light off, close the door then forget about it can be alive.

It just another tired late night.

Friday, 11 November 2011

Anak Tentara



Kupingnya merah. Abdul berjalan terseret, akibat kupingnya yang ditarik kencang. Dia menggaruk kakinya yang terluka sambil mengaduh kesakitan. Kali ini Abdul memang sudah keterlaluan. Dia memecahkan kaca rumah tetangganya, hingga siempunya rumah, Pak Acong, yang juga majikan ayahnya pingsan dan sekarang koma di rumah sakit.

Bapak Abdul yang ikut mengantarkan ke rumah sakit, hanya bisa berulang kali meminta maaf. Dia pun berjanji akan menghukum Abdul dengan hukuman yang seberat-beratnya. Baginya tidak mudah memberikan hukuman untuk Abdul. Bukan karena tidak tega, tetapi karena sudah terlalu banyak jenis hukuman yang pernah diberikan pada Abdul.

Pernah suatu kali Abdul tidak sengaja menyenggol temannya ketika sedang bermain di tepi sungai komplek perumahannya hingga hanyut terbawa arus. Pak RT dan masyarakat sekitar, heboh berlari menyusuri sungai yang mengalir deras demi mengejar anak hanyut tersebut. Abdul pun ikut bertanggungjawab. Walau berlari paling belakang dia tidak kabur. Sambil berlari, Abdul malah menikmati dan kagum melihat pemandangan yang menegangkan itu. Menurutnya apa yang terjadi pada temannya itu adalah petualangan yang amat seru.

Beberapa jam berlalu, segala percobaan untuk menolong anak hanyut itu sudah dilakukan, tapi tetap tidak berhasil. Stasiun TV mulai heboh memberitakan sekelompok warga yang berusaha mengejar seorang anak hanyut. Tapi entah mengapa, hujan deras dan arus sungai yang meluap, rumah-rumah bantaran kali itupun tidak sanggup menahan laju sang anak hanyut. Mereka pun berhenti berlari dan menangisi teriakan anak hanyut yang semakin menjauh.

Malam harinya, ketika warga sibuk menyiapkan pemakaman sang anak hanyut, Abdul disuruh tidur dalam ember besar berisi air sungai oleh bapaknya. Beberapa saat kemudian, Bapak Abdul menyuruhnya keluar dari ember karena melihat Abdul yang malah menikmati hukuman itu. Pagi harinya dia terbangun dari tidurnya bukan akibat tangannya dan kakinya yang gatal dan keriput tapi karena pantatnya yang merah bekas di’sabuk’.

Walau bandel, Abdul adalah anak yang bertanggungjawab. Dia mau mengakui kesalahannya dan rela dihukum tanpa perlawanan. Dia pun berusaha menyusuri sungai untuk mencari si anak hanyut. Abdul tiba di pasar ikan utara Jakarta, sendiran bertualang dengan supir angkot. Benar saja Abdul menemukan si anak hanyut sedang mengangkut ikan, membantu para nelayan. Ternyata si anak hanyut terjaring para nelayan priok.

Tapi kali ini lain, Abdul yang sedang dipukul pantatnya oleh emaknya berkali-kali berteriak bahwa bukan dia yang memecahkan kaca rumah tetangganya. Dia tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan orang lain.

Tapi karena tidak mau dianggap sebagai bapak yang buruk, bapak Abdul terpaksa memutuskan untuk tidak percaya pada Abdul. Kemudian dia menarik Abdul ke tengah lapangan kompleknya lalu mengikatnya di sebuah pohon.

Abdul berontak. Sekuat tenaga dia melawan bapaknya. Abdul mengeluarkan jurus-jurus silat yang didapat dari sekolahnya. Abdul membayangkan bahwa dia dan bapaknya sedang melakukan pertarungan silat yang amat keren. Pada kenyataannya, Abdul dan Bapaknya telah menjadi tontonan warga karena sibuk bergulat di tengah lapangan coklat. Pak RT yang baru tiba dari rumah sakit pun langsung melerai mereka di tengah warga yang berkerumun.

“Bukan aku yang mecahin kaca!” teriak Abdul kesal. Begitu dia melihat kesekeliling, teman-teman SD yang tadi bermain bersamanya, hanya mampu memperhatikan Abdul dengan tatapan mengejek.

“Jadi siapa? Cuma kamu yang ada disitu! Bapak nggak pernah ngajarin kamu berbohong!” teriak bapaknya sambil mencoba menarik Abdul.

Abdul bersembunyi di balik pohon dan kemudian dengan cepat berada di atas pohon. Pak RT melihat keatas pohon dan bertanya “Bener bukan kamu?”

Abdul mengangguk.

“Jadi siapa?” tanya Pak RT.

Abdul melihat sekeliling dari atas pohon. Dia tidak menemukan siapapun. Yang dia ingat hanya satu dan kemudian dia menjawab, ”Anak tentara!”

Karena anak tentara, berarti ayahnya adalah tentara. Bapak Abdul tidak berani menantang seorang tentara, tentu saja, karena dia hanya seorang supir yang majikannya sedang koma di rumah sakit. Bapaknya tidak habis pikir mengapa dari sekian banyak anak kecil di daerahnya, anak dokter, anak pengusaha, anak guru, anak mentri, anak orang biasa saja sampai anak supir yaitu Abdul, bisa-bisanya Abdul menuduh seorang anak tentara. Antara percaya dan tidak percaya dia terpaksa meminta Abdul untuk membuktikannya.

Abdul berdiri di depan gerbang komplek rumahnya, sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk menemui si anak tentara. Sejenak Abdul memperhatikan komplek perumahannya yang ternyata jika dilihat dengan kepala miring, perumahan tempat Abdul tinggal amat sangat menarik. Dari depan komplek terlihat bangunan rumah besar tingkat dua bak istana bertumpuk dengan rumah reot yang berada berterasering dengan lapangan dan hutan yang menyeramkan karena diikat oleh kabel-kabel listrik yang tidak ada gunanya karena tidak terlihat tiang listriknya. Kemudian dia bersin. Karena sebuah mobil jaguar melintas dibelakangnya dan menyemprotkan debu. Tapi begitu dia menoleh yang ada hanyalah sebuah mobil pickup tua yang baru saja parkir. Abdul kesal, lalu menendang sebuah kerikil ke arah mobil itu. Bukan kena mobilnya, kerikil itu mengenai Bapak Abdul yang ternyata turun dari kursi supir mobil itu. Abdul melebarkan kedua matanya terkejut. Belum sempat Bapaknya membersihkan debu yang mengenai celananya, Abdul lari terbirit-birit masuk ke dalam komplek.

