Another Templates

Friday, 13 January 2012

Kucing Dodonpa

Ini sebuah kisah mengenai kucing cokelat yang pandai memasak. Dia tinggal di loteng sebuah rumah milik nenek tua dengan tujuh cucu. Walau penghuni rumah itu banyak, Dodonpa selalu merasa kesepian. Karena anak-cucu nenek tua tersebut tidak pernah ada di rumah. Sementara nenek tua itu sudah terlalu tua untuk bermain bersamanya.

Dodonpa menjilat kaki depannya sambil memperhatikan nenek tua yang kini tidak pernah lepas dari kebaya encim hitamnya dan selalu duduk di depan televisi. Dulu dia selalu berhasil mengagetkan nenek tua itu. Karena kaget itulah, kemudian si nenek memanggilnya dengan sebutan Kucing Dodonpa.

Sekarang Dodonpa sudah hampir tidak pernah berhasil mengagetkan siapapun. Kerjanya hanya turun untuk mengambil makanan yang tidak pernah dimakan, kemudian dia masak ulang di atas loteng. Yap, masak ulang. Karena masakan di rumah itu hanya sebatas goreng atau rebus. Dan itu juga tidak pernah matang.

Dodonpa memakai celemek kesayangannya. Sebuah kain perca sisa handuk. Kali ini dia akan memasak ala Korea, Kimchi super pedas. Walau dia tahu, bahwa bulunya akan meregang karena kepedasan, dia suka masakan pedas. Sambil menjulurkan lidahnya yang merah dan bulunya yang seperti tersetrum, Dodonpa duduk di atap rumah. Matanya memperhatikan kucing-kucing kurus di sekitar rumah. Dia kemudian berpikir, mengapa mereka kelaparan sementara dia bisa makan sushi setiap hari?

Hujan turun deras. Dodonpa langsung masuk ke dalam loteng untuk segera memasak. Kali ini dia membuat soup macaroni dalam panci besar (yang sebenarnya terbuat dari ember besar penadah hujan di bawah atap yang bocor). Namun, kemudian dia kebingungan bagaimana caranya membawa masakannya ke jalan raya?

Langit semakin gelap, gemuruh hujan dan petir membuat Dodonpa semakin bersemangat. Dia ingin mendapatkan teman baru. Dia susun semua barang yang ada di loteng dan di rumah itu menjadi sebuah tangga. Tangga yang menghubungkan antara loteng, ruang tv dan pintu keluar. Susah payah dan sedikit berisik, Dodonpa membawa panci masakannya turun ke bawah. Nenek tua itu masih serius menatap layar televisi yang gelap.

Dodonpa tiba di tepi jalan dengan masakannya. Hujan mulai reda. Dia tersenyum menunggu dua puluh kucing kurus menghampirinya. Sinar bulan menyeruak dari balik awan mendung, malam itu. Senyum Dodonpa menghilang. Kucing-kucing kurus itu menghiraukan masakannya. Dodonpa menyodorkan panci besar pada mereka, tapi kucing-kucing itu melompat memojokkannya.

Sisa petir menggelegar menyinari kubangan air yang merefleksikan rupa Dodonpa yang sebenarnya. Seekor tikus besar. Dia baru sadar bahwa dia bukanlah teman dari kucing-kucing itu. Ternyata nenek tua itu terlalu tua untuk membedakan kucing sungguhan dengan dirinya tikus sebesar kucing, karenanya dia memanggilnya kucing Dodonpa, sesuatu sebesar kucing dan mengaggetkan.

Dodonpa pasrah terhadap keadaan. Dimana seekor tikus besar dan lezat terkepung kucing-kucing kurus yang kelaparan.


note:
terinspirasi 'ratatouille' dan 'fantastic mister fox'.

3 comments:

owh jd dodonpa itu tikus besar tp di pertengahan sedikit mau ninggalin baca tp penasaran hehehe

maap masih belajar hehehehe... thanks udah mampir bro :)

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More