Another Templates

Saturday, 29 January 2011

Buku ke 4

Etta meringkuk di pojok kamar sambil menutup kuping. Telepon genggamnya tergeletak di atas kasurnya yang berantakan, berbunyi nyaring disahut dengan ketukkan pintu kamarnya.

‘Etta..!’

Etta melirik ke pintu.

‘Etta… ada mas Endo!’

Etta menarik selimutnya dan meringkuk semakin lekuk bersandar di dinding karena mendengar nama Endo. Endo adalah editor kelima Etta. Sejak ketiga bukunya yang diterbitkan secara indie laku keras, mengalahkan buku trilogy perjalanan anak-anak dengan imajinasi yang baru saja terbit, Etta diserbu belasan editor, menagih deadline buku terbaru Etta.

Buku ketiganya yang berjudul ‘Alisya dan tarian angka biner’ merupakan satu-satunya buku asli Indonesia yang mendapat tempat di sebuah rak toko buku ternama di ‘New york’. Dengan testimony oleh New York Times di cover bukunya, Etta terpaksa menerima Endo sebagai editor tetapnya. Tapi ternyata hal itu hanya semakin memperburuk keadaan. Endo yang diserang ribuan penggemar dan penerbit, harus memaksa Etta menuliskan lanjutan bukunya.

Tapi tidak segampang itu, Etta hanya mampu menulis jika dia memang mampu. Sudah dua tahun para penggemarnya mengirimkan ribuan surat agar Etta melanjutkan tulisannya. Buku pertamanya sudah akan dibeli oleh Universal Studio untuk difilmkan. Mereka memaksa Etta menuliskan buku selanjutnya.

Akhirnya dering teleponnya berhenti. Ketukkan pintunya juga berhenti. Terdengar percakapan ibunya Etta dengan Endo.

‘sabar sajalah.. bilang sama mereka, Etta tidak bias dipaksa’, Ibu

Etta mencoba memberikan pengertian pada Endo.

‘tapi kita sudah kontrak, lagian fans bisa benar-benar melupakan bukunya, kalau lanjutannya belum keluar selama 2 tahun! Susah buat strategi marketingnya lagi!’, jelas Endo panik.

Etta melirik lembaran kertas di atas meja kerjanya. Lembaran kertas itu menumpuk menghalangi huruf-huruf di atas keyboard laptopnya.

Etta menghela nafas. Hening melihat angin datang menghembus jendela kamarnya. Rambutnya gatal karena belum sempat dicuci selama seminggu. Etta terlalu sibuk menghindari permintaan penggemar dan para pencari uang. Etta menjedotkan kepalanya ke dinding berkali-kali. Sudah lama keputusan itu ada dikepalanya. Berhenti menulis, itulah yang paling tepat, membuat semuanya kembali normal.

Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan tekanan seperti ini. Seharusnya semua ini tidak dia lakukan. Etta berdiri merapihkan rambut ikal panjangnya. Dia melihat baju yang dipakainya. Piyama yang sama sejak, sejak… . Dia tidak bisa mengingatnya. Etta melangkah melewati meja kerja dan jendela kamarnya.

Angin berbisik. Etta menoleh keluar jendela tingkat dua kamar tidurnya. Etta melirik kertas-kertas kosong dan laptopnya yang mati.

Tap!

Laptopnya menyala. Etta membuka matanya lebar-lebar. Dia takut kalau dia sudah jadi gila. Tiba-tiba kertas-kertas putih diatas mejanya terbang melayang mengisi ruangan berputar tertiup angin. Etta melihat pintu kamarnya yang masih terkunci lalu kembali memperhatikan apa yang terjadi dikamarnya. Apa aku memiliki sihir seperti harry potter yang menerbangkan surat-surat Hogwarts padanya?, pikir Etta ketakutan. Matanya melotot tajam, perlahan dia bersandar ke pintu kamarnya. Etta memegang gagang pintu kamarnya.

‘aauuww….!’, Etta kaget melihat tangannya yang merah karena gagang pintu yang sangat panas.