Di sebuah tikungan kecil, Abdul memegang kedua lututnya dan merunduk terengah-engah karena lelah berlari. Dia merapihkan rambut tipis di kepalanya yang botak lalu berjalan layaknya polisi criminal mendatangi rumah anak tentara.

Abdul pun menginterogasi anak tentara itu. Selama 8 jam mereka berbincang. Dari mulai pertanyaan yang berhubungan dengan kejadian itu sampai ke hobi dan film kegemaran. Ternyata anak tentara itu baru pindah dari Bogor, karenanya Abdul belum pernah bertemu dengannya di sekolah. Tanpa diduga, banyak kesamaan antara Abdul dan anak tentara itu. Abdul sempat berpikir untuk mengajaknya bermain, ‘pasti sangat seru’. Tapi kemudian dia memperhatikan postur anak tentara itu. Tinggi dan potongan rambut anak tentara itu mengingatkan pada seseorang yang bisa membuatnya sengsara. Akhirnya Abdul tetap menetapkan dia sebagai seorang tersangka.

Karena anak tentara, ayahnya kemudian menghukumnya dengan cara seorang tentara. Dia berteriak kesakitan dan membuat Abdul teringat akan rasa sakitnya itu. Abdul meringis kesakitan juga, tapi dia tidak bisa menghentikannya karena dia tidak mau dipukuli juga.

Tapi anak tentara itu memang benar-benar anak seorang tentara. Dia berani dan mampu berkata tidak. Anak tentara itu menjelaskan bahwa dia tidak keluar rumah saat Abdul berada di atap rumah Pak Acong. Dia juga menjelaskan bahwa sebagai anak tentara dia tidak akan berbohong. Dia kemudian menatap ayahnya dan berkata, “Mengapa selalu anak tentara yang disalahkan?”

Ayahnya tiba-tiba terpaku. Dia mengerti apa yang diucapkan anaknya, karena dia pun pernah menjadi tersangka pada saat dia tidak bersalah. Ayah anak tentara itu menatap Abdul tajam. Abdul melebarkan matanya ketakutan. Cara terakhir membuktikan bahwa anak tentara itu memang yang bersalah adalah dengan melakukan rekonstruksi kejadian.

Setelah Pak RT, Bapak dan Emak Abdul, dan beberapa warga berkumpul, Abdul naik ke atap rumah Pak Acong. Anak tentara itu diminta untuk melakukan apa yang telah dia lakukan. Anak tentara itu tiba-tiba duduk di rumput lalu merebahkan badannya dan tertidur.

“Hei! Kok tidur!” Abdul bertanya pada anak tentara.

“Karena kemarin saat kamu sedang ada di atas situ, aku sedang tidur!” Anak tentara itu melihat ayahnya. Ayahnya mengangguk mengerti dan percaya pada anaknya.

Abdul terhenyak, dalam hatinya dia membenarkan bahwa berarti Anak tentara itu memang bukan pelakunya. Bapak Abdul pun meminta maaf atas kejadian dan kehebohan yang disebabkan oleh Abdul. Dia berjanji akan benar-benar menghukum Abdul.

Malam itu Abdul tidur terikat di atas pohon. Sebenarnya dia tidak terlalu menyesal dihukum seperti itu. Karena baginya tinggal di atas pohon sangat mengasikkan. Kemudian dia menganggap dirinya sebagai Tarzan yang sedang bermain ikat-ikatan dengan monyetnya.

Lelah. Abdul pun mulai tertidur. Dia benar-benar tidak ingat bahwa dia bersalah atau tidak.

***

Terdengar suara monyet berisik membuat Abdul terbangun. Ternyata dia masih bermimpi menjadi Tarzan. Suara berisik itu hanyalah suara perutnya yang lapar. Dari balik daun dan embun, Abdul melihat sebuah mobil tiba di depan rumah Pak Acong.

Di bantu istrinya, Pak Acong turun dari mobil. Sakit yang diderita Pak Acong tidak terlalu parah. Dalam waktu semalam Pak Acong sadar dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sebenarnya, selain karena kaca yang mengenai jidatnya, Pak Acong koma setelah melihat laporan keuangan toko elektroniknya yang bangkrut di tipu orang maya. Pak Acong dan istrinya masuk ke dalam rumahnya. Dari mobilnya kemudian turun anaknya Pak Acong, si anak hanyut. Si anak hanyut berjalan masuk ke dalam rumah membawa banyak barang dengan memakai baju tentara.

Abdul melebarkan matanya dan teringat bahwa saat Abdul berada di atas atap rumah Pak Acong mengejar layangan, kepalanya terantuk batu. Dia mengingat semuanya. Tiba-tiba Abdul yang terikat di atas pohon menggeliat panik. Celananya penuh dengan semut merah.

Tamat.

Tuesday, 18 October 2011

Orang Aceh

Kemarin malam aku bertemu dengan orang Aceh. Belum juga masuk ke dalam warung mie acehnya, si bapak juru masak yang sedang duduk di depan dapurnya tersenyum melihatku berjalan.

"Mau pesen apa dik?" tanyanya kemudian.

Setelah aku pesan satu nasi goreng padanya, dia langsung bergegas masuk ke dapur. Pria lebih muda di sebelahnya langsung menanyakan minum dan mempersilahkan duduk. Ada seorang pelanggan lagi masuk, mereka tetap menyambutnya ramah.

***

Ternyata orang aceh itu ramah-ramah! Siapa bilang? Buktinya bapak itu ramah. Tapi kan belum tentu semua orang aceh ramah hanya karena bapak itu ramah! Tapi setidaknya dia berhasil menunjukkan bahwa orang aceh itu ramah padaku! Gimana kalau kamu pernah tidak ramah pada orang lain? Kenapa kalau begitu? Nanti orang lain itu merasa semua orang indonesia tidak ramah, padahal belum tentu semua orang Indonesia itu tidak ramah, hanya karena kamu tidak ramah! Ya ... gampang, makanya aku harus ramah juga.

Monday, 17 October 2011

Merah jambu

Sepanjang jalan ini tidak ada yang memperhatikannya. Mulai dari ranting coklat kecilnya yang tertanam, tidak ada yang melihatnya. Pelan-pelan daunnya berubah warna, hijau tua, tetap tidak ada yang meliriknya. Kemudian satu persatu kuncup ungunya muncul. Dan beberapa hari kemudian, puff, puff, puff. Tiba-tiba jalan bebas hambatan yang berpuluh kilometer itu berubah imut, seperti pipi putih anak perempuan kecil yang memerah malu.

Merah jambu.

Jalan bebas hambatan yang dibenci itu, pernah secantik merah jambu oleh karenanya.

