Another Templates

Wednesday, 11 December 2013

Boko - Ullen Sentalu, Yogyakarta 2013

Nah, kalau foto-foto berikut ini waktu aku jalan ke Ratu Boko dan Ullen Sentalu. :)

Ratu Boko's Gate


Ratu Boko's Room

Ratu Boko's Hall
 Ratu Boko site is the Roro Jonggrang parents house. Who is Roro Jongrang? She's a princess from Yogyakarta who makes Bandung Bondowoso build Prambanan Temple in one night. Here's complete stories Roro Jonggrang.

Prambanan Market
Ullen Sentalu is The art and culture museum of Java. If you want to know the roots of Keraton family you must visit this museum!

Ullen Sentalu

Ullen Sentalu

Ullen Sentalu
Sebenarnya acara jalan-jalannya tidak cuma ke Ratu Boko dan Ullen Sentalu, tapi juga ke Borobudur, Prambanan, dan Wisata Kuliner sekitar Yogyakarta. 2 days I've manage to go to 4 places. Wanna know my itinerary tour details? just leave comments here :)

Thursday, 21 November 2013

Autumn in London 2013

Okay, post sebelumnya memang fiksi, tapi cerita tentang perjalananku ke London adalah fakta. Dalam rangka apa ke negeri grumpy? Dalam rangka weekend bersama teman-teman akademisi film Indonesia yang sedang belajar di beberapa Universitas di luar negeri. Nah, kalau yang berikut ini foto-foto sungguhan ketika seminggu (oktober 2013) disana :)
Indonesian Film Researcher

Me at Privet Drive, but Harry wasn't live there anymore :(

Where is it? I can't remember, lol.

I lost between Westminster and Trafalgar Square

Warning do not buy an umbrella here unless it's urgent!

The British Museum on weekend. Crowded.

London city years ago.

Tuesday, 19 November 2013

London Dungeon

LONDON DUNGEON

Entah ini hari ketiga atau keempat dalam perjalanan singkatku ke London, Inggris. Setelah dibantai di panel workshop dua hari sebelumnya, hari ini aku pergi ke the British museum. Disana aku menemukan cetakan keras buku Alice in wonderland karya Lewis carol. Buku itu dicetak di kertas daur ulang yang dikelilingi benang kuning di setiap lembarnya. Di dalamnya, diengkapi ilustrasi asli dari buku cetakan pertama. Dulu, waktu jalan-jalan di Gramedia, aku pernah melihat cetakan asli – import – Alice In Wonderland yang harganya selangit. Harga buku di museum itu sebenernya nggak beda jauh dengan buku import itu, bahkan buku itu dicetak lebih baik. Sebenernya dengan mudah harusnya aku sebagai seorang pembaca yang hampir dibilang gila tentang buku-buku dongeng anak-anak bisa langsung membawa buku tersebut ke kasir dan membayarnya. Tapi lalu aku berpikir, gimana nanti caranya aku bisa bawa buku ini. Buku seberat 0,5 kg akan menambah beban tas yang aku bawa di cabin pesawat dengan batas minimal 3 kg. Tapi kalau aku menentengnya, aku mungkin akan jadi makanan tatapan orang sekitar yang merasa, ‘hey itu ada seorang asing, yang tampak seperti dari asia dan seperti bukan anak-anak lagi sedang membawa buku dongeng sepanjang masa yang ditulis oleh ahli matematika dan telah disadur ke lebih dari 40 bahasa, Alice in Wonderland’. Ya, aku nggak peduli soal itu. Tapi rasanya tidak ada yang akan peduli juga kalau aku tidak jadi membelinya hanya karena alasan itu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan membahas apakah aku akhirnya jadi membelinya atau tidak, karena aku akan menceritakan sesuatu yang tampak fiksi. Tapi aku tidak peduli apa kalian peduli atau tidak mengetahui ceritaku ini. Cerita dimana Wonderland benar-benar ada di London.
The British Museum 

***

Katanya kalau mau gampang pulang dari the brittish museum, hanya tinggal jalan kaki ke arah selatan, lurus terus maka akan menemukan daerah covent garden, trafalgar square dan sekitarnya. Di jalanan tersebut kita akan melewati makan siang yang lumayan beragam, dari mulai korean food, thai food, pasta sampai restoran yang bernama ‘Bali Bali’. Sayangnya, jam makan siang di derah 4 musim itu sekitar jam 1-2 siang, sementara aku keluar dari The British Museum jam 11 pagi, jadi aku belum begitu lapar. Dan karena tujuanku masih cukup jauh, yaitu pergi ke port River Thames di Westminster, jadi aku memutuskan untuk naik bis. Tapi setelah melihat sekeliling, damn! Nggak ada satupun halte di daerah itu. Sepertinya aku sudah jalan ke arah yang benar, apa memang daerah sekitar sini tidak ada halte bis? Aku buka aplikasi google map di smartphone yang berubah jadi dumbphone karena tidak ber-SIM. Benar saja, persimpangan yang memiliki tanda halte bis masih sangat jauh! Dengan tulang betis yang lumayang mulai ngilu merasakan suasana mendung musim gugur, aku kembali berjalan.

Sebenernya aku biasa dilempari tatapan aneh orang-orang asing ini. Rasanya aku kira sama ketika aku menatap aneh orang asing di Indonesia. Ketika itu, ada dua orang tua melihatku dengan  tatapan aneh. Tapi beberapa detik kemudian, aku yang terpaku menatap mereka dengan pandangan bingung. Karena sepertinya ada yang aneh dengan baju mereka. Pria tua itu memakai jaket yang menutupi rompi coklat diluar baju putih. Dia berjalan menggunakan tongkat dan topi yang persis dipakai Charlie Chaplin. Sementara disebelahnya, seorang ibu tua dengan baju yang memiliki rok besar dan korset ketat di pinggangnya. Rambutnya bersanggul rapi dengan hiasan rambut yang berbentuk topi kecil.

Kalau aku tidak salah ingat, di sekitar sini ada theater. Mungkin mereka anggota theater. Penasaran apakah mereka memang pemain teater, aku coba kelilingi jalanan itu. Jalanan yang tersusun dari balok-balok bata hitam dengan jalanan yang tidak rata itu ternyata berujung tak berarah. Aku mulai panik, apakah aku tersesat untuk yang kedua kalinya di London? Dan kali ini lebih parah, di tengah kota ketika hari hampir hujan deras.
Aku coba tarik nafas untuk menenangkan diri, lalu segera menghampiri sebuah pohon yang dipagari tembok kecil untuk duduk. Aku duduk di bawah pohon sambil melihat peta. Damn! Baterainya habis, beginilah jadi manusia yang tergangung dengan listrik, mati kutu ketika baterai ponselnya habis. Berusaha tenang, aku mengeluarkan powerbank khas orang indonesia, alias buatan china yang cuma laku dijual di Indonesia. Dan benar saja, kesialan beruntun! Power bank nya juga habis. Aku masih punya satu senjata lagi, peta tube (saluran kereta bawah tanah di London). Di peta tube terlihat stasiun terdekat dengan The Brittish Musseum. Kalau tadi aku jalan lurus ke selatan, melewati tempat makan, lalu ada pertigaan, lalu ada perempatan, menyebrang dan memutar berarti harusnya aku seudah dekat dengan stasiun…

Aku melihat jalanan di hadapanku.

