Another Templates

Thursday, 21 November 2013

Autumn in London 2013

Okay, post sebelumnya memang fiksi, tapi cerita tentang perjalananku ke London adalah fakta. Dalam rangka apa ke negeri grumpy? Dalam rangka weekend bersama teman-teman akademisi film Indonesia yang sedang belajar di beberapa Universitas di luar negeri. Nah, kalau yang berikut ini foto-foto sungguhan ketika seminggu (oktober 2013) disana :)
Indonesian Film Researcher

Me at Privet Drive, but Harry wasn't live there anymore :(

Where is it? I can't remember, lol.

I lost between Westminster and Trafalgar Square

Warning do not buy an umbrella here unless it's urgent!

The British Museum on weekend. Crowded.

London city years ago.

Tuesday, 19 November 2013

London Dungeon

LONDON DUNGEON

Entah ini hari ketiga atau keempat dalam perjalanan singkatku ke London, Inggris. Setelah dibantai di panel workshop dua hari sebelumnya, hari ini aku pergi ke the British museum. Disana aku menemukan cetakan keras buku Alice in wonderland karya Lewis carol. Buku itu dicetak di kertas daur ulang yang dikelilingi benang kuning di setiap lembarnya. Di dalamnya, diengkapi ilustrasi asli dari buku cetakan pertama. Dulu, waktu jalan-jalan di Gramedia, aku pernah melihat cetakan asli – import – Alice In Wonderland yang harganya selangit. Harga buku di museum itu sebenernya nggak beda jauh dengan buku import itu, bahkan buku itu dicetak lebih baik. Sebenernya dengan mudah harusnya aku sebagai seorang pembaca yang hampir dibilang gila tentang buku-buku dongeng anak-anak bisa langsung membawa buku tersebut ke kasir dan membayarnya. Tapi lalu aku berpikir, gimana nanti caranya aku bisa bawa buku ini. Buku seberat 0,5 kg akan menambah beban tas yang aku bawa di cabin pesawat dengan batas minimal 3 kg. Tapi kalau aku menentengnya, aku mungkin akan jadi makanan tatapan orang sekitar yang merasa, ‘hey itu ada seorang asing, yang tampak seperti dari asia dan seperti bukan anak-anak lagi sedang membawa buku dongeng sepanjang masa yang ditulis oleh ahli matematika dan telah disadur ke lebih dari 40 bahasa, Alice in Wonderland’. Ya, aku nggak peduli soal itu. Tapi rasanya tidak ada yang akan peduli juga kalau aku tidak jadi membelinya hanya karena alasan itu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan membahas apakah aku akhirnya jadi membelinya atau tidak, karena aku akan menceritakan sesuatu yang tampak fiksi. Tapi aku tidak peduli apa kalian peduli atau tidak mengetahui ceritaku ini. Cerita dimana Wonderland benar-benar ada di London.
The British Museum 

***

Katanya kalau mau gampang pulang dari the brittish museum, hanya tinggal jalan kaki ke arah selatan, lurus terus maka akan menemukan daerah covent garden, trafalgar square dan sekitarnya. Di jalanan tersebut kita akan melewati makan siang yang lumayan beragam, dari mulai korean food, thai food, pasta sampai restoran yang bernama ‘Bali Bali’. Sayangnya, jam makan siang di derah 4 musim itu sekitar jam 1-2 siang, sementara aku keluar dari The British Museum jam 11 pagi, jadi aku belum begitu lapar. Dan karena tujuanku masih cukup jauh, yaitu pergi ke port River Thames di Westminster, jadi aku memutuskan untuk naik bis. Tapi setelah melihat sekeliling, damn! Nggak ada satupun halte di daerah itu. Sepertinya aku sudah jalan ke arah yang benar, apa memang daerah sekitar sini tidak ada halte bis? Aku buka aplikasi google map di smartphone yang berubah jadi dumbphone karena tidak ber-SIM. Benar saja, persimpangan yang memiliki tanda halte bis masih sangat jauh! Dengan tulang betis yang lumayang mulai ngilu merasakan suasana mendung musim gugur, aku kembali berjalan.