Sunday, 16 October 2011

Curhatnya orang betawi

Buah duku, buah durian
Beli buah mahal sekali
Tidak ada yang mengira sudah di tepian
Akibat selalu bermimpi berkali-kali

Sarung batak asalnya tenun
Memakai baju bukan pilihan
Bilamana dunia bisa tekun
Akhirnya kaki menapaki pelabuhan

#3
ilma

Saturday, 15 October 2011

Berdiri satu kaki, berdiri dua kaki, berdiri melompat-lompat.


Seorang anak laki-laki kecil berlari dengan kaki tanpa alas di pinggir tepian kali krukut, jakarta selatan. Debu-debu terhempas gembira karena anak itu berlari dengan senyum lebar diwajahnya.

"Aku besok naik mobil!" kata anak itu ditengah kumpulan teman-teman sebayanya.

Spontan dia langsung menjadi pusat perhatian. Anak itupun bahkan rela membuka bajunya dan langsung berdiri di tepi jalan untuk menjadi anak pertama yang melompat ke dalam kali krukut hari terakhir minggu itu.

Sementara anak-anak lain bersorak panik sekaligus kagum akan keberanian kali pertama anak itu melompat. Dia, dengan satu kali tarikan nafas - sehingga air dihidungnya terhisap - dan sedikit lirikan, langsung melompat sambil berteriak, "NAIK MOBIL!"

Debur kali bersahutan menepuk tiang-tiang bambu rumah reot di pinggir kali krukut, ketika teman-teman anak itu ikut melompat ke dalam kali.

"Kok bisa?" tanya salah seorang temannya saat mereka masih di dalam kali.

"Ibu bilang begitu!"

"Kakak kamu yang udah SD aja nggak pernah diajak? kok kamu bisa?" tanya anak yang lain.

"Abang kan sekolah!"

"Kamu nggak kerja?"

"Ibu bilang mulai besok aku kerja bantuin ibu," kata anak itu sambil keluar dari kali. Badannya yang kurus semakin terlihat kecil dengan air kotor ditubuhnya. Dia berlari, melompat, menuju pulang hingga lupa membawa bajunya yang tertinggal di tepi kali.

Semalaman dia tidak bisa tidur karena terus membayangkan betapa empuknya sebuah kursi mobil, mobil yang selama ini hanya dia lihat dari balik kaca ketika sedang mengintip kaca hitam saat lampu berubah menjadi merah.

Pagi harinya, anak itu bersiap dengan pakaiannya yang paling bagus, baju coklat kotor yang tidak bolong. Dengan semangat dia menggenggam tangan ibunya yang berjalan di tepi jalan paling ramai di Jakarta.

Mereka berdua berdiri di tepi jalan. Sudah satu jam berlalu. Anak itu mulai terasa pegal. Dia angkat kakinya satu, kemudian yang satu lagi, kemudian dia melompat-lompat, agar semangatnya tetap terjaga. Hatinya berdebar riang. Orang-orang yang berdiri sejajar dia dan ibunya bergiliran menaiki mobil yang tiba-tiba keluar menepi dari kemacetan. Dia menunggu gilirannya. Dua jam berlalu. Anak itu melihat ibunya sudah tidak lagi mengangkat tangannya yang dari awal terus menunjukkan dua jarinya ke jalan.

Anak itu menatap ibunya dan mobil-mobil yang sekarang sudah melintas dengan lancar. Tiba-tiba ibunya menarik tangannya.

"Nggak jadi naik mobilnya?" tanya anak itu polos.

"Mungkin besok," jawab ibunya.

Anak itu kemudian mengikuti langkah ibunya. Sedikit terbatuk akibat asap selama dia berdiri. Dalam hatinya dia masih berdebar karena besok masih ada kemungkinan dia bisa naik mobil. Kemudian dia berjalan satu kaki, berjalan dua kaki dan berjalan melompat-lompat.

end.
#2
ilma fathnurfirda

Friday, 14 October 2011

Orang Indonesia

Temanku orang Indonesia dia bekerja di sebuah yayasan perubahan. Hari itu aku duduk di bangku penumpang disampingnya. Dia menyetir mobil tanpa sabuk pengaman dan sedang bersiap untuk belok ke kiri.

Aku kemudian berkata, 'Nggak pakai sen ya?'

'Ke kiri itu boleh belok langsung!'

'Ya tapi orang itu kan jadi nggak tau mau kemana?'

'Motor itu udah ada di tengah, dia tahu kita mau kemana?'

'hah?'

'Biasa kok nggak pakai sen'

'hah?'

'Kalau aku naik motor juga begitu!'

'hah?'

Dan dia adalah orang indonesia yang ingin melakukan perubahan.

#1
ilma

Friday, 30 September 2011

Berani Muncul - Sepintas Lalu

Sepintas Lalu adalah judul salah satu 'jargon' dari salah satu essai mengenai para 'pengusaha' sastra yang ditulis oleh Budi Darma dalam bukunya yang berjudul 'Solilokui'. Dia menerangkan bahwa banyak para pelsaya sastra Indonesia saat itu (sekitar tahun 80an) merupakan para pelsaya sastra yang tidak serius, sepintas lalu. Muncul lalu pergi, mereka melongok sastra sebentar lalu tidur lagi. Seharusnya dengan hardikan keras seperti itu, saat ini industri sastra Indonesia bukan hanya sekedar berlalu, tapi tidak mustahil menyandingi para penulis luar negeri. Namun kenyataannya, penulis sepintas lalu semakin menjamur. Penerbitan buku secara independen bukan hal yang sulit. Blog adalah salah satu penerbit paling digemari saat ini.

Banyak orang berusaha menuliskan apapun dan menganggapnya sebagai suatu seni atau ekspresi atas dirinya sendiri. Tidak sedikit bahkan yang bermimpi menjadi sastrawan dalam sekejap. Jadi, sebenarnya bagus atau tidak, menulis blog? saya sendiri punya beberapa blog, satu blog diari (yang mana tidak begitu penting), satunya lagi adalah dinding tempat saya menempelkan hal-hal yang saya kerjakan (blog ini) dan yang satunya lagi adalah tempat saya berbagi ilmu yang saya dapat (belajar menulis). Awalnya hanya berniat untuk membiarkan orang untuk bisa 'membaca' diri saya yang apa adanya. Tapi kemudian Bpk Dachyar M, seorang dosen UI, menyadarkan saya tentang blog, bahwa blog merupakan media untuk marketing diri sendiri. Betul, tidak sedikit orang menghubungi saya akibat dari blog yang saya tulis.

