Another Templates

Friday, 11 November 2011

Anak Tentara



Kupingnya merah. Abdul berjalan terseret, akibat kupingnya yang ditarik kencang. Dia menggaruk kakinya yang terluka sambil mengaduh kesakitan. Kali ini Abdul memang sudah keterlaluan. Dia memecahkan kaca rumah tetangganya, hingga siempunya rumah, Pak Acong, yang juga majikan ayahnya pingsan dan sekarang koma di rumah sakit.

Bapak Abdul yang ikut mengantarkan ke rumah sakit, hanya bisa berulang kali meminta maaf. Dia pun berjanji akan menghukum Abdul dengan hukuman yang seberat-beratnya. Baginya tidak mudah memberikan hukuman untuk Abdul. Bukan karena tidak tega, tetapi karena sudah terlalu banyak jenis hukuman yang pernah diberikan pada Abdul.

Pernah suatu kali Abdul tidak sengaja menyenggol temannya ketika sedang bermain di tepi sungai komplek perumahannya hingga hanyut terbawa arus. Pak RT dan masyarakat sekitar, heboh berlari menyusuri sungai yang mengalir deras demi mengejar anak hanyut tersebut. Abdul pun ikut bertanggungjawab. Walau berlari paling belakang dia tidak kabur. Sambil berlari, Abdul malah menikmati dan kagum melihat pemandangan yang menegangkan itu. Menurutnya apa yang terjadi pada temannya itu adalah petualangan yang amat seru.

Beberapa jam berlalu, segala percobaan untuk menolong anak hanyut itu sudah dilakukan, tapi tetap tidak berhasil. Stasiun TV mulai heboh memberitakan sekelompok warga yang berusaha mengejar seorang anak hanyut. Tapi entah mengapa, hujan deras dan arus sungai yang meluap, rumah-rumah bantaran kali itupun tidak sanggup menahan laju sang anak hanyut. Mereka pun berhenti berlari dan menangisi teriakan anak hanyut yang semakin menjauh.

Malam harinya, ketika warga sibuk menyiapkan pemakaman sang anak hanyut, Abdul disuruh tidur dalam ember besar berisi air sungai oleh bapaknya. Beberapa saat kemudian, Bapak Abdul menyuruhnya keluar dari ember karena melihat Abdul yang malah menikmati hukuman itu. Pagi harinya dia terbangun dari tidurnya bukan akibat tangannya dan kakinya yang gatal dan keriput tapi karena pantatnya yang merah bekas di’sabuk’.

Walau bandel, Abdul adalah anak yang bertanggungjawab. Dia mau mengakui kesalahannya dan rela dihukum tanpa perlawanan. Dia pun berusaha menyusuri sungai untuk mencari si anak hanyut. Abdul tiba di pasar ikan utara Jakarta, sendiran bertualang dengan supir angkot. Benar saja Abdul menemukan si anak hanyut sedang mengangkut ikan, membantu para nelayan. Ternyata si anak hanyut terjaring para nelayan priok.

Tapi kali ini lain, Abdul yang sedang dipukul pantatnya oleh emaknya berkali-kali berteriak bahwa bukan dia yang memecahkan kaca rumah tetangganya. Dia tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan orang lain.

Tapi karena tidak mau dianggap sebagai bapak yang buruk, bapak Abdul terpaksa memutuskan untuk tidak percaya pada Abdul. Kemudian dia menarik Abdul ke tengah lapangan kompleknya lalu mengikatnya di sebuah pohon.

Abdul berontak. Sekuat tenaga dia melawan bapaknya. Abdul mengeluarkan jurus-jurus silat yang didapat dari sekolahnya. Abdul membayangkan bahwa dia dan bapaknya sedang melakukan pertarungan silat yang amat keren. Pada kenyataannya, Abdul dan Bapaknya telah menjadi tontonan warga karena sibuk bergulat di tengah lapangan coklat. Pak RT yang baru tiba dari rumah sakit pun langsung melerai mereka di tengah warga yang berkerumun.

“Bukan aku yang mecahin kaca!” teriak Abdul kesal. Begitu dia melihat kesekeliling, teman-teman SD yang tadi bermain bersamanya, hanya mampu memperhatikan Abdul dengan tatapan mengejek.

“Jadi siapa? Cuma kamu yang ada disitu! Bapak nggak pernah ngajarin kamu berbohong!” teriak bapaknya sambil mencoba menarik Abdul.

Abdul bersembunyi di balik pohon dan kemudian dengan cepat berada di atas pohon. Pak RT melihat keatas pohon dan bertanya “Bener bukan kamu?”

Abdul mengangguk.

“Jadi siapa?” tanya Pak RT.

Abdul melihat sekeliling dari atas pohon. Dia tidak menemukan siapapun. Yang dia ingat hanya satu dan kemudian dia menjawab, ”Anak tentara!”

Karena anak tentara, berarti ayahnya adalah tentara. Bapak Abdul tidak berani menantang seorang tentara, tentu saja, karena dia hanya seorang supir yang majikannya sedang koma di rumah sakit. Bapaknya tidak habis pikir mengapa dari sekian banyak anak kecil di daerahnya, anak dokter, anak pengusaha, anak guru, anak mentri, anak orang biasa saja sampai anak supir yaitu Abdul, bisa-bisanya Abdul menuduh seorang anak tentara. Antara percaya dan tidak percaya dia terpaksa meminta Abdul untuk membuktikannya.