Jalanan dan perempatannya tidak jauh berbeda. Tapi sesuatu yang menyeramkan lebih menusuk hatiku. Dingin mennyayat kulit pipiku. Aku menggelengkan kepala. Ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti mimpi.

Tidak Mungkin!

Aku menutup mata dan telinga.

Aku teriak dalam hati. Jantung ku berdegup kencang.

Aku duduk jongkok di bawah pohon, lalu membuka mata perlahan-lahan. Aku mulai mencerna sekeliling. Semua orang berpakaian seperti dalam film Les Miserable! Aku menggelengkan kepala. Pandanganku berhenti tepat di sudut kakiku, empat buah tiket bioskop. Kertasnya keras seperti kertas daur ulang. Tinta cetakannya hampir timbul. Tertulis sebuah judul film dan tanggal mainnya:

London Theater
Title : City Lights
Time: 8 pm
Date:  13 – 10 – 1931

Aku ada di London tahun 1931?

***

Aku melihat sekeliling, orang-orang itu melihatku. Nggak mungkin! Kalian pasti nggak percaya tapi ini benar-benar terjadi. Aku cubit dan pukul pipiku berkali-kali hingga merah dan terasa panas. Ini nyata!
Aku lari menelusuri jalanan menurun. Terus ke sebuah lorong, hingga menemui tangga dan bersembunyi di bawah jembatan. Aku merapat ke dinding dan memperhatikan 4 tiket yang aku temukan. Salah satunya sudah sobek terinjak, seperti jejak sepatu kuda tampak jelas tercetak. Aku menghela nafas panjang. Menggaruk kepala sekeras apapun tampaknya tidak akan merubah suasana. Memang aku suka film dan cerita dongeng, tapi bukan berarti aku harus masuk di dalamnya.

‘Bangun! Bangun!’ teriakku keras-keras sambil membenturkan kepala ke dinding. Suara derap kaki, mobil, sepeda, sepatu kuda, menenggelamkan teriakkanku. Malam sudah tiba, yang aku bisa dengarkan hanya aliran air yang menentes dari pipa sebuah toko roti di seberang jalan, percikan air yang terlindas roda kereta kuda, suara gesekan jas panjang dan jas dalam ketika seorang pria yang tampak seperti pejabat memakai topinya keluar dari toko roti membawa sekantung besar dikepit di antara ketiaknya dan suara orang berbincang di cafĂ© dengan bahasa yang nyaris tidak ku kenal, bahasa inggris dengan logat yang terlalu kental.

Desahan nafas. Nafasku? Tanya ku dalam hati, lalu aku menoleh ke arah kanan.

“HOLLY S****!” Wajah seorang gadis berambut pirang tepat berada 1 cm dari wajahku. Aku melompat keluar dari persembunyian, tapi dia langsung menarikku.

“Who are you?” tanyanya

“Who are you?” tanyaku balik penuh tekanan.

“Terlalu berbahaya untuk orang pendatang sepertimu dengan jaket bagus dan…” dia menatap leherku.
Aku langsung menutupi sebuah kalung emas yang memang sejak awal ku pakai dibalik bajuku. Tanpa ragu aku menjelaskan siapa aku.

“Aku tidak harusnya tinggal disini, aku datang dari Indonesia tahun 2013. Ini salah. Bagaimana bisa aku ada disini, gimana bisa aku kembali?”

Tapi dia hanya mengerenyitkan dahi, lalu memberikan senyum simpul seolah, berkata aku tidak peduli apa yang baru kamu ceritakan. Dia menarikku sambil berkata “Ikuti aku”

Terpaksa aku mengikutinya. Seorang gadis muda wajahnya putih dengan khas merah orang Inggris di pipinya, pakaiannya tidak begitu bagus, tapi juga tidak compang. Kuperkirakan dia bukan pengemis tapi juga bukan orang yang tinggal di rumah jalan utama. Benar, aku dibawanya tiba di sebuah gubug kecil di dalam lorong ketiga dari lorong keempat sebelah kanan setelah menelusuri jalanan cabang dari cabang utama jalanan utama. Dia membuka pintu rumah tersebut. Seorang pria yang agak sedikit lebih tua, kurus namun tidak terlalu tinggi, wajahnya bersih tapi tangannya terlihat kasar.

“Siapa dia?” tanyanya sambil membawa pisau besar.

Aku termenung entah tak tau harus berbuat apa.

***

Setelah mereka menggeledah isi tasku. Yang isinya Hp, PowerBank, kamera saku, dompet dengan tiga mata uang, Pounds, Dollar dan Rupiah, biskuit oreo yang langsung mereka cicipi dan beberapa peta london tahun 2013. Mereka baru percaya bahwa aku adalah seorang pelajar dari Asia yang mendalami ilmu astrologi alias peramalan.

Mereka memberikanku kebebasan untuk tinggal atau pergi, tapi aku tidak punya pilihan lain selain mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tinggal bersama mereka. Setidaknya sampai aku mendatangi pertunjukan bioskop yang tiketnya ku miliki. Menurutku tiket itu salah satu petunjuk. Mungkin? Mungkin juga tidak. Tapi kenapa tiket itu ada di kaki ku, kalau bukan berarti aku harus melangkah ke sana. Kebetulan memang hal yang tepat untuk menjelaskannya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menemukan kebetulan yang lainnya. Aku berharap kebetulan aku bisa  kembali ke London 2013.

***

Tidur di tempat tidur beralaskan kain kasar rasanya gatal sekali. Hangat memang, tapi sungguh menyiksa kulit, rasanya aku jadi tahu sebab orang Inggris memiliki kulit yang lebih keras. Tak apa, ini hari terakhir aku tinggal bersama kakak beradik Valerie dan Henry ini yang ternyata adalah keluarga miskin yang sudah tidak punya orang tua lagi. Pagi itu, hanya mengelap badan dengan kain yang Valerie berikan, aku sudah 3 hari memakai baju yang sama, aku keluar untuk sarapan bersama mereka.

“Berapa umur mu?” tanyaku pada Valerie.

“Tujuh belas”

Well, terlihat seperti 27, kataku dalam hati.

“Dan kamu?” tanyanya padaku

“22”

“Wow, kamu terlihat seperti 16 tahun”

Thank’s God, kataku dalam hati. Terlihat semuda itukah Aku?