Tapi beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya, seorang penulis naskah layar berkata bahwa kita sebaiknya tidak menyimpan tulisan di dunia maya, blog, twitter, facebook dan lainnya. Menurutnya hal itu akan memperlihatkan kelemahan kita. Dan ini akan mempengaruhi hubungan pekerjaan kita. Salah satu penulis naskah layar terkenal, Ryan Murphy menuliskan dialog yang paling bisa dijadikan kuotation. Salah satu dialog yang dia tulis yang paling saya ingat adalah pada serial Glee, dialog tersebut:

'you will never become a star or take a lead, if you never play it' - idina menzel.

atau pernyataan Confucius sebagai berikut:

"If a man takes no thought about what is distant,
he will find sorrow near at hand. He who will not worry
about what is far off will soon find something worse
than worry."

Kalau kita rasa tulisan kita buruk dan tidak pernah kita ungkapkan pada siapapun maka kapan kita tahu bahwa tulisan tersebut buruk? Maka kita tidak akan pernah menjadi apapun. Apakah seorang Hanung Bramantyo takut mengunggah film pendeknya 'apa itu islam' di jejaring YouTube hanya karena takut jika orang lain tidak menyukai karyanya? Dia tidak peduli itu dan karenanya dia muncul menjadi sesuatu yang berbeda.

Dalam buku Solilokui, Budi Darma pun menjelaskan hal ini. Dia memiliki salah seorang teman yang hebat dalam menulis naskah, cerpen, novel dan lainnya. Tapi karena saking hebatnya dia menumpuk naskah-naskahnya itu dalam kamarnya. Baginya selesai menuliskan sebuah naskah adalah cukup dan sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Padahal di sisi lain, naskah bertumpuk di meja editor. Ribuan cerpen membanjiri ruang dewan juri lomba cerpen. Maka sastra bukan lagi sesuatu yang memiliki kreativitas. Karena sastra yang dipelajari hanyalah sastra yang dianggap 'dewa' oleh para seniman sastra yang menganggap dirinya seniman. Akibatnya timbul banyak sastrawan yang tiba-tiba muncul karena lagi-lagi karyanya mengenai cerita masa kecilnya.

Jadi, mana yang benar? Menuliskan sebanyak-banyaknya tulisan di blog atau dikirim ke meja editor? Atau menulis demi kepuasan maya semata? Tidak ada yang bisa dipilih. Karena keduanya tidak memiliki pembelajaran dalam kreativitas. Banyak para penulis merasa dirinya sudah cukup hebat dengan memiliki wawasan, koneksi, pergaulan, formula-formula dan intuisi yang luas. Tapi sedikit dari mereka yang mau dengan rendah hati belajar untuk memperdalam nilai-nilai arti dibalik tulisan yang sebenarnya.

Salah satu guru saya, seorang penulis naskah layar yang terkenal karena dia berhasil mengadaptasi novel menjadi film sukses, pernah berpendapat bahwa seorang Budi Darma adalah penulis yang hebat, karena cerpen-cerpennya begitu sederhana dan begitu saja. Mungkin dia belum bisa melihat Budi Darma lebih jauh pada tulisan-tulisan lainnya, atau saya saja yang belum sempat berdiskusi mengenai cerpen Budi Darma lebih jauh dengannya. Tapi bagi saya, Budi Darma tidak sekedar menuliskan cerpen. Budi Darma menuliskan jauh dari sekedar sastra. Dia menuliskan jiwa yang dia buat dari kehidupannya tapi tetap memiliki jarak. Seorang Budi Darma mampu menuliskan essai yang didasarkan dari hasil pembelajarannya atas karya sastra lainnya. Semuanya tertulis dalam bukunya 'Solilokui'.

Buku itu memang benar-benar berkesan bagi saya (Tenang saja, setelah berhasil merangkum bukunya, pasti nanti akan saya tulis di blog saya). Dewasa ini banyak penulis yang Berani Muncul tapi kemudian mereka tidak belajar, entah tidak sempat, mungkin karena sibuk menadatangani atau mempromosikan bukunya, hingga akhirnya mereka hanya Sepintas Lalu. Saya pun sedang berusaha untuk tetap terus belajar agar berani muncul tetapi tidak sepintas lalu. Walau sama seperti Budi Darma, tulisan ini memang ditulis sepintas lalu.

Thursday, 29 September 2011

Putih

Kilatan layar kaca terpancar dari mata hitamnya. Setiap hari, pada jam yang sama dan pada posisi yang tetap pula dia duduk terpesona dengan apa yang ada di hadapannya. Sebuah serial TV.

Tokoh utamanya adalah gadis lugu yang disukai banyak orang. Gadis itu dan diperankan seorang artis yang paling cantik saat itu. Akibatnya dia semakin amat ingin menjadi lebih cantik karenanya. Setelah menonton serial itu, dia selalu menyisir rambutnya, menggunakan cairan agar kulitnya lebih putih, dan tidak lupa olahraga sebelum tidur agar tubuhnya seramping sang artis.

Episode ke-15, dia benar-benar sudah berubah. Tokoh utamanya adalah seorang yang baik hati dan peduli dengan orang lain. Tapi dia memiliki sifat bertolak belakang. Grumpy, temprament dan selalu menyalahkan orang lain. Bahkan terkadang terkesan menyalak. Sekarang dia berubah, lebih halus, berjalan lebih anggun, bersuara pelan, tertawa menyeringai membuat kesan cute dan menoleh dengan anggun. Awalnya tidak ada yang mau melihatnya karena takut, saat ini kemanapun dia berjalan selalu ada orang yang ingin mendekati dan menyentuhnya.

Diapun berjalan bangga, lalu berkata dalam hati, "Entah kenapa, karakter di film seri itu makin mirip aku, atau aku yang mirip dia…” .

Malam itu adalah episode terakhir. Dia duduk di tempat yang sama, di atas rumput di seberang sebuah jendela yang mengarah ke sebuah tv. Dia menyeringai menggoyangkan ekornya. Bulunya putih bersih akibat rajin menjilat. Cakarnya yang kecil mengusap pipi putihnya. Serial itupun mengakhiri episode terakhirnya dengan tulisan "Terima kasih telah menonton 'Pacarku adalah Rubah berekor Sembilan' ". Dia pun berlari senang karena sekarang tokoh utama di serial tv itu adalah seekor rubah berekor satu. Sama dengan dirinya, Rubah.


untuk janji jumat topik:
“Entah kenapa, karakter di film seri itu makin mirip aku, atau aku yang mirip dia…”
30 september 2011

bagi yang nggak ngerti diharap nonton serial korea yang judulnya "my girlfriend is a gumiho" hhehehe ^_^

Monday, 19 September 2011

New Learn : Photo hunting

1. Yellow Chrysant

Chrysanthemum,

Chrys artinya bagus, anthemon artinya mekar. ^_^. Fotonya diambil saat lagi ikutan halal-bihalal satu RT (rukun tetangga) di Taman Bunga Nusantara, Cipanas, Indonesia.