Abdul berdiri di depan gerbang komplek rumahnya, sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk menemui si anak tentara. Sejenak Abdul memperhatikan komplek perumahannya yang ternyata jika dilihat dengan kepala miring, perumahan tempat Abdul tinggal amat sangat menarik. Dari depan komplek terlihat bangunan rumah besar tingkat dua bak istana bertumpuk dengan rumah reot yang berada berterasering dengan lapangan dan hutan yang menyeramkan karena diikat oleh kabel-kabel listrik yang tidak ada gunanya karena tidak terlihat tiang listriknya. Kemudian dia bersin. Karena sebuah mobil jaguar melintas dibelakangnya dan menyemprotkan debu. Tapi begitu dia menoleh yang ada hanyalah sebuah mobil pickup tua yang baru saja parkir. Abdul kesal, lalu menendang sebuah kerikil ke arah mobil itu. Bukan kena mobilnya, kerikil itu mengenai Bapak Abdul yang ternyata turun dari kursi supir mobil itu. Abdul melebarkan kedua matanya terkejut. Belum sempat Bapaknya membersihkan debu yang mengenai celananya, Abdul lari terbirit-birit masuk ke dalam komplek.

Di sebuah tikungan kecil, Abdul memegang kedua lututnya dan merunduk terengah-engah karena lelah berlari. Dia merapihkan rambut tipis di kepalanya yang botak lalu berjalan layaknya polisi criminal mendatangi rumah anak tentara.

Abdul pun menginterogasi anak tentara itu. Selama 8 jam mereka berbincang. Dari mulai pertanyaan yang berhubungan dengan kejadian itu sampai ke hobi dan film kegemaran. Ternyata anak tentara itu baru pindah dari Bogor, karenanya Abdul belum pernah bertemu dengannya di sekolah. Tanpa diduga, banyak kesamaan antara Abdul dan anak tentara itu. Abdul sempat berpikir untuk mengajaknya bermain, ‘pasti sangat seru’. Tapi kemudian dia memperhatikan postur anak tentara itu. Tinggi dan potongan rambut anak tentara itu mengingatkan pada seseorang yang bisa membuatnya sengsara. Akhirnya Abdul tetap menetapkan dia sebagai seorang tersangka.

Karena anak tentara, ayahnya kemudian menghukumnya dengan cara seorang tentara. Dia berteriak kesakitan dan membuat Abdul teringat akan rasa sakitnya itu. Abdul meringis kesakitan juga, tapi dia tidak bisa menghentikannya karena dia tidak mau dipukuli juga.

Tapi anak tentara itu memang benar-benar anak seorang tentara. Dia berani dan mampu berkata tidak. Anak tentara itu menjelaskan bahwa dia tidak keluar rumah saat Abdul berada di atap rumah Pak Acong. Dia juga menjelaskan bahwa sebagai anak tentara dia tidak akan berbohong. Dia kemudian menatap ayahnya dan berkata, “Mengapa selalu anak tentara yang disalahkan?”

Ayahnya tiba-tiba terpaku. Dia mengerti apa yang diucapkan anaknya, karena dia pun pernah menjadi tersangka pada saat dia tidak bersalah. Ayah anak tentara itu menatap Abdul tajam. Abdul melebarkan matanya ketakutan. Cara terakhir membuktikan bahwa anak tentara itu memang yang bersalah adalah dengan melakukan rekonstruksi kejadian.

Setelah Pak RT, Bapak dan Emak Abdul, dan beberapa warga berkumpul, Abdul naik ke atap rumah Pak Acong. Anak tentara itu diminta untuk melakukan apa yang telah dia lakukan. Anak tentara itu tiba-tiba duduk di rumput lalu merebahkan badannya dan tertidur.

“Hei! Kok tidur!” Abdul bertanya pada anak tentara.

“Karena kemarin saat kamu sedang ada di atas situ, aku sedang tidur!” Anak tentara itu melihat ayahnya. Ayahnya mengangguk mengerti dan percaya pada anaknya.

Abdul terhenyak, dalam hatinya dia membenarkan bahwa berarti Anak tentara itu memang bukan pelakunya. Bapak Abdul pun meminta maaf atas kejadian dan kehebohan yang disebabkan oleh Abdul. Dia berjanji akan benar-benar menghukum Abdul.

Malam itu Abdul tidur terikat di atas pohon. Sebenarnya dia tidak terlalu menyesal dihukum seperti itu. Karena baginya tinggal di atas pohon sangat mengasikkan. Kemudian dia menganggap dirinya sebagai Tarzan yang sedang bermain ikat-ikatan dengan monyetnya.

Lelah. Abdul pun mulai tertidur. Dia benar-benar tidak ingat bahwa dia bersalah atau tidak.

***

Terdengar suara monyet berisik membuat Abdul terbangun. Ternyata dia masih bermimpi menjadi Tarzan. Suara berisik itu hanyalah suara perutnya yang lapar. Dari balik daun dan embun, Abdul melihat sebuah mobil tiba di depan rumah Pak Acong.

Di bantu istrinya, Pak Acong turun dari mobil. Sakit yang diderita Pak Acong tidak terlalu parah. Dalam waktu semalam Pak Acong sadar dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sebenarnya, selain karena kaca yang mengenai jidatnya, Pak Acong koma setelah melihat laporan keuangan toko elektroniknya yang bangkrut di tipu orang maya. Pak Acong dan istrinya masuk ke dalam rumahnya. Dari mobilnya kemudian turun anaknya Pak Acong, si anak hanyut. Si anak hanyut berjalan masuk ke dalam rumah membawa banyak barang dengan memakai baju tentara.

Abdul melebarkan matanya dan teringat bahwa saat Abdul berada di atas atap rumah Pak Acong mengejar layangan, kepalanya terantuk batu. Dia mengingat semuanya. Tiba-tiba Abdul yang terikat di atas pohon menggeliat panik. Celananya penuh dengan semut merah.

Tamat.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More