Another Templates

Wednesday, 26 January 2011

Black eyes

Tubuh mereka tergeletak mengerang panik. Para guru bergegas masuk keruangan membantu siswa pria yang mencoba menggotong setiap siswa yang tak sadarkan diri. Airis tak percaya dia melihat kesurupan massal yang terjadi di hadapannya dan itu benar-benar terjadi. Airis ingin berlari keluar dari kelasnya yang sudah sangat ricuh. Sementara di luar kelas semua orang berkerumun antara ketakutan dan senang meninggalkan pelajaran.

‘Bawa keluar! Bawa keluar!’, Pak Masmur, guru matematika yang seharusnya mengajar saat itu malah mengomandokan para muridnya keluar kelas.

Airis hendak berjalan keluar ruangan mengikuti teman-temannya yang lain yang masih sadar dan ketakutan, tiba-tiba Nesia, salah satu yang juga terkena aliran gaib itu menarik bagian bawah Airis. Matanya menatap tajam seolah akan menjebak Airis. Nesia bukan seorang yang suka memakai make up ke sekolah. Tentu saja karena SMA mereka adalah SMA negeri yang lebih mementingkan prestasi. Tapi saat itu Airis merasa mata Nesia dilingkari garis hitam yang membuat tatapannya sangat menakutkan. Entah mengapa Airis membaca kata tolong dan juga ancaman dari mata Nesia. Black eyes.

Airis terpaku selama beberapa saat dan tidak memedulikan ruang kelasnya yang semakin kacau. Tiba-tiba dia menarik roknya dari genggaman Nesia. Nesia melepaskan genggamannya dan jatuh lunglai. Airis melihat sekelilingnya, para guru dan siswa pria sibuk menanggkat teman-temannya yang kesurupan keluar kelas, mungkin akan di bawa ke mushola. Airis memperhatikan Nesia yang tergeletak terlungkup. Airis mendekati Nesia.

‘Tolong!’, tiba-tiba Nesia menatap Airis dan berbisik keras.

Airis sempat terhentak menjauh lalu kembali mendekati Nesia, sahabat baiknya, ‘Kamu gak apa-apa?’

***

Airis membopongnya keluar kelas menjauhi keramaian. Mereka berdua duduk ditepi lapangan di seberang mushola. Hari itu proses belajar mengajar dihentikan. Para guru sibuk menerima kedatangan orang tua siswa yang kesurupan. Totalnya ada 30 siswa.

‘Kamu gak apa-apa?’, Tanya Airis yang duduk disebelah Nesia.

‘Thanks yah’, jawab Nesia sambil meminum segelas air putih.

‘Pulang yuk!’, ajak Airis ketakutan

Nesia tidak menjawab.

‘Gelasnya taro disitu aja’, ujar Airis menunjuk koperasi yang ada di belakang mereka.

Nesia mengangguk, ‘Ayo… duluan aja..’

Airis berdiri menyelempangkan tasnya. Dia bergegas berjalan pulang dan tidak sadar bahwa mata Nesia kembali menghitam dan tajam. Nesia mengangkat gelas air minumnya.

Brakk!!!

Airis terjatuh di tengah lapangan. Semua orang di mushola menatap Nesia. Terdengar jeritan keras.

tamat

psychome!!!

>_<…

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More