Terakhir kali ke sana aku masih SD, masih belum sadar kalau ternyata Taman Bunga Nusantara itu bagus banget. Bunganya cantik-cantik, taman prancisnya keren dan taman labirin (Labyrinth Garden) nya super asik! dijamin nyasar kalau nggak beli peta (rp1000).

Title : The Yellow Chrysant
Photographer : oleh ilma f ^_^,
Date : 18 sept 2011,
Place : Taman Bunga Nusantara, Cipanas Indonesia.
Properties : Nikon D3100, F/7,1 , Speed/100, ISO200,

2. Gorilla hates human.


Gorilla,

Gorilla merupakan primata terbesar di dunia. Foto ini di ambil di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Indonesia. Tepatnya di bagian Pusat Primata Schmutzer (Schmutzer Primate Center). Waktu itu bulan puasa. Hunting foto di kebun binatang saat sedang puasa ternyata bukan pilihan yang bijak. ^_^. Karena kebun binatang ragunan itu luassss... banget. Jadi jalan kaki keliling ragunan di musim panas, sudah tentu, haus, hehehe...

Title : The Gorilla
Photographer : oleh ilma f ^_^,
Date : 09 Aug 2011,
Place : Schmutzer Primate Center, Ragunan Zoo, Jakarta, Indonesia.
Properties : Nikon D3100, F/13, Speed/320, ISO3200,






Monday, 22 August 2011

Happy Aniversary

FADE IN:

EXT. HALAMAN DEPAN - NIGHT

Langit gelap tanpa bulan membuat jalanan kompleks terasa semakin gelap. Lampu tiang listrik di depan halaman rumah redup dan sendu menandakan malam yang larut.

Sebuah mobil datang dan masuk ke sebuah rumah tanpa pagar dan berhenti di depan pintu garasi. Sorot lampunya membuat dua lingkaran besar di pintu garasi kemudian mati dan mesin mobil pun mati.

Bram (36), pria berkemeja rapi yang membawa sebuah jas dan 2 tas hitam, satu di jinjing dan satunya lagi terselempang di bahu kanannya, keluar dari pintu supir. Dia berdiri dan menekan tanda kunci pintu pada kunci mobilnya. Dia berjalan menuju teras.

EXT. TERAS - NIGHT

Bram membuka pintu rumah. Ternyata terkunci. Dengan susah payah, karena tangannya sibuk dengan apa yang dipengangnya, Bram merogoh saku celananya mengambil kunci dan membuka pintu rumahnya. Bram masuk ke dalam rumah.

INT. RUANG TAMU - NIGHT

Bram berjalan melewati ruang tamu yang gelap menuju ruang tengah.

INT. RUANG TENGAH - NIGHT

Bram berjalan mengendap melewati ruang tamu dan ruang makan yang gelap. Perlahan Bram membuka pintu sebuah kamar. Seberkas sinar keluar seraya pintu terbuka.

INT. KAMAR - NIGHT

Kamar utama yang luas dan terang. Jam dinding menunjukkan pukul 1:00 dini hari. Kasur besar, king size berada di tengah kamar. Seorang wanita berambut hitam panjang cantik, Ratih (30) sedang tertidur pulas.

Bram melepaskan dua tasnya, menyimpannya di depan lemari pakaian. Dia lalu mengantung jasnya di balik pintu. Bram menutup pintu kamar lalu berbalik. Dia berjalan menuju Ratih sambil membuka kancing lengan baju dan melonggarkan dasinya. Bram mendekati Ratih dan tersenyum lalu mencium kening Ratih.

Ratih tidak bergeming.

Bram kemudian pergi ke kamar mandi.

Ratih masih tidak bergeming. Ratih sama sekali tidak merespon suara kesibukan Bram berganti baju dan bersiap tidur.

Bram yang berpakaian piyama mematikan lampu lalu duduk di tepi kasur di sisi bersebelahan dengan Ratih dan mulai merebahkan badan.

Tiba-tiba Ratih terbangun dan berdiri. Bram mengerenyitkan dahi melihat Ratih berjalan dalam kegelapan menuju saklar lampu dan menyalakannya.

Ruangan yang tadinya gelap menjadi terang.

Ratih kemudian kembali ke tempat tidur tanpa menatap Bram.

Bram duduk di tepi kasur. Dia menatap Ratih dari belakang lalu melirik saklar lampu. Bram bangkit berdiri dan berjalan menuju saklar lampu lalu mematikan lampu.

Ruangan yang tadinya terang menjadi gelap.

Bram kembali ke tempat tidur.

Lagi, Ratih terbangun dan berdiri. Bram mengerenyitkan dahi melihat Ratih berjalan dalam kegelapan menuju saklar lampu dan menyalakannya.

Ruangan yang tadinya gelap menjadi terang.

Ratih kemudian kembali ke tempat tidur tanpa menatap Bram.

Bram menghela nafas lalu kembali bangkit berdiri dan berjalan menuju saklar lampu lalu mematikan lampu.

Ruangan yang tadinya terang menjadi gelap.

Bram kembali ke tempat tidur.

Lagi, Ratih terbangun dan berdiri berjalan dalam kegelapan menuju saklar lampu. Kali ini dengan wajah lelah dan kesal, Bram mengikuti Ratih. Ratih menekan lampu kamarnya kembali menyala.

Ruangan yang tadinya gelap menjadi terang.

Bram menarik tangan Ratih dan menatapnya dalam-dalam.

BRAM
Kamu kenapa sih!

Ratih menatap Bram tanpa arti. Ratih melepaskan tangannya dari genggaman Bram. Dia kemudian berjalan mengambil selimut lalu keluar dari kamar. Bram mengikutinya.

INT. RUANG TENGAH - NIGHT

Ratih menyalakan lampu ruang tengah. Ruangan yang tadi gelap menjadi terang. Ratih duduk di sofa lalu menyiapkan selimutnya dan kembali tertidur.

BRAM
Hey!

Ratih merapihkan rambut dan posisi tidur kepalanya, dia tidak memedulikan Bram.
Bram mengusap kepala dan memutar matanya karena tidak percaya. Dia melihat sekeliling ruangan. Lalu matanya terhenti pada ruang makan dan meja makan. Bram menghampiri ruang makan.

INT. RUANG MAKAN - NIGHT

Bram berdiri di tepi meja makan.

Meja makan penuh dengan masakan matang yang sudah dingin. Piring dan gelas tertata rapih di kedua sisi pinggir meja. Dua buah lilin yang sudah sangat pendek meleleh meninggalkan sumbu hitam pendek yang menempel di meja. Di tengah meja terdapat sebuah kue tart bertuliskan ‘happy aniversary’ di bawahnya terdapat gambar hati warna merah besar yang sudah tertusuk pisau besar.

Bram memejamkan mata. Kedua tangannya berada di belakang kepalanya. Dengan langkah gontai, Bram berjalan ke ruang tengah.