“Berarti kita seumuran” kata Henry yang sedang menyiapkan peralatan kerjanya. Dia bekerja sebagai tukang reparasi gerobak dan kereta kuda di Blackfriars. Nama pelabuhan di sungai Thames yang menurutku menyeramkan.

“Aku lahir tahun 1989 dan kamu lahir sebelum 1900, tidak, kita tidak seumuran” aku mencoba menjelaskan.
Lalu dia membantahnya dan menjelaskan panjang lebar tentang pemikiranku yang masih merasa datang dari masa depan. Tidak semuanya bisa aku pahami, karena bicaranya yang cepat dan lebih seperti bernyanyi, hanya intinya “Percuma kau memaksakan diri membuat orang lain percaya kau adalah sesuatu yang hebat, padahal kau tidak berbeda dariku”.

“Jangan dengarkan dia” kata Valerie, yang lebih tertarik untuk bersiap pergi ke bioskop. Sambil memberikan roti dan segelas air teh jahe, dia menanyakan soal tiket itu. Henry melirik dan pergi dari rumah.

“Ini” Aku keluarkan tiket itu dan memberikan satu padanya.

“Malam ini aku sudah menyiapkan baju yang cocok untukmu” jelasnya.

“Baju?”

“Iya!” dia masuk ke dalam kamarnya lalu keluar lagi membawa baju dengan korset kecil dan rok yang sangat lebar. Aku pernah melihatnya seorang anak kecil memakainya di sebuah pesta pernikahan artis terkenal di Jakarta. Tapi pesta pernikahan itu menggunakan tema hallowen.

“Kenapa aku harus memakai ini?”

“Apa kamu mau mencuri perhatian dengan pergi menggunakan pakaian mu itu?”
Aku melirik baju sweater dan jeans biru tua ketatku.

“Tidak ada satupun yang mengerti bahan apa ini” Katanya sambil memegang celanaku. “Sepertinya ini bahan yang sama dengan para penambang, apa kamu penambang?” tanyanya lagi.

Memang jeans sebetulnya berasal dari para penambang. Bahan jeans sangat kuat, hingga para penambang akan lebih aman menggunakannya jika hendak turun ke dasar bumi untuk menambang. Selain itu juga dipakai para budak ketika kerja rodi untuk melindungi kaki-kaki mereka. Tapi anehnya, jeans malah dianggap sebagai celana trendy yang mahal harganya.

“Bukan, Val. Aku seorang penulis”

“Ya, Astrolog” Katanya sambil mengganggukkan kepala. “Apa kamu bisa meramalkan apa yang terjadi di kota ini?”

“Well, aku nggak tahu apa yang akan terjadi pada mu dan Henry, tapi aku tau sekitar tahun 1966 akan terjadi kebakaran hebat yang meluluhlantakan London”

“Kenapa?”

“Entahlah” jawabku malas menjelaskan lebih lanjut padanya. Selain itu aku takut kakak beradik itu malah akan bunuh diri karena tahu mereka akan mati.

Valerie menggelengkan kepala. Dia lalu menyuruhku mengganti baju. “Ini bajuku, aku rasa cukup. Kita tidak terlalu berbeda”

Dengan tinggi 165, membuat aku yang seorang perempuan memang tidak terlalu berbeda dengan kebanyakan orang Inggris, apalagi yang masih remaja seperti Valerie. Hanya saja, dia lebih gemuk dan kulitnya yang lebih putih.

1930 London Tailor Shop

***

Sore harinya, Henry pulang dengan wajah lesu dan penuh noda hitam yang justru membuatnya tampak lebih gagah.

“Aku tidak akan ikut kalian malam ini” Katanya sambil memandangi pakaianku dengan tatapan aneh. Yah, gimana enggak, aku seperti orang Korea yang didandani jadi orang inggris di film Cloud atlas, hanya saja rambutku tidak dipaksa berwarna merah.

“Kenapa? Kita dapat tiket gratis nonton bioskop!” Jelas Valerie sambil menunjukan tiket ke wajah Henry yang sebetulnya kalau dia berpakaian bagus dia bisa dikira sebagai keturunan pangeran inggris.

“Kamu tau itu punya siapa?”

Aku dan Valerie terdiam.

“Lihat nomor kursinya! Pemilik tiket itu tidak mungkin melupakannya begitu saja”. Henry mengelap wajahnya dengan serbet makan sekaligus untuk mengelap mulutnya yang basah karena minum segelas air dari mug besar. “Kalau mereka datang dan melihat kita ada di bangku mereka. Apa yang terjadi?”
Aku melihat wajah Valerie yang tampak kecewa. Kepangan rambutnya tampak sia-sia.

“Aku nggak mau kembali ke dungeon bodoh itu”

“Dungeon?”

“London Dungeon, tempat untuk menghukum siapa saja yang perlu di hukum” Henry mengambil kembali roti besar yang keras karena udara dingin. “Kamu orang asing, kalau mau merasakan London yang sebenarnya, coba masuk ke sana, mungkin kamu juga bisa kembali ke masamu melalui hukuman mereka”
Aku menggelengkan kepala. “Aku nggak peduli, aku tetap akan pergi”. Aku membalikkan badan dan meninggalkan mereka. Aku berada di luar rumah, lalu kututup pintu rumah menghilang dari tatapan Valerie yang bingung dan Henry yang tidak peduli.

House of Parliament 

***

Theater masa itu tidak jauh berbeda jika kalian melihat film-film jaman dulu. Orang yang mengantri di trotoar, mengular ke sebuah dua pintu besar yang dipagari tali merah dan dihadapannya terdapan sebuah loket terbuat dari kaca. Di atas loket tersebut terpampang papan judul film yang dikelilingi lampu pijar bulat-bulat. Masa itu masa dimana Eropa berhasil mengarungi samudra membuka wilayah baru di Asia dan mendapatkan pasokan tambahan bagi keberadaban mereka. Walau tetap intrik politik yang belum aku pahami, pasti tetap ada. Salah satunya menyebabkan kebakaran London 35 tahun kemudian.

Di dalam bioskop berjenjang berjajar kursi bioskop lipat yang punggungnya tidak datar dan tidak juga melengkung sempurna. Aku naik dari tingkat dua karena kursi yang aku miliki ternyata kursi VIP. Tempat duduk VIP berada di balkon-balkon kecil, yang hanya berisi 4 kursi. Aku duduk di salah satu kursinya, kursi terluar di tepi balkon. Kursi yang berlapis beludru tersebut walau keras tapi nyaman, lekuk segi 5 sandarannya menopang punggung agar tetap duduk dengan tegak. Aku gulung rok besar yang menyebalkan ini dan berusaha duduk dengan nyaman.

Kursi-kursi di balkon lainnya mulai terisi. Sekarang aku paham kekhawatiran Henry. Mereka adalah orang-orang yang tampak raya dan makmur, lengkap dengan dasi pita pada para prianya dan sarung tangan sutra yang menyelimuti para wanitanya sambil memegang teropong panggung. Sebuah layar turun. Lampu mulai padam, tiba-tiba pintu balkon terbuka. Ternyata Henry dan Valerie datang.

