Another Templates

Friday, 30 September 2011

Berani Muncul - Sepintas Lalu

Sepintas Lalu adalah judul salah satu 'jargon' dari salah satu essai mengenai para 'pengusaha' sastra yang ditulis oleh Budi Darma dalam bukunya yang berjudul 'Solilokui'. Dia menerangkan bahwa banyak para pelsaya sastra Indonesia saat itu (sekitar tahun 80an) merupakan para pelsaya sastra yang tidak serius, sepintas lalu. Muncul lalu pergi, mereka melongok sastra sebentar lalu tidur lagi. Seharusnya dengan hardikan keras seperti itu, saat ini industri sastra Indonesia bukan hanya sekedar berlalu, tapi tidak mustahil menyandingi para penulis luar negeri. Namun kenyataannya, penulis sepintas lalu semakin menjamur. Penerbitan buku secara independen bukan hal yang sulit. Blog adalah salah satu penerbit paling digemari saat ini.

Banyak orang berusaha menuliskan apapun dan menganggapnya sebagai suatu seni atau ekspresi atas dirinya sendiri. Tidak sedikit bahkan yang bermimpi menjadi sastrawan dalam sekejap. Jadi, sebenarnya bagus atau tidak, menulis blog? saya sendiri punya beberapa blog, satu blog diari (yang mana tidak begitu penting), satunya lagi adalah dinding tempat saya menempelkan hal-hal yang saya kerjakan (blog ini) dan yang satunya lagi adalah tempat saya berbagi ilmu yang saya dapat (belajar menulis). Awalnya hanya berniat untuk membiarkan orang untuk bisa 'membaca' diri saya yang apa adanya. Tapi kemudian Bpk Dachyar M, seorang dosen UI, menyadarkan saya tentang blog, bahwa blog merupakan media untuk marketing diri sendiri. Betul, tidak sedikit orang menghubungi saya akibat dari blog yang saya tulis.

Tapi beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya, seorang penulis naskah layar berkata bahwa kita sebaiknya tidak menyimpan tulisan di dunia maya, blog, twitter, facebook dan lainnya. Menurutnya hal itu akan memperlihatkan kelemahan kita. Dan ini akan mempengaruhi hubungan pekerjaan kita. Salah satu penulis naskah layar terkenal, Ryan Murphy menuliskan dialog yang paling bisa dijadikan kuotation. Salah satu dialog yang dia tulis yang paling saya ingat adalah pada serial Glee, dialog tersebut:

'you will never become a star or take a lead, if you never play it' - idina menzel.

atau pernyataan Confucius sebagai berikut:

"If a man takes no thought about what is distant,
he will find sorrow near at hand. He who will not worry
about what is far off will soon find something worse
than worry."

Kalau kita rasa tulisan kita buruk dan tidak pernah kita ungkapkan pada siapapun maka kapan kita tahu bahwa tulisan tersebut buruk? Maka kita tidak akan pernah menjadi apapun. Apakah seorang Hanung Bramantyo takut mengunggah film pendeknya 'apa itu islam' di jejaring YouTube hanya karena takut jika orang lain tidak menyukai karyanya? Dia tidak peduli itu dan karenanya dia muncul menjadi sesuatu yang berbeda.

Dalam buku Solilokui, Budi Darma pun menjelaskan hal ini. Dia memiliki salah seorang teman yang hebat dalam menulis naskah, cerpen, novel dan lainnya. Tapi karena saking hebatnya dia menumpuk naskah-naskahnya itu dalam kamarnya. Baginya selesai menuliskan sebuah naskah adalah cukup dan sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Padahal di sisi lain, naskah bertumpuk di meja editor. Ribuan cerpen membanjiri ruang dewan juri lomba cerpen. Maka sastra bukan lagi sesuatu yang memiliki kreativitas. Karena sastra yang dipelajari hanyalah sastra yang dianggap 'dewa' oleh para seniman sastra yang menganggap dirinya seniman. Akibatnya timbul banyak sastrawan yang tiba-tiba muncul karena lagi-lagi karyanya mengenai cerita masa kecilnya.

Jadi, mana yang benar? Menuliskan sebanyak-banyaknya tulisan di blog atau dikirim ke meja editor? Atau menulis demi kepuasan maya semata? Tidak ada yang bisa dipilih. Karena keduanya tidak memiliki pembelajaran dalam kreativitas. Banyak para penulis merasa dirinya sudah cukup hebat dengan memiliki wawasan, koneksi, pergaulan, formula-formula dan intuisi yang luas. Tapi sedikit dari mereka yang mau dengan rendah hati belajar untuk memperdalam nilai-nilai arti dibalik tulisan yang sebenarnya.

Salah satu guru saya, seorang penulis naskah layar yang terkenal karena dia berhasil mengadaptasi novel menjadi film sukses, pernah berpendapat bahwa seorang Budi Darma adalah penulis yang hebat, karena cerpen-cerpennya begitu sederhana dan begitu saja. Mungkin dia belum bisa melihat Budi Darma lebih jauh pada tulisan-tulisan lainnya, atau saya saja yang belum sempat berdiskusi mengenai cerpen Budi Darma lebih jauh dengannya. Tapi bagi saya, Budi Darma tidak sekedar menuliskan cerpen. Budi Darma menuliskan jauh dari sekedar sastra. Dia menuliskan jiwa yang dia buat dari kehidupannya tapi tetap memiliki jarak. Seorang Budi Darma mampu menuliskan essai yang didasarkan dari hasil pembelajarannya atas karya sastra lainnya. Semuanya tertulis dalam bukunya 'Solilokui'.