END

Note:
dibuat sebagai keisengan di pagi hari, hehe... format lengkap dan benarnya bisa di lihat di

happy aniversary - ilma

Enjoy ^_^

Friday, 8 July 2011

Payung Terakhir

Hatinya berdegup kencang. Kesal. Marah. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Rio berdiri diatas kedua sepatunya yang mulai kekecilan.

Ibunya berjalan keluar kamar membawa tas besar dan sebuah payung terbungkus plastik. ‘Ayo Rio, bantu mama!’. Rio terpaku di sudut ruang makan.

Sebuah kenangan muncul dibenaknya. Saat itu Rio berumur 5 tahun, Dia sangat senang ketika ibunya mengangkat dirinya agar bisa naik di atas sebuah kuda komidi putar. Awalnya hanya mainan komidi putar abang-abang yang sering lewat di depan rumah, tapi kemudian muncul perdebatan Ayahnya yang melarang Rio memiliki kebiasaan jajan dengan Ibunya. Ibunya tidak setuju dengan hal itu, sebenarnya Ibu dan Ayahnya tidak bisa bersatu. Akibatnya Rio berhasil mencicipi komidi putar yang sebenarnya.

Sebuah tangan menarik bahu Rio yang bergetar. Ayah Rio membalikkan badan Rio lalu dia jongkok dihadapan Rio. ‘Mobil sudah Ayah nyalakan, ayo kita pergi’.

Tangannya bergetar memegang pahanya yang perlahan-lahan melangkah mengikuti Ayahnya yang pergi keluar rumah. Rio berdiri di depan teras rumahnya memperhatikan Ayahnya membuka sebuah payung hitam besar dan baru.

Sebuah kenangan lain muncul dibenaknya. Beberapa hari yang lalu Rio bersemangat tidur malam menunggu Ayahnya pulang. Kotak layar berwarna menyorotkan sinar terang, hijau berkilat terpantul pada wajah Rio. Ibunya sudah menyuruhnya tidur, tapi kemudian Ayahnya pulang dan mengunci ibunya di dalam kamar. Ayahnya sudah tidak menyukai ibunya lagi. Akibatnya Rio bisa menonton pertandingan sepak bola luar negeri, berdua, berangkulan bersama Ayahnya.

Langit mulai mendung. Rio yang masih belum mengganti seragam SD nya, berdiri di tepi teras. DIa tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bulan dan Bintang menawarkan malam yang sama padanya. Ayahnya berdiri di depan sebuah mobil yang menderu, sementara Ibunya membuka pintu taksi. Keduanya menatap Rio dan melambaikan tangan pada Rio. Tapi Rio tidak mau melihat malam.

Rio melihat sebuah payung yang tergeletak di sudut teras rumahnya. Payung yang sering mereka gunakan bertiga sehingga mereka merasakan kehangatan karena lebar payung yang tidak begitu besar. Tapi payung itu sudah terlupakan. Ayah dan Ibunya memilih payung yang lain. Rio menatap Ayah dan Ibunya yang berdiri di seberang pagar rumahnya. Hujan turun deras, Ayah dan Ibunya menggunakan payung masing-masing. Tapi Rio memutuskan berjalan di tengah hujan dan meninggalkan payung terakhir.

Tamat.

(synopsis film pendek oleh @ilma_fath)

Friday, 27 May 2011

Granny

Waktu begitu cepat berlalu ketika kau tahu bahwa kau melakukan hal yang salah.

Dia berdiri terdiam di tepi rumahnya. Duduk termangu melihat anak-anak lain bermain apa yang mereka ingin mainkan. Sementara dia, terpaksa mengibaskan rambutnya yang pendek dan tertawa dibawah angin akibat ayunan yang didorong oleh ibunya.

Dia tidak menyalahkan hal itu. Buktinya sekarang dia tumbuh menjadi gadis cantik yang bisa segalanya. Dia bisa melompat, berguling, menginjakkan kaki di pantai, merasa terbang, menjadi badut, super bos, tapi dia merasa tahu segalanya. Segalanya yang dia lakukan adalah salah.

Hatinya yakin itu, karenanya bertahun-tahun dia merencanakan sebuah tindakan. Tindakan untuk keluar dari rumahnya. Sebuah rumah ditengah tebing yang tinggi. Dia mencoba berlari turun, turun, dan turun sekuat tenaga untuk keluar dari menara tebing yang tinggi. Tapi bertahun-tahun itu pula dia kembali naik, naik dan naik kembali ke dasar paling atas tebing itu, rumahnya.

'Aneh', pikirnya. Dia baru sadar bahwa dia dikelilingi menara tebing tinggi yang dikelilingi jalanan berbentuk spiral. Jalanan itu berputar turun lalu berputar kembali ke atas.

'Lantas bagaimana caranya aku bisa keluar'

Kali ini dia pasrah, memutuskan untuk tetap tinggal. Dia melakukan apa saja yang mungkin dia lakukan. Dia mencoba semuanya untuk menemukan apa yang mungkin dia sukai. Ternyata semua itu percuma. Dia bahkan membenci keluarga yang selalu mendukung apa yang dia mau. Baginya, dia perlu petunjuk dan bukan sekedar dukungan. Tapi rambutnya mulai memutih, waktunya semakin terbatas.

Dia terbaring lemah dan berpikir bahwa inilah saatnya. Saatnya untuk Tulang kakinya bergetar hebat ketika dia mencoba berdiri di tepian rumahnya. Dia tidak peduli ada atau tidak orang yang akan melihatnya terjun. Apa yang ada dibawah, apa yang akan terjadi, itulah yang dia ingin lihat dan buktikan.

Granny, gadis tua renta yang merasa tahu segalanya, memutuskan untuk membuktikan bahwa jika dia keluar bukan dari jalan spiral itu, bahwa jika dia melompat dari tebing, hasilnya adalah sama jika dia tetap tinggal dan pasrah. Mati.

oleh
ilma fathnurfirda

untuk
janjijumat - tentang spiral
http://janjijumat.wordpress.com/2011/05/27/janji-jumat-27-mei-2011/

Saturday, 2 April 2011

7 days of sketching..