“Kenapa kalian datang?”

“Aku tidak bisa membiarkan Valerie datang sendirian” kata Henry sambil melirik pintu masuk.

Valerie tersenyum senang dan duduk di sebelahku, sementara Henry duduk dengan awas mengawasi pintu.
Film hitam-putih tanpa suara itu sebetulnya sangat menarik, apalagi tentang cerita klasik Tramp yang jatuh cinta pada wanita yang tidak bisa melihat. Tapi aku tidak bisa dengan tenang menikmatinya karena harus tetap fokus mencari cara untuk bisa kembali pulang. Aku memperhatikan para penonton di bawah, penonton, petugas bioskop, petugas keamanan. Tiba-tiba Henry menepuk pundakku.

“Kita harus pergi!”

 “Ada apa?” Aku menoleh menatap Henry. Valeri merangkul tangan Henry dengan gemetar.

“Sudah ku bilang ini bukan hal yang bagus!” Kata Henry sambil menarik tanganku dan mengajakku keluar dari balkon.

Di lorong bioskop sekelompok pejabat dan petugas kemanan tengah berdebat. Tiba-tiba mereka melihat Aku bertiga keluar dari balkon.

“Itu mereka!” kata sala satu dari satpam

“Lari” kata Henry.

Aku langsung mengangkat rok sialan itu, hingga sepatu kets ku terlihat jelas. Aku lari mengikuti. Henry dan Valerie.

Melalui pintu belakang, turun dari tangga darurat. Kami keluar di lorong yang ramai. Di atas tangga, satpam tetap mengikuti. Kami berbelok ke arah jalanan. Ternyata disana sudah ramai polisi berkuda sedang berjaga.

“Kita harus berpencar” Kata Henry

“Kemana?” tanyaku ketakutan

“Kemana saja!” Kata Valerie.

Valerie dan Henry lari ke arah yang berlawanan. Para polisi berkuda itu langsung mengejar mereka. Aku lari sekuat tenaga. Angin dingin menyayat cepat telingaku, seiring teriakan polisi dan derap suara kaki mereka yang kuat menekan balok-balok jalanan.

Kenapa? Apa salah menemukan sebuah tiket dan menggunakannya?

Kakiku sudah tidak kuat lagi. Aku terjatuh, tersungkur merasakan tanah malam yang keras dan dingin. Polisi-polisi itu langsung menarik kedua tanganku dan mengingkatnya dengan sesuatu seperti borgol. Mereka memasukkanku ke sebuah kereta. Bukan kereta biasa, lebih ke sebuah kotak dengan pintu berjeruji yang di depannya ditarik oleh kuda. Di dalamnya duduk Henry dan Valerie.

“Tidak perlu menangis! Jalani saja” kata Henry dengan wajah dingin. Aku merasa dia kecewa Valerie menemukanku dan membiarkan tinggal bersama mereka tiga hari terakhir ini. Terlebih, aku tidak memberikan apapun pada mereka.

“Apa salah menggunakan tiket yang kita temukan?” Tanyaku

“Hey! Sesuatu yang bukan milikmu dan kamu temukan di tengah jalan, bukan berarti jadi milikmu. Harusnya kamu kembalikan tiket tersebut ke teater atau ke polisi!”

“Ya, harusnya” aku bergumam. “Apa bisa kita minta maaf dan mengembalikannya?”

“Terlambat, siapa yang percaya?” ujar Henry

“Tapi ini semua sudah terjadi, dan aku nggak bisa diam saja!” kataku merasa bersalah. “Aku bisa menjelaskan siapa aku sebenarnya!”

Herny dan Valerie terdiam. Pernyataanku barusan tentu saja bodoh. Kami bertiga duduk dalam diam, sampai akhirnya kereta tersebut berhenti di sebuah kantor polisi. Bagunannya tidak jauh beda dengan bangunan tua pemerintahan dan atau bahkan menyerupai gereja. Kami di bawa ke dalam lorong oleh dua orang polisi.

“Di dalam dungeon ada sel-sel penjara yang terbuat merupakan sebuah ruangan kotak kayu besar. Kalian tidak boleh masuk dan merasakannya. Aku akan mengecohkan pria-pria ini dan kalian harus segera lari” Henry berbisik. Sesaat hendak masuk ke sebuah kotak kayu besar yang mereka sebut penjara. Para polisi itu melepaskan ikatan tangan kami masing-masing.

“Auch! Kakiku” tiba-tiba Henry teriak mengaduh.

Aku dan Valerie saling berpandangan. Kami langsung lari. Henry berusaha memukuli para polisi dengan segenap tenaga. Tapi Dua orang polisi tersebut langsung berhasil mengatasi Henry. Henry jatuh bungkuk dan langsung dihajar dua polisi tersebut. Aku dan Valerie lari menjauhi suara Henry yang bergetar dan menggema di lorong penjara.

Aku melihat Valerie menangis. Aku berhenti berlari. “Kita harus kembali dan menolong Henry”.

Valeri menarik tanganku dan mengajakku untuk tetap berlari. “Aku percaya padanya, dia akan kembali”

“Tapi?”

“Kalau kamu tidak lari sekarang, kalau kamu menyerah, kamu akan terjebak disini selamanya.”

Aku dan Valerie tetap berlari, menelusuri lorong demi lorong, menyebrangi jalanan penuh mobil dan kereta kuda. Sampai akhirnya kami tiba di tempat yang sama aku dan Valerie bertemu. Kali ini Valerie berada di tepi dinding yang dekat dengan jalanan. Dia memperhatikan jalanan.

“Aku tidak bisa terus berlari” ujarnya

Derap jantung dan nafasku tidak beraturan membuat Valerie memegang pundakku untuk menenangkanku.

“Dengar, aku harus menunggu Henry” jelasnya

“Tapi polisi masih mengejar!”

“Ya, makanya kamu harus tetap berlari dan kembali ke tujuanmu!” Sesekali Valerie melirik jalanan. “Kamu nggak mau ada disini ketika London terbakar kan?”

“Tapi…kalian?”

“Larilah!”

Aku langsung melepaskan kalung yang aku pakai. “Ini” aku memberikan kalungku padanya.

“Untuk apa?”

“Kau bisa membebaskan Henry dengan ini kan?”

Valerie menerima kalung tersebut lalu lari ke arah polisi. Aku membuka baju besar dan kembali mengenakan jaketku semula. Sementara aku lari ke arah beralawanan, terus berlari, melewati lorong-lorong yang berputar di kawasan gedung dengan pintu-pintu yang sama, taman-taman kecil dengan tempat duduk coklat, mobil tua lalu lalang, klakson dan lampu mobil menyoroti setiap perempatan yang aku lewati. Setiap hembusan nafasku berubah menjadi asap panas. Aku sudah tidak kuat lagi. Celana jeans ku sudah dingin dan lembab karena udara musim gugur. Aku duduk bersimpuh, kepalaku berputar, perutku terasa tertusuk panah.