Sebenernya aku biasa dilempari tatapan aneh orang-orang asing ini. Rasanya aku kira sama ketika aku menatap aneh orang asing di Indonesia. Ketika itu, ada dua orang tua melihatku dengan  tatapan aneh. Tapi beberapa detik kemudian, aku yang terpaku menatap mereka dengan pandangan bingung. Karena sepertinya ada yang aneh dengan baju mereka. Pria tua itu memakai jaket yang menutupi rompi coklat diluar baju putih. Dia berjalan menggunakan tongkat dan topi yang persis dipakai Charlie Chaplin. Sementara disebelahnya, seorang ibu tua dengan baju yang memiliki rok besar dan korset ketat di pinggangnya. Rambutnya bersanggul rapi dengan hiasan rambut yang berbentuk topi kecil.

Kalau aku tidak salah ingat, di sekitar sini ada theater. Mungkin mereka anggota theater. Penasaran apakah mereka memang pemain teater, aku coba kelilingi jalanan itu. Jalanan yang tersusun dari balok-balok bata hitam dengan jalanan yang tidak rata itu ternyata berujung tak berarah. Aku mulai panik, apakah aku tersesat untuk yang kedua kalinya di London? Dan kali ini lebih parah, di tengah kota ketika hari hampir hujan deras.
Aku coba tarik nafas untuk menenangkan diri, lalu segera menghampiri sebuah pohon yang dipagari tembok kecil untuk duduk. Aku duduk di bawah pohon sambil melihat peta. Damn! Baterainya habis, beginilah jadi manusia yang tergangung dengan listrik, mati kutu ketika baterai ponselnya habis. Berusaha tenang, aku mengeluarkan powerbank khas orang indonesia, alias buatan china yang cuma laku dijual di Indonesia. Dan benar saja, kesialan beruntun! Power bank nya juga habis. Aku masih punya satu senjata lagi, peta tube (saluran kereta bawah tanah di London). Di peta tube terlihat stasiun terdekat dengan The Brittish Musseum. Kalau tadi aku jalan lurus ke selatan, melewati tempat makan, lalu ada pertigaan, lalu ada perempatan, menyebrang dan memutar berarti harusnya aku seudah dekat dengan stasiun…

Aku melihat jalanan di hadapanku.

Jalanan dan perempatannya tidak jauh berbeda. Tapi sesuatu yang menyeramkan lebih menusuk hatiku. Dingin mennyayat kulit pipiku. Aku menggelengkan kepala. Ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti mimpi.

Tidak Mungkin!

Aku menutup mata dan telinga.

Aku teriak dalam hati. Jantung ku berdegup kencang.

Aku duduk jongkok di bawah pohon, lalu membuka mata perlahan-lahan. Aku mulai mencerna sekeliling. Semua orang berpakaian seperti dalam film Les Miserable! Aku menggelengkan kepala. Pandanganku berhenti tepat di sudut kakiku, empat buah tiket bioskop. Kertasnya keras seperti kertas daur ulang. Tinta cetakannya hampir timbul. Tertulis sebuah judul film dan tanggal mainnya:

London Theater
Title : City Lights
Time: 8 pm
Date:  13 – 10 – 1931

Aku ada di London tahun 1931?

***

Aku melihat sekeliling, orang-orang itu melihatku. Nggak mungkin! Kalian pasti nggak percaya tapi ini benar-benar terjadi. Aku cubit dan pukul pipiku berkali-kali hingga merah dan terasa panas. Ini nyata!
Aku lari menelusuri jalanan menurun. Terus ke sebuah lorong, hingga menemui tangga dan bersembunyi di bawah jembatan. Aku merapat ke dinding dan memperhatikan 4 tiket yang aku temukan. Salah satunya sudah sobek terinjak, seperti jejak sepatu kuda tampak jelas tercetak. Aku menghela nafas panjang. Menggaruk kepala sekeras apapun tampaknya tidak akan merubah suasana. Memang aku suka film dan cerita dongeng, tapi bukan berarti aku harus masuk di dalamnya.

