Another Templates

Tuesday, 27 March 2012

Bunga

Merah berbalur orange di tengah setiap helai kelopak mahkota. Putik kuningnya menjuntai tenang. Serbuk sarinya menunggu angin, siap terbang. Ribuan bunga sepatu melingkarinya. Bunga tidur di padang luas di bawah langit sore.

Perlahan-lahan angin berhembus. Satu persatu serbuk sari terbang melintas di wajah Bunga. Dia masih terlelap.

Lama-kelamaan suara angin semakin keras. Ribuan serbuk sari rontok kemudian terbang menyerbu Bunga. Titik-titik kecil serbuk sari menempel di pipi Bunga dan kemudian terbang dengan cepat, sehingga meninggalkan luka sayatan. Suara bising angin pun mulai terasa sangat mengganggu. Senyum kecilnya pun menghilang, matanya mulai merasakan ketidaknyamanan. Langit yang tadinya cerah, mendadak mendung sehingga gelap membayangi mata Bunga. Bunga membuka matanya.

SEBUAH BUNGA SEPATU BESAR.

Disela-sela angin ribut, serbuan serbuk sari, mata Bunga membesar, mulutnya terbuka lebar, tapi tenggorokkannya tercekat tidak bisa mengeluarkan suara. Badannya bergetar merinding ketakutan. Dia mencoba mengangkat tangan dan kakinya, tapi tidak berhasil. Dadanya berdegup kencang. Bunga sepatu besar yang menyeramkan itu sudah tepat berada di atas wajahnya. Bunga sudah kehabisan nafas. Dia memejamkan matanya dan kembali mencoba berteriak kencang.

"AAAAAAAAAAAAA............"

Bunga terhenyak, terbangun. Satu-satunya suara adalah detak jarum jam yang menarik perhatiannya, selebihnya hening. Nafasnya terengah-engah. Dia hanya merasakkan sakitnya jarum infus yang terpasang di tangan kirinya, sementara tangan kanan dan kedua kakinya penuh gips dan perban. Bunga mencoba mengangkat kepalanya, tapi tertahan oleh penyangga di lehernya. Nafasnya mulai teratur, denyut jantungnya mulai melambat. Bunga memperhatikan ruang rawatnya, dia pun teringat bahwa dia baru saja menabrakkan mobilnya di toko bunga sepatu.

Selesai.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More