Sambil membungkuk menatap tanah, aku coba mengatur nafasku. Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapanku. Aku memperhatikan sepatu kets addidasnya. Lalu aku menatap wajahnya, Seorang wanita sekitar umur 40-an, rambutnya pirang badannya tidak terlalu besar.

“Are you okay?” tanyanya.

Dari logatnya, tas backpack yang dia bawa dan keramahannya, aku menyimpulkan dia adalah turis Eropa di Inggris.

Aku mencoba berdiri, “Ya, I’am okay”.

Wanita itu tersenyum. Sejenak aku sadar, dia tidak menggunakan pakaian jaman dulu. Dia menggunakan pakaian jaman sekarang.

“YAEY!”

Aku langsung memeluknya.

“Thank you, thank you so much”

Dia malah semakin bingung.

“You don’t know what I just being trough. Yes, I am totally okay!”

Wanita itu langsung pergi meninggalkan aku yang terlalu bersemangat bahwa aku sudah kembali ke London 2013. Aku jalan dengan langkah ringan karena tiba-tiba pegal di kakiku menghilang. Tapi kemudian aku terpaku. Sambil memegang leherku yang sudah tidak berkalung, Aku memperhatikan bayangan diriku yang terpantul dari kaca toko baju di hadapanku. Aku masih memakai baju dengan rok besar.

Upper Class Citizen

END.





Sunday, 10 November 2013

When People Only Think About Career: LinkedIn Story

Beberapa waktu lalu seseorang mengundang pertemanan di LinkedIn. Walaupun aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi karena orang tersebut pernah bekerja di tempat yang sama dengan ku beberapa tahun lalu, aku menerima undangan tersebut.


Anehnya, setelah aku menyapanya sekedar ingin bersapa atas sesama bekas pegawai kantor yang sama, aku menyadari dia sepertinya tidak tertarik untuk berbicara sebagai teman. Bahasanya kaku dan tidak peduli, seolah-olah menganggap aku ada perlu dan 'sok kenal' dengannya. Salah satu balasannya adalah:

"ada keperluan apa ya ...?"

Dalam hati, lah orang ini yang mengundang saya, tapi kenapa dia yang malah bertanya ada perlu apa saya sama dia? :D

Penasaran apa sebabnya orang itu bersikap demikian, aku bertanya darimana dia tahu LinkedIn ku. Kemudian jawabnya adalah:

"acak aja di LinkedIn, saya kerja as headhunter jadi udah biasanya begitu buka2 linkedin dan keep connect to people"

Setengah tertawa ini pendapat saya atas tulisan jawaban dia:

- bagian pertamanya: "acak aja di linkedin,..."
cara macam apa itu? buka sosmed lalu secara aca mengundang orang? Kok seperti tidak punya tujuan atau maksud yang jelas yah? apa memang begini cara orang sekarang berkenalan dengan orang lain? 'ya acak aja...'

- bagian kedua: "...saya kerja as headhunter jadi udah biasanya begitu..."
Aaa, dia kerja as headhunter. Maksudnya tugasnya adalah penyalur outsourcing atau semacamnya, begitu? dengan adanya sosmed kayanya banyak orang yang bekerja seperti ini, asmot! asal comot, yang penting keliatan punya network banyak sama atasannya, tanpa memedulikan hubungan personal.

- bagian ketiga: "... buka2 linkedin dan keep connect to people."
Sebenernya pernyataan dia ini bagus loh, maksudnya kita perlu menjalin dan menjaga silaturahmi kan? - keep connect to people - tapi apa berarti silaturahmi itu sudah tidak memerlukan sopan santun lagi? Lagipula yang dia lakukan itu connect to linkedin bukan to people, :p


Kesimpulannya, saya hanya diajak menjadi koneksi sosmed miliknya hanya karena dia bertugas sebagai headhunter, karirnya.

Anyway, pada akhirnya saya minta maaf pada orang itu. Karena saya merasa tersinggung di jadikan orang 'acak' sebagai alasan pertemanan, saya terpaksa menghilangkan contactnya dari halaman linkedin saya.

Sekali lagi bagi orang yang merasa jadi inspirasi tulisan ini maaf ya, semoga kita bisa berteman di tempat lain. :)


Monday, 4 November 2013

A kid Who only remember the Future

Title : A kid Who only remember the Future
Tagline : 'The future is the only thing I could remember'
Synopsis :
A story of a kid who cannot remember his past and could only remember his future. He forget his name, his parents, his teacher and everything he did in the past. Yet, he can predict what will going to happen. Everybody thought he has brain damaged. He doesn't resist it, because he knows there are people going to help him. He just need to walk the path... .

Screenplay:

Thursday, 12 September 2013

WanitaTetapWanita - Cupcake

As you see in my previous post tentang WanitaTetapWanita, akhirnya trailernya release dan begitu juga filmnya.

Mau liat trailernya? Nih videonya...



Yang belum baca tentang pengalaman menulisnya silahkan balik ke posting:
http://www.ilmaff.com/2012/11/omnibus-superwoman-cupcake.html

^_^

Friday, 2 August 2013

Paper Head

A while ago, DANBO (paper folding character) was very popular. Many people made Danbo, including me ^_^...!

Then I realize that actually you can make many characters by folding paper, or known as ORIGAMI. I have to admitted that origami is not as simple as it looks. The real origami artist can make many-many things from only a piece of paper without any help from glue and scissor! But I'm not even close to origami artist, I just like to make some art work sometimes. :)

Today, I made a ball from a paper. Latter on I'm thinking to paint a face on it. A minute latter I have the idea of putting a popular character on it, such as Brown/James/Boss from Line Sticker Character or even a Minion face!

Yup, the process is right here:

make a pattern

first head paper (original character)

print and print the patterns

half done

head paper 'boss - Line Sticker'

head paper 'James - Line Sticker'
Without glue!

Why there isn't Minion or Cony or Moon character? It simply because I'm running out of printer ink, LOL...

Anybody want it or want to now how I did it? Lemme know! ^_^



Thursday, 18 April 2013

Cat Cat and Rafe

Ternyata membuat sebuah karakter itu nggak gampang yah, ^_^"... Salut sama studio ghibli, sanrio, disney dan semuanya.

I know I don't have skill to draw, but at least I've tried, :p

First thing I did is do small research about some animals, then I start sketching, brainstorming, etc etc...
finally here are the results:

I call them EPCUTE. It means earphone on cuteness, it's because every character has their own earphone. Well, big earphone... :p

basic design of 'cat cat'

cat cat on many poses

basic design of 'rafe'

Rafe on many poses

Then I add them on a t-shirt design:



I think, they're all not so bad, aren't they?
(I wish)
^_^

Thursday, 21 February 2013

Shadow

Actually I don't know how can I describe this post label. Maybe it worth to  animation and screenplay, :D

'Shadow' is the title of my first animation short film. My role is as a Producer and Writer.
 