Angin menyibak rambutnya dengan keras. Terdengar suara nyanyian para oompa lompa yang baru saja dibacanya di Charlie and chocolate factory untuk ke 344 kalinya. Etta memicingkan mata mencoba memperhatikan layar laptopnya yang sangat terang. Mulutnya terbuka lebar ketika melihat setiap huruf dari keyboard laptopnya keluar melayang mendekatinya.

Nyanyian oompa loompa menggema diiringi angin yang memutar rambutnya yang panjang hingga menjadi tergerai sempurna. Alphabet melayang mengitari dirinya.

‘Tararum, tararum..parararum…’, mengikuti irama Etta berputar melayang, melompat-lompat di atas kasur. Alphabet itu saling menggandakan diri. Besar, kecil, capital, dan seluruh tanda baca mengelilingi tubuhnya mengikutinya melompat, tinggi dan semakin tinggi. Hingga membuka atap kamar Etta.

Zaaappp…

Etta melayang di tengah awan. Bersama para alphabet yang menggiringnya menuju tempat Alysia berada, mahluk tertawa, tarian 0/1, kue-kue awan, lorong waktu, sandal jepit, pelangi hitam, salsabila, harian terbit mingguan, kapan akan datang, dunia kecil, bulan menangis, saat-saat hening, riang, mantan napi, bulu-bulu, kucing besar, sikembar, ulat, ratu hati, ah bukan itu alice in wonderland. Ulang lagi,

Etta melayang di tengah awan. Bersama para alphabet yang menggiringnya menuju tempat Alysia berada, mahluk tertawa, tarian 0/1, kue-kue awan, lorong waktu, sandal jepit, pelangi hitam, salsabila, harian terbit mingguan, kapan akan datang, dunia kecil, bulan menangis, saat-saat hening, riang, mantan napi, bulu-bulu, kucing putih mata hitam yang gendut dan mirip panda, beberapa teman model, ksatria ceking, tiga keping mata uang, bukan masalah, kura-kura kendaraan dan beberapa hal pembantu lainnya, Etta menari, menyanyi, melawan, berguling-guling, merasa kenyang, sedih, senang, marah, geram, kecewa, meninggalkan dunia, berlari ditempat, pose aneh, menempel di kasur, handstand, terpaku, berteriak, tenggelam, merasakan cambukkan dihatinya hingga akhirnya kantung matanya memberat, dan tertidur.

Dingin malam mengelilingi tengkuk Etta, ‘krrrrrrroaaaaaakkkk….’, perutnya memanggil matanya untuk terbuka. Etta mengusap perutnya lalu berdiri dengan sedikit sempoyongan. Dia melihat dirinya di cermin.

‘Gila, ternyata aku cantik juga’, katanya pada dirinya sendiri ketika melihat matanya yang merah, lingkar matanya yang menghitam seperti menggunakan pensil alis tebal, kerutan lipatan sprei tercetak dipipinya yang putih, lidahnya yang memutih karena dehidrasi, dan rambutnya yang besar seperti habis disasak membuat dirinya tampak seperti nenek sihir atau wanita hitam yang jahat.

Terdengar ketukan pintu, ‘Etta.. endo sudah pulang, ayo makan malam!’, Ibu Etta memanggilnya.

Etta mengusap tato lipatan sprei dipipinya sambil melihat ke meja kerjanya. Setumpuk kertas tersusun rapi, kertas paling atas bertuliskan :

‘Alisya tersesat di lorong Awan’

– draft 1 –

Etta Kunia

***

Pintu kamar Etta terbuka. Etta berdiri di pintu. Ibunya menghampirinya,’ya ampun, kamu udah kaya orgil, udahlah gak Endo gak usah dipikirin, ayo sekarang makan dulu ta..’.

Etta menahan tarikkan tangan ibunya, sambil tersenyum lebar dan aneh khas nenek sihir, Etta menunjukkan draft novel ke-4 pada ibunya, ‘suruh Endo kesini!’.

Ibunya menghela nafas bangga dan menatap Etta dengan rasa sayang. Etta tersenyum senang. Satu lagi telah terselesaikan, selanjutnya dia hanya perlu menunggu huruf-huruf itu hidup dan datang lagi untuk menggodanya.

-Selesai -


-- ilma fathnurfirda -

janjijumat 28 january 2011

topik : Huruf-huruf itu menari, menggodanya.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More