Another Templates

Friday, 18 September 2015

Tentang Bulan

Dulu, beratus-ratus tahun jauh sebelum penisilin ditemukan, Bulan bersinar sepanjang periodenya. Sama seperti Matahari yang menyinari Bumi di kala siang, Bulan benderang di kala malam. Mereka berdua, silih berganti menerangi Bumi. 

Suatu ketika Bulan berkata pada Matahari, ‘Aku iri padamu, berjuta orang menunggumu muncul setiap paginya dan berpelukan melihatmu pergi setiap sorenya. Lalu mereka pergi begitu aku muncul. Tidak ada yang menunggu kedatanganku dan mengucapkan perpisahan ketika aku pergi. Paling-paling ada beberapa orang saja yang sibuk menunggu kedatanganku setiap waktu ke sepuluh, hanya untuk menentukan datangnya waktu ke sebelas, waktu kemenangan’.

‘Lalu apakah kau membenci manusia?’ jawab Matahari.

‘Sedikitnya, iya. Aku berusaha menerangi jalan dan lautan agar mereka bisa menyebranginya. Tapi mereka malah menutup tirai rumah mereka agar bisa tidur dengan nyenyak’.

‘Aku pun tidak berbeda dengan mu. Apa kamu tahu betapa sulitnya menerangi Bumi di waktu siang? Aku harus berusaha keras mengeluarkan panas untuk membuat mereka tidak kedinginan, tapi seringkali aku disumpahi untuk segera pergi. Maka aku melakukannya pada waktu tertentu, tapi kemudian mereka lagi-lagi marah padaku karena aku pergi. Tapi aku tetap melakukan tugasku, karena sebagian dari mereka bersyukur aku ada’.

‘Kadang aku ingin pergi’, keluh Bulan.

‘Bagaimana jika ada yang bersyukur atas kedatanganmu?’

‘Entahlah’

'Kau akan mengerti, jika kau menemukannya', jawab Matahari. Bulan pun mengira dia tidak akan mengerti apa maksud dari perkataan Matahari.

Beberapa malam berikutnya, Bulan bertugas seperti biasanya. Suatu ketika, dia melihat sebuah rumah dengan tirai jendela yang terbuka. Keesokan malamnya, Bulan kembali melihat jendela yang sama dan tetap tanpa tirai. Bulan kemudian bersinar lebih terang agar bisa melihat siapa dibalik jendela itu. Ternyata seorang Gadis yang tebaring lemas di atas kasur. Matanya terbuka melihat langit-langit. Matanya tertuju pada sang Bulan. Malam-malam berikutnya, Bulan menjadi semangat untuk bersinar setiap harinya, demi sang Gadis. Sampai suatu malam, di hari ke 29, Bulan melihat tirai tersebut tertutup. 

Bulan pun bertanya pada Matahari, ‘Apakah kau melihat ada sesuatu yang berbeda di siang hari pada jendela rumah yang selalu terbuka sepanjang hari?’

‘Ya’, jawab Matahari pelan.

‘Apa?’, tanya Bulan penuh kecemasan.

‘Gadis itu sakit. Dia terbaring selama 30 hari ini karena menderita suatu penyakit. Setiap pagi sampai sore, dia berjuang keras melawan penyakitnya. Maka setiap malam dia terbaring lemas di atas kasur’.

‘Jadi karena itu dia terjaga setiap malam’

‘Dia bercerita bahwa hanya kamu temannya. Setiap malam, orangtua dan kerabatnya lelap tertidur karena lelah menjaganya. Ketika malam, hanya kamu yang menemaninya melewati rasa sakitnya’

‘Lalu kemana dia sekarang?’

‘Dia pergi. Tapi dia berpesan, agar ketika kamu bersedih ingatlah hari dimana kamu menemukan aku’.

Sesaat setelah mendengar pesan dari Matahari, Bulan yang harusnya bertugas menerangi Bumi, muncul tanpa sinarnya.

Matahari bertanya, ‘Apakah kau akan terus bersedih dan berhenti bersinar?’

‘Tidak. Seperti pesanmu, aku akan bersinar dihari aku menemukannya. Tapi aku tetap bersedih’

Malam selanjutnya Bulan perlahan mengeluarkan sinarnya. Sampai sekitar hari ke-15, Bulan bersinar penuh. Saat itulah Bulan menemukan sang Gadis. Tapi tak lama kemudian Bulan kembali berduka. Perlahan dia mengeluarkan senyumnya, lalu menghilang di hari ke-30. Hari dimana Gadis itu pergi.


-Tamat-


1 comments:

Nice posting. Saya pernah baca buku cerita anak Mbam Irma, Sapi, kucing, kambing, bahu membahu mematikan Bulan. Mereka bilang silau. Boleh tanya sesuatu Mba? Mba Irma yang nulis skenario Tukang Ojek Pengkolan? Keren, gimana caranya Mba Irma? Ada lowongan jadi asisten penulis skenario ga Mba? Saya sangat tertarik. Salam kenal.

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More