Another Templates

Friday, 8 July 2011

Payung Terakhir

Hatinya berdegup kencang. Kesal. Marah. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Rio berdiri diatas kedua sepatunya yang mulai kekecilan.

Ibunya berjalan keluar kamar membawa tas besar dan sebuah payung terbungkus plastik. ‘Ayo Rio, bantu mama!’. Rio terpaku di sudut ruang makan.

Sebuah kenangan muncul dibenaknya. Saat itu Rio berumur 5 tahun, Dia sangat senang ketika ibunya mengangkat dirinya agar bisa naik di atas sebuah kuda komidi putar. Awalnya hanya mainan komidi putar abang-abang yang sering lewat di depan rumah, tapi kemudian muncul perdebatan Ayahnya yang melarang Rio memiliki kebiasaan jajan dengan Ibunya. Ibunya tidak setuju dengan hal itu, sebenarnya Ibu dan Ayahnya tidak bisa bersatu. Akibatnya Rio berhasil mencicipi komidi putar yang sebenarnya.

Sebuah tangan menarik bahu Rio yang bergetar. Ayah Rio membalikkan badan Rio lalu dia jongkok dihadapan Rio. ‘Mobil sudah Ayah nyalakan, ayo kita pergi’.

Tangannya bergetar memegang pahanya yang perlahan-lahan melangkah mengikuti Ayahnya yang pergi keluar rumah. Rio berdiri di depan teras rumahnya memperhatikan Ayahnya membuka sebuah payung hitam besar dan baru.

Sebuah kenangan lain muncul dibenaknya. Beberapa hari yang lalu Rio bersemangat tidur malam menunggu Ayahnya pulang. Kotak layar berwarna menyorotkan sinar terang, hijau berkilat terpantul pada wajah Rio. Ibunya sudah menyuruhnya tidur, tapi kemudian Ayahnya pulang dan mengunci ibunya di dalam kamar. Ayahnya sudah tidak menyukai ibunya lagi. Akibatnya Rio bisa menonton pertandingan sepak bola luar negeri, berdua, berangkulan bersama Ayahnya.

Langit mulai mendung. Rio yang masih belum mengganti seragam SD nya, berdiri di tepi teras. DIa tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bulan dan Bintang menawarkan malam yang sama padanya. Ayahnya berdiri di depan sebuah mobil yang menderu, sementara Ibunya membuka pintu taksi. Keduanya menatap Rio dan melambaikan tangan pada Rio. Tapi Rio tidak mau melihat malam.

Rio melihat sebuah payung yang tergeletak di sudut teras rumahnya. Payung yang sering mereka gunakan bertiga sehingga mereka merasakan kehangatan karena lebar payung yang tidak begitu besar. Tapi payung itu sudah terlupakan. Ayah dan Ibunya memilih payung yang lain. Rio menatap Ayah dan Ibunya yang berdiri di seberang pagar rumahnya. Hujan turun deras, Ayah dan Ibunya menggunakan payung masing-masing. Tapi Rio memutuskan berjalan di tengah hujan dan meninggalkan payung terakhir.

Tamat.

(synopsis film pendek oleh @ilma_fath)

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More