The original title is 'Lisa dan Bayangan'. Bayangan means shadow. Yup, right! The story is about a little girl's shadow, Lisa's Shadow. What about her shadow?

There's once a myth about shadow in Indonesia. Old people always says that shadow is the dark side of a human being. If a person did something bad then it shadow will grew bigger and bigger until turn into a monster. The monster shadow will eat the person a live. Otherwise, if we did something good, then we can control our shadow, our dark side.

The myth happen to become reality in Lisa's life. Lisa is a naughty girl. She never obey her mother. One day her shadow turn into a monster!

Here is the teaser:

https://vimeo.com/channels/balokstudio

Here is some screencaptures:




Have you seen the teaser? What do you think about it?

^_^

Tuesday, 19 February 2013

Super Mom Super Rempong - (E05 - WIL)

Super Mom Super Rempong

by Diva Girl



   Diva girls here! Kenalkan, nama gue diva girl (nama yang sebenarnya, eh bukan deng..:p ), gue kerja di d!va.com. Tapi gue bukan "Gossip Girl" loh ya, karena tugas gue bukan ngegossip dan kirim sms ke semua temen-temen sma (jadul banget sms), tapi tugas gue adalah mendokumentasikan semua yang dilakukan pentolan d!va.com. Sissy, ibu anak satu yang bertugas jadi produser ini amat sangat hitungan dan amat sangat mengidolakan Celine Dion. Nadya, ibu yang sampai sekarang belum punya anak adalah marketing utama d!va.com, kalau bukan Nadya proyek tidak akan cincai. Renata, janda satu anak ini adalah seorang sutradara paling komplit, bisa bikin company profile, tv series sampai feature art film. Seharusnya dokumentasi ini tertulis dengan gaya cerita "Sex and the City", tapi jangan salahin gue, kalau ternyata tulisan gue malah lebih jadi cerita metropop comedy ketimbang cerita metropop edgy. Soalnya, ketiga pentolan d!va.com tadi amat sangat rempong, sis!


***

SMSR - Wanita Idaman Lain


    Minggu ini, d!va.com lagi dapet proyek di Bali. Seperti biasa baru juga sampai di Bali, ketiga pentolan d!va.com udah rempong.

Twitter:
@Nadyawowowhitz: Touchdown Bali bareng @sissylinDion dan @Renatadrctr *hug*
@SissyLinDion: Gak diajak tapi tiba-tiba ikut RT "@Nadyawowowhitz: Touchdown Bali bareng @sissylinDion dan @Renatadrctr *hug*"
  
    Sadar kalau ternyata Nadya, Sissy dan Renata duduk sebelahan di taksi - humm salah, lebih tepatnya duduk empet-empetan kaya susunan dodol di dalam kotak dodol - Nadya protes sama Sissy yang membalas mention dia di twitter.

Nadya: Sissy kita kan sebelahan, kenapa lo jawab di twitter?
Sissy: Udah tau sebelahan, kenapa lo mention juga?
Nadya: Pengumuman dong, kalau gue udah di Bali. Nih ya girls (mengeluarkan selembar kertas yang lebih mirip tisu gulung karena amat panjang) gue udah bikin daftar kegiatan. Pertama kita ke pasar ubud, beli kain...

    Seperti biasa, Nadya nggak sadar kalau Sissy dan Renata sebenernya lagi sibuk sendiri. Sissy sibuk bongkar kertas-kertas tiket dan reservasi hotel, sementara Renata sibuk denger musik (kenapa gue bilang denger musik aja kok sibuk? soalnya Renata denger musik sambil memperagakan gaya aksi panggung a la Marroon 5 nyanyi "Move Like Jagger", walau sebenernya gerakannya lebih keliatan kaya gerakan ulet keket karena mereka duduk empet-empetan). Sampai akhirnya kepala Renata kejedot kaca taksi.

Renata: (benerin poni dari rambut pendeknya untuk nutupin benjol yang segede melon) Duh, Nad kita kan mau syuting bukan mau belanja.
Nadya: Tunggu dulu dong, semua yang gue belanjain nanti itu bisa gue jual lagi di Jakarta. Jadi perjalanan ini (sambil sedikit menyanyi ala Ebit G Ade) bisa balik modal...
Sissy: Ide bagus tuh balik modal, jadi kali ini kamar hotel lo bayar sendiri ya Nad!
Nadya: Itungan banget sih? (tiba-tiba mengeluarkan kipas segede koran nasional) Kan gue yang dapetin proyek ini.
Renata: (menghalau kipas dengan gaya songoku) Sejak kapan lo punya kipas songoku begini?
Nadya: Beli di Bandara dong...
Sissy: Tapi Nad, ini kan kipas untuk pajangan, bukan buat kipasan.
Nadya: (Bengong kaget kaya pencari fosil yang baru saja mengetahu bahwa tulang yang digalinya bukan tulang dinosaurus tapi tulang ayam)

    Tiba-tiba supir taksi mengerem mendadak dan melihat ke arah Nadya, Sissy dan Renata yang masih ceriwis.

Supir taksi: Jadi kita ini mau kemana ibu-ibu? Hotel? Ubud? atau ke Bandara?
Nadya: (dengan kecepatan supersonik, Nadya menjawab sebelum Sissy dan Renata sempat menjawab) Rumah makan bebek betutu! Yaaaeeeyyy...

    Gue nggak tau sebenernya Sissy dan Renata setuju atau nggak dengan usulan Nadya untuk mampir ke rumah makan, tapi yang gue tau pasti, Sissy dan Renata laper total. Satu porsi Bebek ludes dalam waktu kurang dari 0,0000001 detik. Harusnya, dimana-mana, siapapun juga, kalau udah makan pasti otak jadi lancar dan tingkat produktivitas meningkat secara signifikan. Tapi bagi emak-emak ini, yang meningkat secara signifikan kalau abis makan adalah ke-rem-po-ngan-nya. Nadya dan Renata sibuk memberi nilai pelayan mana yang paling ganteng, sementara Sissy sibuk bantuin baca bbm dari anaknya  yang lagi ngerjain Pe-Er.