‘Bangun! Bangun!’ teriakku keras-keras sambil membenturkan kepala ke dinding. Suara derap kaki, mobil, sepeda, sepatu kuda, menenggelamkan teriakkanku. Malam sudah tiba, yang aku bisa dengarkan hanya aliran air yang menentes dari pipa sebuah toko roti di seberang jalan, percikan air yang terlindas roda kereta kuda, suara gesekan jas panjang dan jas dalam ketika seorang pria yang tampak seperti pejabat memakai topinya keluar dari toko roti membawa sekantung besar dikepit di antara ketiaknya dan suara orang berbincang di cafĂ© dengan bahasa yang nyaris tidak ku kenal, bahasa inggris dengan logat yang terlalu kental.

Desahan nafas. Nafasku? Tanya ku dalam hati, lalu aku menoleh ke arah kanan.

“HOLLY S****!” Wajah seorang gadis berambut pirang tepat berada 1 cm dari wajahku. Aku melompat keluar dari persembunyian, tapi dia langsung menarikku.

“Who are you?” tanyanya

“Who are you?” tanyaku balik penuh tekanan.

“Terlalu berbahaya untuk orang pendatang sepertimu dengan jaket bagus dan…” dia menatap leherku.
Aku langsung menutupi sebuah kalung emas yang memang sejak awal ku pakai dibalik bajuku. Tanpa ragu aku menjelaskan siapa aku.

“Aku tidak harusnya tinggal disini, aku datang dari Indonesia tahun 2013. Ini salah. Bagaimana bisa aku ada disini, gimana bisa aku kembali?”

Tapi dia hanya mengerenyitkan dahi, lalu memberikan senyum simpul seolah, berkata aku tidak peduli apa yang baru kamu ceritakan. Dia menarikku sambil berkata “Ikuti aku”

Terpaksa aku mengikutinya. Seorang gadis muda wajahnya putih dengan khas merah orang Inggris di pipinya, pakaiannya tidak begitu bagus, tapi juga tidak compang. Kuperkirakan dia bukan pengemis tapi juga bukan orang yang tinggal di rumah jalan utama. Benar, aku dibawanya tiba di sebuah gubug kecil di dalam lorong ketiga dari lorong keempat sebelah kanan setelah menelusuri jalanan cabang dari cabang utama jalanan utama. Dia membuka pintu rumah tersebut. Seorang pria yang agak sedikit lebih tua, kurus namun tidak terlalu tinggi, wajahnya bersih tapi tangannya terlihat kasar.

“Siapa dia?” tanyanya sambil membawa pisau besar.

Aku termenung entah tak tau harus berbuat apa.

***

Setelah mereka menggeledah isi tasku. Yang isinya Hp, PowerBank, kamera saku, dompet dengan tiga mata uang, Pounds, Dollar dan Rupiah, biskuit oreo yang langsung mereka cicipi dan beberapa peta london tahun 2013. Mereka baru percaya bahwa aku adalah seorang pelajar dari Asia yang mendalami ilmu astrologi alias peramalan.

Mereka memberikanku kebebasan untuk tinggal atau pergi, tapi aku tidak punya pilihan lain selain mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tinggal bersama mereka. Setidaknya sampai aku mendatangi pertunjukan bioskop yang tiketnya ku miliki. Menurutku tiket itu salah satu petunjuk. Mungkin? Mungkin juga tidak. Tapi kenapa tiket itu ada di kaki ku, kalau bukan berarti aku harus melangkah ke sana. Kebetulan memang hal yang tepat untuk menjelaskannya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menemukan kebetulan yang lainnya. Aku berharap kebetulan aku bisa  kembali ke London 2013.