Buku itu memang benar-benar berkesan bagi saya (Tenang saja, setelah berhasil merangkum bukunya, pasti nanti akan saya tulis di blog saya). Dewasa ini banyak penulis yang Berani Muncul tapi kemudian mereka tidak belajar, entah tidak sempat, mungkin karena sibuk menadatangani atau mempromosikan bukunya, hingga akhirnya mereka hanya Sepintas Lalu. Saya pun sedang berusaha untuk tetap terus belajar agar berani muncul tetapi tidak sepintas lalu. Walau sama seperti Budi Darma, tulisan ini memang ditulis sepintas lalu.

Thursday, 29 September 2011

Putih

Kilatan layar kaca terpancar dari mata hitamnya. Setiap hari, pada jam yang sama dan pada posisi yang tetap pula dia duduk terpesona dengan apa yang ada di hadapannya. Sebuah serial TV.

Tokoh utamanya adalah gadis lugu yang disukai banyak orang. Gadis itu dan diperankan seorang artis yang paling cantik saat itu. Akibatnya dia semakin amat ingin menjadi lebih cantik karenanya. Setelah menonton serial itu, dia selalu menyisir rambutnya, menggunakan cairan agar kulitnya lebih putih, dan tidak lupa olahraga sebelum tidur agar tubuhnya seramping sang artis.

Episode ke-15, dia benar-benar sudah berubah. Tokoh utamanya adalah seorang yang baik hati dan peduli dengan orang lain. Tapi dia memiliki sifat bertolak belakang. Grumpy, temprament dan selalu menyalahkan orang lain. Bahkan terkadang terkesan menyalak. Sekarang dia berubah, lebih halus, berjalan lebih anggun, bersuara pelan, tertawa menyeringai membuat kesan cute dan menoleh dengan anggun. Awalnya tidak ada yang mau melihatnya karena takut, saat ini kemanapun dia berjalan selalu ada orang yang ingin mendekati dan menyentuhnya.

Diapun berjalan bangga, lalu berkata dalam hati, "Entah kenapa, karakter di film seri itu makin mirip aku, atau aku yang mirip dia…” .

Malam itu adalah episode terakhir. Dia duduk di tempat yang sama, di atas rumput di seberang sebuah jendela yang mengarah ke sebuah tv. Dia menyeringai menggoyangkan ekornya. Bulunya putih bersih akibat rajin menjilat. Cakarnya yang kecil mengusap pipi putihnya. Serial itupun mengakhiri episode terakhirnya dengan tulisan "Terima kasih telah menonton 'Pacarku adalah Rubah berekor Sembilan' ". Dia pun berlari senang karena sekarang tokoh utama di serial tv itu adalah seekor rubah berekor satu. Sama dengan dirinya, Rubah.


untuk janji jumat topik:
“Entah kenapa, karakter di film seri itu makin mirip aku, atau aku yang mirip dia…”
30 september 2011

bagi yang nggak ngerti diharap nonton serial korea yang judulnya "my girlfriend is a gumiho" hhehehe ^_^

Monday, 19 September 2011

New Learn : Photo hunting

1. Yellow Chrysant

Chrysanthemum,

Chrys artinya bagus, anthemon artinya mekar. ^_^. Fotonya diambil saat lagi ikutan halal-bihalal satu RT (rukun tetangga) di Taman Bunga Nusantara, Cipanas, Indonesia.

Terakhir kali ke sana aku masih SD, masih belum sadar kalau ternyata Taman Bunga Nusantara itu bagus banget. Bunganya cantik-cantik, taman prancisnya keren dan taman labirin (Labyrinth Garden) nya super asik! dijamin nyasar kalau nggak beli peta (rp1000).

Title : The Yellow Chrysant
Photographer : oleh ilma f ^_^,
Date : 18 sept 2011,
Place : Taman Bunga Nusantara, Cipanas Indonesia.
Properties : Nikon D3100, F/7,1 , Speed/100, ISO200,

2. Gorilla hates human.


Gorilla,

Gorilla merupakan primata terbesar di dunia. Foto ini di ambil di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Indonesia. Tepatnya di bagian Pusat Primata Schmutzer (Schmutzer Primate Center). Waktu itu bulan puasa. Hunting foto di kebun binatang saat sedang puasa ternyata bukan pilihan yang bijak. ^_^. Karena kebun binatang ragunan itu luassss... banget. Jadi jalan kaki keliling ragunan di musim panas, sudah tentu, haus, hehehe...

Title : The Gorilla
Photographer : oleh ilma f ^_^,
Date : 09 Aug 2011,
Place : Schmutzer Primate Center, Ragunan Zoo, Jakarta, Indonesia.
Properties : Nikon D3100, F/13, Speed/320, ISO3200,






Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More