Sissy: Eh Nad, Ta, bantuin gue dong (dengan mata juling karena dari tadi baca tulisan yang amat panjang) Soal matematika anak gue susah banget.
Renata: Katanya Super Mom, tapi matematika anak SD aja bingung. Contoh dong gue, anak gue nanya apa aja, pasti gue bisa jawab. (langsung ambil telepon) Iya sayang, coba tanya mama, pelajaran apa lagi yang kamu bingung?
Sissy: (melirik Nadya) Nggak yakin gue?
Nadya: (menangguk-anggukkan kepala kayak ayam lagi makan) Sama!
Renata: (wajah serius melebih wajah Einstein yang lagi pup) volume sebuah tabung 125,6 cm kubik dan tingginya 10 cm, berapa jari-jari tabung itu? Humm sebentar ya...
Nadya: Tabung melon atau tabung elpiji?
Renata: Menurut lo apa Si?
Sissy: Apa hubungannya?
Nadya: Ya jelas beda harga dong (nyengir nggak keruan)
Renata: Ah, payah deh semua, Mas-mas sini dong... godain kita dong...(menunjuk ke pelayan pria paling seksi)

    Setelah merevisi kata "Godain kita dong" menjadi "Bantuin kita dong" akhirnya pelayan pria yang seksi itu dateng ke meja mereka. Mereka memanggil pelayan, tentu saja bukan untuk tambah pesenan atau bahkan bayar makanan. Pelayan itu disuruh ambil kalkulator dan dirempongi oleh soal-soal matematika anak Sissy dan Renata sampai akhirnya mereka sadar, kalau sebenarnya kru d!va.com lainnya belum juga tiba di Bali. Ternyata, akibat dari terlalu senang bisa jalan-jalan ke Bali, Nadya salah memesan tanggal tiket untuk kru. Akibatnya, sementara kru di Jakarta kebingungan kenapa bos mereka pergi duluan, Sissy panik karena harus merubah jadwal syuting.

Sissy: Haduh Nad, gimana sih kok bisa salah?
Nadya: Yaudalah si... kita emang ditakdirkan liburan dulu kaleee (mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya). Akhirnya gue punya waktu untuk pijet di pantai (mengeluarkan kipas kali ini yang ukurannya normal)..
Renata: kalau udah takdir mau gimana lagi? Gue udah kangen ke pantai nih, butuh pemandangan.
Nadya: butuh pemandangan cowo pastinya, ya kan?
Renata: Pastinya, pemandangan yang terpampang nyata!
Sissy: (bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan serbet yang masih tersangkut di bajunya) Biar ada aral melintang, kita harus bisa menuhin deadline.  Nggak ada yang boleh pijet apalagi cari cowo! Kita harus bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya! Nadya, lo gue tugasin untuk cari tiket pengganti secepatnya. Dan lo bu director, lo harus siap-siap cek lokasi!
Renata: Huh, Oke. Emang lokasinya dimana?
Sissy: (berpikir bahwa sebelum orasi tadi lupa kalau lokasinya adalah di pantai) Pan...tai...
Nadya & Renata: (Jejingkrakkan dan nari hula-hula sambil ngetwit)

@Nadyawowowhitz: Pijet dulu apa kepang dulu, Pijet? kepang? pijet? kepang? Galau @ Bali!
@RenataDrctr: Hunting lokasi di pantai, sama aja gue cuci mata dong... Cetar!
@SissyLinDion: KERJAA DOLOOOOoooo !!@Nadyawowowhitz @RenataDrctr

    Perang twitter itu nggak berlangsung lama, cuma sepanjang perjalanan dari rumah makan sampai ke pantai yang jaraknya cuma 30 menit. Karena begitu tiba di pantai, tiba-tiba Sissy ditelepon oleh anaknya, Arditya. Demi menjadi Super Mom, Sissy mendahulukan anaknya. Sissy berjalan meninggalkan Renata dan Nadya karena sibuk mencari sinyal supaya video call dengan anaknya lancar.

Sissy: Makanya lain kali kerjain pas mama ada di rumah.
Arditya: Tapi kan dikumpulinnya besok. Intinya, mama bisa jawab nggak?
Sissy: (sok nantangin) Apa pertanyaannya?
Arditya: Pak Ali memiliki simpanan sebesar 500.000 di bank A, sedangkan bu Ali memiliki simpanan 20% lebih banyak dari Pak Ali. Berapa banyak jumlah simpanan Pak Ali dan Bu Ali?
Sissy: (pura-pura nggak denger) Coba ulang lagi pertanyaannya?
Arditya: Intinya 20% dari 500.000 ditambah 500.000. Berapa ma?
Sissy: Sebentar (mata merem melek dan mulut komat-kamit, maksudnya menghitung tapi malah jadi kaya dukun peramal)
Arditya: Yaudah deh, mama itung dulu ya..., aku mau makan siang dulu. Udah siang nih!
Sissy: Gawat! Kalau di Jakarta udah siang, berarti di Bali udah sore! (lari tunggang langgang nyari Nadya dan Renata)
Arditya: Bukannya bantuin ngitung malah main kejar-kejaran (merengut kesal sampai bibirnya kaya ikan Dori)

    Pantai Kuta itu luasnya nggak kurang dari 17 Km persegi. Bisa nggak ngebayangin seorang wanita karir lengkap dengan baju modis dan heels lari-larian di atas pasir Pantai Kuta karena nyari dua orang teman serempongannya, Nadya dan Sissy? Yup, bener banget semua orang yang dilewatinya memasang mata melotot dan bertepuk tangan karena Sissy tampak seperti sedang akrobat. Sissy nggak tahu kalau Nadya sedang sibuk memilih antara pijat dan kepang. Karena dihadapan Nadya ada ibu-ibu dengan topi lebar dan selembar handuk yang di gelar di sebelahnya, Nadya langsung memilih pijat terlebih dahulu. Nadya duduk di atas selembar handuk tersebut.

Nadya: Permisi, saya mau pijat dong bu.
Ibu: (yang ternyata matanya sipit dan kulitnya amat sangat putih, tapi nggak seputih kunti) Anata wa dare?
Nadya: Ha! Orang Jepang ya? Punten pisan, punten nyak...

    Nadya langsung ngibrit lari meninggalkan ibu-ibu Jepang yang sedang duduk di tepi pantai menunggui anaknya berenang di laut. Nadya tahu kalau bahasa Jepangnya maaf itu Sumimasen, tapi karena gugup semua yang diingatnya hanya bahasa sunda. Sementara itu Renata malah sibuk kenalan dengan pria Bali. Seorang pria mendekati Renata yang sedang membidik gambar dengan gaya Quentin Tarantino (lebay gitu deh pokoknya).

Pria Bali: Mba fotografer yah? boleh fotoin saya?
Renata: (tersipu layaknya ikan sapu-sapu) Oh maaf saya bukan fotografer. Saya sutradara, Ituloh.. (pede banget sampai idungnya kembang kempis) yang ngarahin kru kalau syuting film.
Pria Bali: (Gombal segombal-gombalnya) Wah pantes, belum apa-apa mba sudah mengarahkan hati saya.
Renata: Ahahahah... bisa aja (memukul-mukul pundak Pria Bali a la anak alay)

    Hampir satu jam mondar-mandir dan akhirnya memutuskan untuk melepas sepatunya, Sissy belum juga menemukan Nadya dan Renata. Tapi kemudian Sissy ingat, cara paling mudah dan praktis untuk menemukan kedua emak-emak langka di d!va.com.
   