***

Tidur di tempat tidur beralaskan kain kasar rasanya gatal sekali. Hangat memang, tapi sungguh menyiksa kulit, rasanya aku jadi tahu sebab orang Inggris memiliki kulit yang lebih keras. Tak apa, ini hari terakhir aku tinggal bersama kakak beradik Valerie dan Henry ini yang ternyata adalah keluarga miskin yang sudah tidak punya orang tua lagi. Pagi itu, hanya mengelap badan dengan kain yang Valerie berikan, aku sudah 3 hari memakai baju yang sama, aku keluar untuk sarapan bersama mereka.

“Berapa umur mu?” tanyaku pada Valerie.

“Tujuh belas”

Well, terlihat seperti 27, kataku dalam hati.

“Dan kamu?” tanyanya padaku

“22”

“Wow, kamu terlihat seperti 16 tahun”

Thank’s God, kataku dalam hati. Terlihat semuda itukah Aku?

“Berarti kita seumuran” kata Henry yang sedang menyiapkan peralatan kerjanya. Dia bekerja sebagai tukang reparasi gerobak dan kereta kuda di Blackfriars. Nama pelabuhan di sungai Thames yang menurutku menyeramkan.

“Aku lahir tahun 1989 dan kamu lahir sebelum 1900, tidak, kita tidak seumuran” aku mencoba menjelaskan.
Lalu dia membantahnya dan menjelaskan panjang lebar tentang pemikiranku yang masih merasa datang dari masa depan. Tidak semuanya bisa aku pahami, karena bicaranya yang cepat dan lebih seperti bernyanyi, hanya intinya “Percuma kau memaksakan diri membuat orang lain percaya kau adalah sesuatu yang hebat, padahal kau tidak berbeda dariku”.

“Jangan dengarkan dia” kata Valerie, yang lebih tertarik untuk bersiap pergi ke bioskop. Sambil memberikan roti dan segelas air teh jahe, dia menanyakan soal tiket itu. Henry melirik dan pergi dari rumah.

“Ini” Aku keluarkan tiket itu dan memberikan satu padanya.

“Malam ini aku sudah menyiapkan baju yang cocok untukmu” jelasnya.

“Baju?”

“Iya!” dia masuk ke dalam kamarnya lalu keluar lagi membawa baju dengan korset kecil dan rok yang sangat lebar. Aku pernah melihatnya seorang anak kecil memakainya di sebuah pesta pernikahan artis terkenal di Jakarta. Tapi pesta pernikahan itu menggunakan tema hallowen.

“Kenapa aku harus memakai ini?”

“Apa kamu mau mencuri perhatian dengan pergi menggunakan pakaian mu itu?”
Aku melirik baju sweater dan jeans biru tua ketatku.

“Tidak ada satupun yang mengerti bahan apa ini” Katanya sambil memegang celanaku. “Sepertinya ini bahan yang sama dengan para penambang, apa kamu penambang?” tanyanya lagi.

Memang jeans sebetulnya berasal dari para penambang. Bahan jeans sangat kuat, hingga para penambang akan lebih aman menggunakannya jika hendak turun ke dasar bumi untuk menambang. Selain itu juga dipakai para budak ketika kerja rodi untuk melindungi kaki-kaki mereka. Tapi anehnya, jeans malah dianggap sebagai celana trendy yang mahal harganya.

“Bukan, Val. Aku seorang penulis”

“Ya, Astrolog” Katanya sambil mengganggukkan kepala. “Apa kamu bisa meramalkan apa yang terjadi di kota ini?”

“Well, aku nggak tahu apa yang akan terjadi pada mu dan Henry, tapi aku tau sekitar tahun 1966 akan terjadi kebakaran hebat yang meluluhlantakan London”

“Kenapa?”

“Entahlah” jawabku malas menjelaskan lebih lanjut padanya. Selain itu aku takut kakak beradik itu malah akan bunuh diri karena tahu mereka akan mati.

