Another Templates

Tuesday, 25 February 2014

How To Live Like Joko Anwar

Celana bahan yang masih panas karena baru diseterika jadi tambah panas kena sinar matahari pagi. Dengan sabuk hitam kecil yang memisahkan celana dan kemeja putihnya, Jono berlari mengejar metromini. Setengah mengantuk, karena baru pulang jam 1 pagi akibat terjebak macet, pagi ini Jono berusaha menahan tas tipisnya diantara manusia yang saling berhimpit. Teringat akan idolanya, Joko Anwar, dia membayangkan bahwa saat ini dia tengah memakai topi sheriff berdiri diantara pria bercelana khaki sambil memegang cerutu yang sedang meliriknya dengan mata sipit.

Kantornya tidak lebih dari sebuah ruangan besar yang dipenuhi orang-orang yang saling berbincang tanpa melepaskan tatapan dari layar komputer. Tugasnya hanya duduk membaca ulang surat-surat perijinan yang baru saja diterjemahkan, tapi nine to five bukan waktu yang lama bagi Jono Asgar. Di matanya, hilir mudik anak magang ke mesin fotokopian bergerak seolah terbang dengan kaki terjengkang, para bos dan anak buahnya saling berteriak seolah bernyanyi dengan lantang, dan semuanya bergerak sesuai irama detik jarum jam duduk di atas mejanya yang justru terdengar santer. Tapi ketika jam wekernya berbunyi pulang, dia tersadar karena teriakan bosnya, 'jangan joged onrop disini! kamu Jono Asgar, bukan Joko Anwar!'

Ini malam Jumat, kebanyakan teman-temannya pergi nonton film di bioskop. Pernah satu kali dia ingin mengajak teman kerjanya pergi menonton film di bioskop. Tapi karena tiketnya terbang terbawa angin sehingga dia harus berkeliling kota untuk mengejarnya, Jono gagal lagi nonton film di bioskop. Walau bertentangan dengan hati nurani, Jono menghabiskan malam Jumatnya dengan dvd bajakan setelah gagal nonton film di bioskop.

Tempat tinggalnya adalah rusun subsidi yang sudah hampir cocok untuk jadi tempat syuting film horor. Terkadang Joko seperti pernah melihat anak kecil berlari-lari membawa suntikan kecil, hp tanpa nomor yang dikenal, dan sebuah obor. Sungguh menyenangkan jika dia bisa menemukan suatu anomali yang bisa menarik perhatian Joko Anwar dan membuatnya jadi tersohor. Tapi ternyata anak kecil itu sedang membawa obat untuk ibunya yang sedang sakit, hp rusak dan rusun memang sedang mati lampu sehingga dia harus berlari sambil membawa obor.

Kesal dengan hidupnya yang biasa saja, Jono mengetuk-ngetuk dinding rusunnya dengan garpu berharap ada bayi tertanam. Tentu saja yang dia dapat adalah ketua RT rusun mengusirnya karena warga rusun merasa terancam. Dengan tas dan perabotan kamar setumpuk, Jono duduk di tepi jalan raya yang sudah malam. Dari dulu, tujuan Jono pindah dari Garut ke Jakarta hanya untuk bisa menemui idolanya yang mungkin berpapasan di tengah jalan dan memberinya salam.

Jono duduk di depan tv sambil merapihkan kemejanya masuk ke dalam celananya. Dia berharap pagi ini metromini dan jalan raya bisa lebih bersahabat baginya. Di halte, Jono berdiri diantara orang-orang dengan setiap rutinitasnya. 'Rasanya hari ini tidak akan berbeda dari hari kemarin', dia berkata dalam hatinya.

Tamat.

Thursday, 20 February 2014

Red Riding Hood

I did it! :D. Again, I managed my self to make an animation. Here is some snapshots from the video.

The house.
I made this all by myself after midnight for 2 months. I know it's not perfect and I should've worked on the details a little bit more, but just to finished it makes me proud of myself.


Shocking Granny
I also add graphs-stopmotion on the end (you can see it all here). I hope you'll like it. 

Poor little red.
The story is about little red riding hood with a major twist which is the wolf win it all. I hope it will not ruin your story about little red riding hood. :D


Evil-ish cute wolf

Please watch the full movie here:


red riding hood from ilma fathnurfirda on Vimeo.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More