Harusnya sih 30 hari of sketching, tapii... aheem... sok sibuk nih yeey... maap, baru bisa update bloglagi, di bulan april, T_T tapi bukan berarti pas maret gak buat apa-apa loh (sebenernya cuma corat-coret doang, yah sama aja kaya gak buat apa-apa, >_< maafkan...) jadinya cuma ada 4 gambar wahhahaha... salah satunya udah dibuat di bulan febuari dan jadi ilustrasi salah satu janji jumat di bulan februari (duh ketahuan lagi deh belum nulis janji jumat T_T) ini gambar-gambarnya:

1. wonderswam. ini tuh merupakan imajinasi dari rawa-rawa yang kemungkinan ada di alice in wonderland milik Tim Burton. jadilah sebuah wonderswam. 2. An Apple and a cup of Coffee... ini gambar yang jadi ilustrasi di janji jumat, cek aja previous entry, ^_^ 3. Labyrinth City kalau yang ini pure lagi iseng buat kota, pengennya sih sebuah kota yang kalau kita masuk kita gak bisa keluar karena jalanannya membingungkan, seperti ... sebuah... la bi rin ... (musik seram) :p 4. Layered girl. gambar seorang gadis yang penuh misteri, suka melakukan macam-macam, memiliki sifat yang berubah-ubah (tapi bukan pribadi ganda), memiliki pendirian yang tidak pasti, siapakah dia... hummm...??? @_@

Wednesday, 23 February 2011

An apple and a cup of Coffee


Sunday morning rain has falling.

A song fade out of the air when we were both sat in quiet. Summer breeze has entered the morning. After last night deeply raining wash out the chemistry between me and him. I look right into his eyes. But he only see my long black hair. He was avoiding me.

Silent has broke the morning light. The door glass humming the reflection of my silhouette slim body beside his hard back. The cold was dividing the wind into pieces, falling into our both skin.

The flashbacks are black.

The morning was light. Summarizing the laughs, the giggles, and everything of an ordinary simple taught. We were talking about kids running on the backyard with short pants. I see the dogs are barking when he trying to beat them catching the ball I threw. The leaves were slowly falling down covering the sunlight on our heads.

We were not barely holding hands, but the loudly laugh explained everything. Everything into perfect. The Growing old, the singing songs, eat perfect sweet strawberry cheese cake, fight and hug each other.

But the flashbacks are black.

I love apple and he loves a cup of coffee. Both of them remind still on the table morning as we walk away into opposite directions. It's simple but hurt so bad. The ending can't be change. We're just friends.

---

for janji jumat 25 feb 2011
^_^


Saturday, 29 January 2011

Buku ke 4

Etta meringkuk di pojok kamar sambil menutup kuping. Telepon genggamnya tergeletak di atas kasurnya yang berantakan, berbunyi nyaring disahut dengan ketukkan pintu kamarnya.

‘Etta..!’

Etta melirik ke pintu.

‘Etta… ada mas Endo!’

Etta menarik selimutnya dan meringkuk semakin lekuk bersandar di dinding karena mendengar nama Endo. Endo adalah editor kelima Etta. Sejak ketiga bukunya yang diterbitkan secara indie laku keras, mengalahkan buku trilogy perjalanan anak-anak dengan imajinasi yang baru saja terbit, Etta diserbu belasan editor, menagih deadline buku terbaru Etta.

Buku ketiganya yang berjudul ‘Alisya dan tarian angka biner’ merupakan satu-satunya buku asli Indonesia yang mendapat tempat di sebuah rak toko buku ternama di ‘New york’. Dengan testimony oleh New York Times di cover bukunya, Etta terpaksa menerima Endo sebagai editor tetapnya. Tapi ternyata hal itu hanya semakin memperburuk keadaan. Endo yang diserang ribuan penggemar dan penerbit, harus memaksa Etta menuliskan lanjutan bukunya.

Tapi tidak segampang itu, Etta hanya mampu menulis jika dia memang mampu. Sudah dua tahun para penggemarnya mengirimkan ribuan surat agar Etta melanjutkan tulisannya. Buku pertamanya sudah akan dibeli oleh Universal Studio untuk difilmkan. Mereka memaksa Etta menuliskan buku selanjutnya.

Akhirnya dering teleponnya berhenti. Ketukkan pintunya juga berhenti. Terdengar percakapan ibunya Etta dengan Endo.

‘sabar sajalah.. bilang sama mereka, Etta tidak bias dipaksa’, Ibu

Etta mencoba memberikan pengertian pada Endo.

‘tapi kita sudah kontrak, lagian fans bisa benar-benar melupakan bukunya, kalau lanjutannya belum keluar selama 2 tahun! Susah buat strategi marketingnya lagi!’, jelas Endo panik.

Etta melirik lembaran kertas di atas meja kerjanya. Lembaran kertas itu menumpuk menghalangi huruf-huruf di atas keyboard laptopnya.

Etta menghela nafas. Hening melihat angin datang menghembus jendela kamarnya. Rambutnya gatal karena belum sempat dicuci selama seminggu. Etta terlalu sibuk menghindari permintaan penggemar dan para pencari uang. Etta menjedotkan kepalanya ke dinding berkali-kali. Sudah lama keputusan itu ada dikepalanya. Berhenti menulis, itulah yang paling tepat, membuat semuanya kembali normal.

Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan tekanan seperti ini. Seharusnya semua ini tidak dia lakukan. Etta berdiri merapihkan rambut ikal panjangnya. Dia melihat baju yang dipakainya. Piyama yang sama sejak, sejak… . Dia tidak bisa mengingatnya. Etta melangkah melewati meja kerja dan jendela kamarnya.

Angin berbisik. Etta menoleh keluar jendela tingkat dua kamar tidurnya. Etta melirik kertas-kertas kosong dan laptopnya yang mati.

Tap!

Laptopnya menyala. Etta membuka matanya lebar-lebar. Dia takut kalau dia sudah jadi gila. Tiba-tiba kertas-kertas putih diatas mejanya terbang melayang mengisi ruangan berputar tertiup angin. Etta melihat pintu kamarnya yang masih terkunci lalu kembali memperhatikan apa yang terjadi dikamarnya. Apa aku memiliki sihir seperti harry potter yang menerbangkan surat-surat Hogwarts padanya?, pikir Etta ketakutan. Matanya melotot tajam, perlahan dia bersandar ke pintu kamarnya. Etta memegang gagang pintu kamarnya.

‘aauuww….!’, Etta kaget melihat tangannya yang merah karena gagang pintu yang sangat panas.

Angin menyibak rambutnya dengan keras. Terdengar suara nyanyian para oompa lompa yang baru saja dibacanya di Charlie and chocolate factory untuk ke 344 kalinya. Etta memicingkan mata mencoba memperhatikan layar laptopnya yang sangat terang. Mulutnya terbuka lebar ketika melihat setiap huruf dari keyboard laptopnya keluar melayang mendekatinya.

Nyanyian oompa loompa menggema diiringi angin yang memutar rambutnya yang panjang hingga menjadi tergerai sempurna. Alphabet melayang mengitari dirinya.

‘Tararum, tararum..parararum…’, mengikuti irama Etta berputar melayang, melompat-lompat di atas kasur. Alphabet itu saling menggandakan diri. Besar, kecil, capital, dan seluruh tanda baca mengelilingi tubuhnya mengikutinya melompat, tinggi dan semakin tinggi. Hingga membuka atap kamar Etta.