Valerie menggelengkan kepala. Dia lalu menyuruhku mengganti baju. “Ini bajuku, aku rasa cukup. Kita tidak terlalu berbeda”

Dengan tinggi 165, membuat aku yang seorang perempuan memang tidak terlalu berbeda dengan kebanyakan orang Inggris, apalagi yang masih remaja seperti Valerie. Hanya saja, dia lebih gemuk dan kulitnya yang lebih putih.

1930 London Tailor Shop

***

Sore harinya, Henry pulang dengan wajah lesu dan penuh noda hitam yang justru membuatnya tampak lebih gagah.

“Aku tidak akan ikut kalian malam ini” Katanya sambil memandangi pakaianku dengan tatapan aneh. Yah, gimana enggak, aku seperti orang Korea yang didandani jadi orang inggris di film Cloud atlas, hanya saja rambutku tidak dipaksa berwarna merah.

“Kenapa? Kita dapat tiket gratis nonton bioskop!” Jelas Valerie sambil menunjukan tiket ke wajah Henry yang sebetulnya kalau dia berpakaian bagus dia bisa dikira sebagai keturunan pangeran inggris.

“Kamu tau itu punya siapa?”

Aku dan Valerie terdiam.

“Lihat nomor kursinya! Pemilik tiket itu tidak mungkin melupakannya begitu saja”. Henry mengelap wajahnya dengan serbet makan sekaligus untuk mengelap mulutnya yang basah karena minum segelas air dari mug besar. “Kalau mereka datang dan melihat kita ada di bangku mereka. Apa yang terjadi?”
Aku melihat wajah Valerie yang tampak kecewa. Kepangan rambutnya tampak sia-sia.

“Aku nggak mau kembali ke dungeon bodoh itu”

“Dungeon?”

“London Dungeon, tempat untuk menghukum siapa saja yang perlu di hukum” Henry mengambil kembali roti besar yang keras karena udara dingin. “Kamu orang asing, kalau mau merasakan London yang sebenarnya, coba masuk ke sana, mungkin kamu juga bisa kembali ke masamu melalui hukuman mereka”
Aku menggelengkan kepala. “Aku nggak peduli, aku tetap akan pergi”. Aku membalikkan badan dan meninggalkan mereka. Aku berada di luar rumah, lalu kututup pintu rumah menghilang dari tatapan Valerie yang bingung dan Henry yang tidak peduli.

House of Parliament 

***

Theater masa itu tidak jauh berbeda jika kalian melihat film-film jaman dulu. Orang yang mengantri di trotoar, mengular ke sebuah dua pintu besar yang dipagari tali merah dan dihadapannya terdapan sebuah loket terbuat dari kaca. Di atas loket tersebut terpampang papan judul film yang dikelilingi lampu pijar bulat-bulat. Masa itu masa dimana Eropa berhasil mengarungi samudra membuka wilayah baru di Asia dan mendapatkan pasokan tambahan bagi keberadaban mereka. Walau tetap intrik politik yang belum aku pahami, pasti tetap ada. Salah satunya menyebabkan kebakaran London 35 tahun kemudian.

Di dalam bioskop berjenjang berjajar kursi bioskop lipat yang punggungnya tidak datar dan tidak juga melengkung sempurna. Aku naik dari tingkat dua karena kursi yang aku miliki ternyata kursi VIP. Tempat duduk VIP berada di balkon-balkon kecil, yang hanya berisi 4 kursi. Aku duduk di salah satu kursinya, kursi terluar di tepi balkon. Kursi yang berlapis beludru tersebut walau keras tapi nyaman, lekuk segi 5 sandarannya menopang punggung agar tetap duduk dengan tegak. Aku gulung rok besar yang menyebalkan ini dan berusaha duduk dengan nyaman.

Kursi-kursi di balkon lainnya mulai terisi. Sekarang aku paham kekhawatiran Henry. Mereka adalah orang-orang yang tampak raya dan makmur, lengkap dengan dasi pita pada para prianya dan sarung tangan sutra yang menyelimuti para wanitanya sambil memegang teropong panggung. Sebuah layar turun. Lampu mulai padam, tiba-tiba pintu balkon terbuka. Ternyata Henry dan Valerie datang.

