Another Templates

Saturday, 15 October 2011

Berdiri satu kaki, berdiri dua kaki, berdiri melompat-lompat.


Seorang anak laki-laki kecil berlari dengan kaki tanpa alas di pinggir tepian kali krukut, jakarta selatan. Debu-debu terhempas gembira karena anak itu berlari dengan senyum lebar diwajahnya.

"Aku besok naik mobil!" kata anak itu ditengah kumpulan teman-teman sebayanya.

Spontan dia langsung menjadi pusat perhatian. Anak itupun bahkan rela membuka bajunya dan langsung berdiri di tepi jalan untuk menjadi anak pertama yang melompat ke dalam kali krukut hari terakhir minggu itu.

Sementara anak-anak lain bersorak panik sekaligus kagum akan keberanian kali pertama anak itu melompat. Dia, dengan satu kali tarikan nafas - sehingga air dihidungnya terhisap - dan sedikit lirikan, langsung melompat sambil berteriak, "NAIK MOBIL!"

Debur kali bersahutan menepuk tiang-tiang bambu rumah reot di pinggir kali krukut, ketika teman-teman anak itu ikut melompat ke dalam kali.

"Kok bisa?" tanya salah seorang temannya saat mereka masih di dalam kali.

"Ibu bilang begitu!"

"Kakak kamu yang udah SD aja nggak pernah diajak? kok kamu bisa?" tanya anak yang lain.

"Abang kan sekolah!"

"Kamu nggak kerja?"

"Ibu bilang mulai besok aku kerja bantuin ibu," kata anak itu sambil keluar dari kali. Badannya yang kurus semakin terlihat kecil dengan air kotor ditubuhnya. Dia berlari, melompat, menuju pulang hingga lupa membawa bajunya yang tertinggal di tepi kali.

Semalaman dia tidak bisa tidur karena terus membayangkan betapa empuknya sebuah kursi mobil, mobil yang selama ini hanya dia lihat dari balik kaca ketika sedang mengintip kaca hitam saat lampu berubah menjadi merah.

Pagi harinya, anak itu bersiap dengan pakaiannya yang paling bagus, baju coklat kotor yang tidak bolong. Dengan semangat dia menggenggam tangan ibunya yang berjalan di tepi jalan paling ramai di Jakarta.

Mereka berdua berdiri di tepi jalan. Sudah satu jam berlalu. Anak itu mulai terasa pegal. Dia angkat kakinya satu, kemudian yang satu lagi, kemudian dia melompat-lompat, agar semangatnya tetap terjaga. Hatinya berdebar riang. Orang-orang yang berdiri sejajar dia dan ibunya bergiliran menaiki mobil yang tiba-tiba keluar menepi dari kemacetan. Dia menunggu gilirannya. Dua jam berlalu. Anak itu melihat ibunya sudah tidak lagi mengangkat tangannya yang dari awal terus menunjukkan dua jarinya ke jalan.

Anak itu menatap ibunya dan mobil-mobil yang sekarang sudah melintas dengan lancar. Tiba-tiba ibunya menarik tangannya.

"Nggak jadi naik mobilnya?" tanya anak itu polos.

"Mungkin besok," jawab ibunya.

Anak itu kemudian mengikuti langkah ibunya. Sedikit terbatuk akibat asap selama dia berdiri. Dalam hatinya dia masih berdebar karena besok masih ada kemungkinan dia bisa naik mobil. Kemudian dia berjalan satu kaki, berjalan dua kaki dan berjalan melompat-lompat.

end.
#2
ilma fathnurfirda

1 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More