Zaaappp…

Etta melayang di tengah awan. Bersama para alphabet yang menggiringnya menuju tempat Alysia berada, mahluk tertawa, tarian 0/1, kue-kue awan, lorong waktu, sandal jepit, pelangi hitam, salsabila, harian terbit mingguan, kapan akan datang, dunia kecil, bulan menangis, saat-saat hening, riang, mantan napi, bulu-bulu, kucing besar, sikembar, ulat, ratu hati, ah bukan itu alice in wonderland. Ulang lagi,

Etta melayang di tengah awan. Bersama para alphabet yang menggiringnya menuju tempat Alysia berada, mahluk tertawa, tarian 0/1, kue-kue awan, lorong waktu, sandal jepit, pelangi hitam, salsabila, harian terbit mingguan, kapan akan datang, dunia kecil, bulan menangis, saat-saat hening, riang, mantan napi, bulu-bulu, kucing putih mata hitam yang gendut dan mirip panda, beberapa teman model, ksatria ceking, tiga keping mata uang, bukan masalah, kura-kura kendaraan dan beberapa hal pembantu lainnya, Etta menari, menyanyi, melawan, berguling-guling, merasa kenyang, sedih, senang, marah, geram, kecewa, meninggalkan dunia, berlari ditempat, pose aneh, menempel di kasur, handstand, terpaku, berteriak, tenggelam, merasakan cambukkan dihatinya hingga akhirnya kantung matanya memberat, dan tertidur.

Dingin malam mengelilingi tengkuk Etta, ‘krrrrrrroaaaaaakkkk….’, perutnya memanggil matanya untuk terbuka. Etta mengusap perutnya lalu berdiri dengan sedikit sempoyongan. Dia melihat dirinya di cermin.

‘Gila, ternyata aku cantik juga’, katanya pada dirinya sendiri ketika melihat matanya yang merah, lingkar matanya yang menghitam seperti menggunakan pensil alis tebal, kerutan lipatan sprei tercetak dipipinya yang putih, lidahnya yang memutih karena dehidrasi, dan rambutnya yang besar seperti habis disasak membuat dirinya tampak seperti nenek sihir atau wanita hitam yang jahat.

Terdengar ketukan pintu, ‘Etta.. endo sudah pulang, ayo makan malam!’, Ibu Etta memanggilnya.

Etta mengusap tato lipatan sprei dipipinya sambil melihat ke meja kerjanya. Setumpuk kertas tersusun rapi, kertas paling atas bertuliskan :

‘Alisya tersesat di lorong Awan’

– draft 1 –

Etta Kunia

***

Pintu kamar Etta terbuka. Etta berdiri di pintu. Ibunya menghampirinya,’ya ampun, kamu udah kaya orgil, udahlah gak Endo gak usah dipikirin, ayo sekarang makan dulu ta..’.

Etta menahan tarikkan tangan ibunya, sambil tersenyum lebar dan aneh khas nenek sihir, Etta menunjukkan draft novel ke-4 pada ibunya, ‘suruh Endo kesini!’.

Ibunya menghela nafas bangga dan menatap Etta dengan rasa sayang. Etta tersenyum senang. Satu lagi telah terselesaikan, selanjutnya dia hanya perlu menunggu huruf-huruf itu hidup dan datang lagi untuk menggodanya.

-Selesai -


-- ilma fathnurfirda -

janjijumat 28 january 2011

topik : Huruf-huruf itu menari, menggodanya.

Wednesday, 26 January 2011

Black eyes

Tubuh mereka tergeletak mengerang panik. Para guru bergegas masuk keruangan membantu siswa pria yang mencoba menggotong setiap siswa yang tak sadarkan diri. Airis tak percaya dia melihat kesurupan massal yang terjadi di hadapannya dan itu benar-benar terjadi. Airis ingin berlari keluar dari kelasnya yang sudah sangat ricuh. Sementara di luar kelas semua orang berkerumun antara ketakutan dan senang meninggalkan pelajaran.

‘Bawa keluar! Bawa keluar!’, Pak Masmur, guru matematika yang seharusnya mengajar saat itu malah mengomandokan para muridnya keluar kelas.

Airis hendak berjalan keluar ruangan mengikuti teman-temannya yang lain yang masih sadar dan ketakutan, tiba-tiba Nesia, salah satu yang juga terkena aliran gaib itu menarik bagian bawah Airis. Matanya menatap tajam seolah akan menjebak Airis. Nesia bukan seorang yang suka memakai make up ke sekolah. Tentu saja karena SMA mereka adalah SMA negeri yang lebih mementingkan prestasi. Tapi saat itu Airis merasa mata Nesia dilingkari garis hitam yang membuat tatapannya sangat menakutkan. Entah mengapa Airis membaca kata tolong dan juga ancaman dari mata Nesia. Black eyes.

Airis terpaku selama beberapa saat dan tidak memedulikan ruang kelasnya yang semakin kacau. Tiba-tiba dia menarik roknya dari genggaman Nesia. Nesia melepaskan genggamannya dan jatuh lunglai. Airis melihat sekelilingnya, para guru dan siswa pria sibuk menanggkat teman-temannya yang kesurupan keluar kelas, mungkin akan di bawa ke mushola. Airis memperhatikan Nesia yang tergeletak terlungkup. Airis mendekati Nesia.

‘Tolong!’, tiba-tiba Nesia menatap Airis dan berbisik keras.

Airis sempat terhentak menjauh lalu kembali mendekati Nesia, sahabat baiknya, ‘Kamu gak apa-apa?’

***

Airis membopongnya keluar kelas menjauhi keramaian. Mereka berdua duduk ditepi lapangan di seberang mushola. Hari itu proses belajar mengajar dihentikan. Para guru sibuk menerima kedatangan orang tua siswa yang kesurupan. Totalnya ada 30 siswa.

‘Kamu gak apa-apa?’, Tanya Airis yang duduk disebelah Nesia.

‘Thanks yah’, jawab Nesia sambil meminum segelas air putih.

‘Pulang yuk!’, ajak Airis ketakutan

Nesia tidak menjawab.

‘Gelasnya taro disitu aja’, ujar Airis menunjuk koperasi yang ada di belakang mereka.

Nesia mengangguk, ‘Ayo… duluan aja..’

Airis berdiri menyelempangkan tasnya. Dia bergegas berjalan pulang dan tidak sadar bahwa mata Nesia kembali menghitam dan tajam. Nesia mengangkat gelas air minumnya.

Brakk!!!

Airis terjatuh di tengah lapangan. Semua orang di mushola menatap Nesia. Terdengar jeritan keras.

tamat

psychome!!!

>_<…

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More