“Kenapa kalian datang?”

“Aku tidak bisa membiarkan Valerie datang sendirian” kata Henry sambil melirik pintu masuk.

Valerie tersenyum senang dan duduk di sebelahku, sementara Henry duduk dengan awas mengawasi pintu.
Film hitam-putih tanpa suara itu sebetulnya sangat menarik, apalagi tentang cerita klasik Tramp yang jatuh cinta pada wanita yang tidak bisa melihat. Tapi aku tidak bisa dengan tenang menikmatinya karena harus tetap fokus mencari cara untuk bisa kembali pulang. Aku memperhatikan para penonton di bawah, penonton, petugas bioskop, petugas keamanan. Tiba-tiba Henry menepuk pundakku.

“Kita harus pergi!”

 “Ada apa?” Aku menoleh menatap Henry. Valeri merangkul tangan Henry dengan gemetar.

“Sudah ku bilang ini bukan hal yang bagus!” Kata Henry sambil menarik tanganku dan mengajakku keluar dari balkon.

Di lorong bioskop sekelompok pejabat dan petugas kemanan tengah berdebat. Tiba-tiba mereka melihat Aku bertiga keluar dari balkon.

“Itu mereka!” kata sala satu dari satpam

“Lari” kata Henry.

Aku langsung mengangkat rok sialan itu, hingga sepatu kets ku terlihat jelas. Aku lari mengikuti. Henry dan Valerie.

Melalui pintu belakang, turun dari tangga darurat. Kami keluar di lorong yang ramai. Di atas tangga, satpam tetap mengikuti. Kami berbelok ke arah jalanan. Ternyata disana sudah ramai polisi berkuda sedang berjaga.

“Kita harus berpencar” Kata Henry

“Kemana?” tanyaku ketakutan

“Kemana saja!” Kata Valerie.

Valerie dan Henry lari ke arah yang berlawanan. Para polisi berkuda itu langsung mengejar mereka. Aku lari sekuat tenaga. Angin dingin menyayat cepat telingaku, seiring teriakan polisi dan derap suara kaki mereka yang kuat menekan balok-balok jalanan.

Kenapa? Apa salah menemukan sebuah tiket dan menggunakannya?

Kakiku sudah tidak kuat lagi. Aku terjatuh, tersungkur merasakan tanah malam yang keras dan dingin. Polisi-polisi itu langsung menarik kedua tanganku dan mengingkatnya dengan sesuatu seperti borgol. Mereka memasukkanku ke sebuah kereta. Bukan kereta biasa, lebih ke sebuah kotak dengan pintu berjeruji yang di depannya ditarik oleh kuda. Di dalamnya duduk Henry dan Valerie.

“Tidak perlu menangis! Jalani saja” kata Henry dengan wajah dingin. Aku merasa dia kecewa Valerie menemukanku dan membiarkan tinggal bersama mereka tiga hari terakhir ini. Terlebih, aku tidak memberikan apapun pada mereka.

“Apa salah menggunakan tiket yang kita temukan?” Tanyaku

“Hey! Sesuatu yang bukan milikmu dan kamu temukan di tengah jalan, bukan berarti jadi milikmu. Harusnya kamu kembalikan tiket tersebut ke teater atau ke polisi!”

“Ya, harusnya” aku bergumam. “Apa bisa kita minta maaf dan mengembalikannya?”

“Terlambat, siapa yang percaya?” ujar Henry

“Tapi ini semua sudah terjadi, dan aku nggak bisa diam saja!” kataku merasa bersalah. “Aku bisa menjelaskan siapa aku sebenarnya!”

Herny dan Valerie terdiam. Pernyataanku barusan tentu saja bodoh. Kami bertiga duduk dalam diam, sampai akhirnya kereta tersebut berhenti di sebuah kantor polisi. Bagunannya tidak jauh beda dengan bangunan tua pemerintahan dan atau bahkan menyerupai gereja. Kami di bawa ke dalam lorong oleh dua orang polisi.