@SissyLinDion: Hei dimana kalian @Nadyawowowhitz @RenataDrctr ? Gimana kerjaan?
@Nadyawowowhitz: Tanggung, lagi di kepang RT "@SissyLinDion: Hei dimana kalian Nadyawowowhitz @RenataDrctr ? Gimana kerjaan?)
@RenataDrctr: Gue di belakang lo! RT "@SissyLinDion: Hei dimana kalian @Nadyawowowhitz RenataDrctr ? Gimana kerjaan?"

    Dengan panik a la Jay Z campur Eminem kalau lagi nge-Rap, Renata menjelaskan pada Sissy bahwa mereka harus segera mengadakan pertemuan enam mata. Akibatnya dengan rambut yang masih setengah di kepang, Nadya harus kembali ke hotel untuk menemui Renata dan Sissy. Mereka melakukan pembahasan dengan semangat 45, suara lantang dan berani, tapi minus tombak, karena mereka bukan berjuang untuk membela negara tapi membela d!va.com

Renata: Tadi gue ketemu Cowo...
Sissy: (nyalip kaya bajaj) Tuh kan, lo nyari cowo!
Renata: Masalahnya cowo itu penjaga pantai. Dan kalau kita mau syuting kita harus ijin dulu! d!va.com belum ijin katanya!
Sissy: Tapi kru udah siap kesini kan Nad?
Nadya: (sibuk menutupi kepalanya dengan syal yang membuatnya jadi malah lebih mirip Jack Sparrow) Kalau cancel uangnya hangus separoh, sayang Si..
Penjaga Hotel: (Muncul tiba-tiba layaknya hantu di film-film horor) Maaf ibu-ibu. Lobby hotel ini ada pengunjung lain juga, jadi mohon toleransinya dengan suara yang agak dikecilkan sedikit.
Nadya&Sissy&Renata: (melongo memperhatikan penjaga hotel dengan sedikit ngeces, karena agak sedikit ganteng) iya

    Akhirnya mereka melakukan pembahasan dengan semangat 45 dikurang 90%, mata mereka saling bertatapan layaknya tokoh dalam sinetron, sementara tangan mereka sibuk berdebat melanjutkan pembahasan di twitter.

@Nadyawowowhitz: @SissyLinDion pasti nggak mau kan kalau uangnya ilang?
@RenataDrctr: Lagian, @SissyLinDion malah sibuk ngerjain Pe-Er. Kenapa sih nggak dikerjain dari kemaren.
@SissyLinDion: Dikumpulinnya besok! Udah deh gini aja. Tiket gue yang pegang. Ijin lokasi gue yang urus.
@Nadyawowowhitz: Nah gitu dong, kan gue bisa lanjutin kepangan gue.
@RenataDrctr: Emang harusnya begitu. Gue mau baca naskah aja.
@SissyLinDion: Eh nggak, @Nadyawowowhitz @RenataDrctr harus ngerjain Pe-Er anak gue.
@Nadyawowowhitz: Gue pengen lanjutin kepangan gue, bukan malah ngerjain PR, huwawawa...

    Nadya dan Renata jatuh dari kursinya lalu guling-guling sampai pintu keluar hotel. Tapi mereka tiba-tiba berdiri dengan cantik begitu Penjaga Hotel yang ganteng mendekati mereka. Terpaksa Nadya dan Renata pindah tempat ke restoran untuk bantuin ngerjain Pe-Er Arditya.

Arditya: Sebenernya simpanan itu apa sih tante?
Renata: (Cuek lebih cuek daripada bebek) Apa Nad?
Nadya: (Jahil lebih jail daripada orang-orang jaman jahiliah) Mau tau aja apa mau tau banget?

    Sementara itu di pantai, dengan semangat profesionalisme a la Tom Cruise di Mission Imposible ke 59 (saking lebaynya), Sissy mengurus semua kekacauan yang ada.

Sissy: (berdiri di tepi pantai sambil menelepon, dengan gaya Julia Robert di EPL) DOP sama Sound aja, dua orang aja! Beli tiket langsung sore ini ya! Malem ini kita langsung syuting!
Pria Bali: (menepuk pundah Sissy) Mba temennya Renata?
Sissy: (melompat seperti lumba-lumba) Ahaaaa! ini dia! Kamu ya yang ngaku-ngaku pengurus pantai? bukannya disini bebas kalau mau syuting?
Pria Bali: Oh itu, saya cuma pura-pura. Supaya dia dateng lagi nyari saya, eh dia malah kabur. Mba punya nomor teleponnya?
Sissy: Ya ampun, mau minta nomor telepon aja sampai pura-pura (nyari nomor Renata di Hp nya) Akhirnya ada juga yang mau sama ibu satu anak itu...Nih (memberikan hp pada Pria Bali)
Pria Bali: (menghilang ditelan ombak).

    Akhirnya seiring dengan tenggelamnya matahari, tenggelam juga tuh semua kekacauan. Gawatnya, mereka harus segera syuting sebelum butuh lampu tambahan nggak ada cahaya matahari. Sambil melanjutkan kepangan rambut, Nadya menemani Sissy, sementara itu Renata mempersiapkan peralatan syuting.

Sissy: Kalian semua sungguh teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya teganya
Nadya: Hop!
Sissy: Masa anak gue diajarin wanita idaman lain? Suami gue langsung potong uang bulanan.
Nadya: Abis pertanyaannya aneh sih, "simpanan" itu apa? Nama lain simpanan kan wanita idaman lain, iya kan?
Renata: (menghampiri Nadya dan Sissy layaknya banteng melihat kain merah) Sissy! DOP sama SoundMan udah siap, tapi.....
Sissy: Nah gitu dong, lo emang sutradara handal Ta.
Renata: Tunggu dulu, denger dulu, talentnya MANAAAA!!!
Sissy: (setelah bengong dan kaget selama 100 abad, langsung meratap seperti ratapan anak tiri) Sista... gue lupa ngerubah tiket pesawat modelnya!

    Nadya, Renata dan Kru langsung merayap di pasir berebutan sampai ke laut, layaknya anak penyu yang buru-buru pengen melihat laut lepas. Gue berharap semoga kegiatan mereka selama di Bali selanjutnya, tidak serempong ini, Aamiin...!


....bersambung (.... tunggu cerita eps berikutnya yaaa.....^_^)


Note:
Behind The Story
Akhir tahun lalu, aku berkesempatan nulis sitkom untuk KompasTV, 'Super Mom Super Rempong'. Thanks to Robby Ertanto sang Sutradara, karyaku nambah lagi :).

Nah cerita di atas adalah episode pertama SMSR yang aku tulis. Iseng, aku mencoba merubahnya dalam bentuk cerpen metropop komedi.

Dan bagi yang mau liat episode aslinya silahkan cari di www.kompas.tv.

Seeyaa!! ^_^


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More