“Di dalam dungeon ada sel-sel penjara yang terbuat merupakan sebuah ruangan kotak kayu besar. Kalian tidak boleh masuk dan merasakannya. Aku akan mengecohkan pria-pria ini dan kalian harus segera lari” Henry berbisik. Sesaat hendak masuk ke sebuah kotak kayu besar yang mereka sebut penjara. Para polisi itu melepaskan ikatan tangan kami masing-masing.

“Auch! Kakiku” tiba-tiba Henry teriak mengaduh.

Aku dan Valerie saling berpandangan. Kami langsung lari. Henry berusaha memukuli para polisi dengan segenap tenaga. Tapi Dua orang polisi tersebut langsung berhasil mengatasi Henry. Henry jatuh bungkuk dan langsung dihajar dua polisi tersebut. Aku dan Valerie lari menjauhi suara Henry yang bergetar dan menggema di lorong penjara.

Aku melihat Valerie menangis. Aku berhenti berlari. “Kita harus kembali dan menolong Henry”.

Valeri menarik tanganku dan mengajakku untuk tetap berlari. “Aku percaya padanya, dia akan kembali”

“Tapi?”

“Kalau kamu tidak lari sekarang, kalau kamu menyerah, kamu akan terjebak disini selamanya.”

Aku dan Valerie tetap berlari, menelusuri lorong demi lorong, menyebrangi jalanan penuh mobil dan kereta kuda. Sampai akhirnya kami tiba di tempat yang sama aku dan Valerie bertemu. Kali ini Valerie berada di tepi dinding yang dekat dengan jalanan. Dia memperhatikan jalanan.

“Aku tidak bisa terus berlari” ujarnya

Derap jantung dan nafasku tidak beraturan membuat Valerie memegang pundakku untuk menenangkanku.

“Dengar, aku harus menunggu Henry” jelasnya

“Tapi polisi masih mengejar!”

“Ya, makanya kamu harus tetap berlari dan kembali ke tujuanmu!” Sesekali Valerie melirik jalanan. “Kamu nggak mau ada disini ketika London terbakar kan?”

“Tapi…kalian?”

“Larilah!”

Aku langsung melepaskan kalung yang aku pakai. “Ini” aku memberikan kalungku padanya.

“Untuk apa?”

“Kau bisa membebaskan Henry dengan ini kan?”

Valerie menerima kalung tersebut lalu lari ke arah polisi. Aku membuka baju besar dan kembali mengenakan jaketku semula. Sementara aku lari ke arah beralawanan, terus berlari, melewati lorong-lorong yang berputar di kawasan gedung dengan pintu-pintu yang sama, taman-taman kecil dengan tempat duduk coklat, mobil tua lalu lalang, klakson dan lampu mobil menyoroti setiap perempatan yang aku lewati. Setiap hembusan nafasku berubah menjadi asap panas. Aku sudah tidak kuat lagi. Celana jeans ku sudah dingin dan lembab karena udara musim gugur. Aku duduk bersimpuh, kepalaku berputar, perutku terasa tertusuk panah.

Sambil membungkuk menatap tanah, aku coba mengatur nafasku. Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapanku. Aku memperhatikan sepatu kets addidasnya. Lalu aku menatap wajahnya, Seorang wanita sekitar umur 40-an, rambutnya pirang badannya tidak terlalu besar.

“Are you okay?” tanyanya.

Dari logatnya, tas backpack yang dia bawa dan keramahannya, aku menyimpulkan dia adalah turis Eropa di Inggris.

Aku mencoba berdiri, “Ya, I’am okay”.

Wanita itu tersenyum. Sejenak aku sadar, dia tidak menggunakan pakaian jaman dulu. Dia menggunakan pakaian jaman sekarang.

“YAEY!”

Aku langsung memeluknya.

“Thank you, thank you so much”

Dia malah semakin bingung.

“You don’t know what I just being trough. Yes, I am totally okay!”

Wanita itu langsung pergi meninggalkan aku yang terlalu bersemangat bahwa aku sudah kembali ke London 2013. Aku jalan dengan langkah ringan karena tiba-tiba pegal di kakiku menghilang. Tapi kemudian aku terpaku. Sambil memegang leherku yang sudah tidak berkalung, Aku memperhatikan bayangan diriku yang terpantul dari kaca toko baju di hadapanku. Aku masih memakai baju dengan rok besar.

Upper Class Citizen

END.





Sunday, 10 November 2013

When People Only Think About Career: LinkedIn Story

Beberapa waktu lalu seseorang mengundang pertemanan di LinkedIn. Walaupun aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi karena orang tersebut pernah bekerja di tempat yang sama dengan ku beberapa tahun lalu, aku menerima undangan tersebut.


Anehnya, setelah aku menyapanya sekedar ingin bersapa atas sesama bekas pegawai kantor yang sama, aku menyadari dia sepertinya tidak tertarik untuk berbicara sebagai teman. Bahasanya kaku dan tidak peduli, seolah-olah menganggap aku ada perlu dan 'sok kenal' dengannya. Salah satu balasannya adalah:

"ada keperluan apa ya ...?"

Dalam hati, lah orang ini yang mengundang saya, tapi kenapa dia yang malah bertanya ada perlu apa saya sama dia? :D

Penasaran apa sebabnya orang itu bersikap demikian, aku bertanya darimana dia tahu LinkedIn ku. Kemudian jawabnya adalah:

"acak aja di LinkedIn, saya kerja as headhunter jadi udah biasanya begitu buka2 linkedin dan keep connect to people"

Setengah tertawa ini pendapat saya atas tulisan jawaban dia:

- bagian pertamanya: "acak aja di linkedin,..."
cara macam apa itu? buka sosmed lalu secara aca mengundang orang? Kok seperti tidak punya tujuan atau maksud yang jelas yah? apa memang begini cara orang sekarang berkenalan dengan orang lain? 'ya acak aja...'

- bagian kedua: "...saya kerja as headhunter jadi udah biasanya begitu..."
Aaa, dia kerja as headhunter. Maksudnya tugasnya adalah penyalur outsourcing atau semacamnya, begitu? dengan adanya sosmed kayanya banyak orang yang bekerja seperti ini, asmot! asal comot, yang penting keliatan punya network banyak sama atasannya, tanpa memedulikan hubungan personal.

- bagian ketiga: "... buka2 linkedin dan keep connect to people."
Sebenernya pernyataan dia ini bagus loh, maksudnya kita perlu menjalin dan menjaga silaturahmi kan? - keep connect to people - tapi apa berarti silaturahmi itu sudah tidak memerlukan sopan santun lagi? Lagipula yang dia lakukan itu connect to linkedin bukan to people, :p


Kesimpulannya, saya hanya diajak menjadi koneksi sosmed miliknya hanya karena dia bertugas sebagai headhunter, karirnya.

Anyway, pada akhirnya saya minta maaf pada orang itu. Karena saya merasa tersinggung di jadikan orang 'acak' sebagai alasan pertemanan, saya terpaksa menghilangkan contactnya dari halaman linkedin saya.

Sekali lagi bagi orang yang merasa jadi inspirasi tulisan ini maaf ya, semoga kita bisa berteman di tempat lain. :)


Monday, 4 November 2013

A kid Who only remember the Future

Title : A kid Who only remember the Future
Tagline : 'The future is the only thing I could remember'
Synopsis :
A story of a kid who cannot remember his past and could only remember his future. He forget his name, his parents, his teacher and everything he did in the past. Yet, he can predict what will going to happen. Everybody thought he has brain damaged. He doesn't resist it, because he knows there are people going to help him. He just need to walk the path... .

Screenplay:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More