Another Templates

Wednesday, 9 December 2015

Monster

Semua orang bilang anakku seorang monster. Matanya terlihat tajam kalau menatap. Tampak seperti selalu curiga. Tangannya kasar, bisa membuat tangan orang lain remuk ketika bersalaman. Langkahnya berat, seolah ada seekor godzila sedang berjalan. Tapi Aku tidak percaya begitu saja. Aku tahu siapa anakku, bocah lanang yang memiliki masa depan yang luar biasa.

Aku membesarkannya seorang diri. Istriku pergi dari rumah begitu saja ketika dia belum berusia 6 bulan, alasannya karena dia tidak tahan tinggal dengan seorang monster. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seorang ibu tidak tahan dengan anaknya kandungnya. Dia belum pernah sekalipun meninabobokannya. 'Suaranya tangisnya terlalu keras, seperti suaramu!', kata Istriku setiap mendengar tangisannya. Semua bayi pasti akan menangis keras, dikarenakan mereka kaget melihat dunia yang kejam. Bagiku tangisannya adalah tangisan teriakan semangat tiba di dunia. Teriakan semangat untuk mengubah dunia.

Aku tidak mau anakku berubah menjadi monster seperti yang mereka bilang. Aku memilih untuk mengajarnya seorang diri, ketimbang memasukkannya ke sekolah umum. Sekolah dengan orang kebanyakan, menerima ilmu dari orang lain yang tidak kau ketahui latar belakangnya. Aku pernah mendengar cerita seorang guru alim yang bijaksana, tapi ternyata meniduri anak kandungnya sendiri. Aku juga tidak suka bagaimana perilaku anak-anak yang bersekolah di sekolah umum, menularkan sifat-sifat buruk, iri, dengki, saling curiga dan cemburu. Belum lagi jika anak-anak itu menurunkan sifat-sifat dan perilaku orangtuanya di rumah, orang-orang yang ternyata bukan orang yang pantas untuk membesarkan anak. Orang-orang yang egois, memiliki anak hanya karena akibat dari keinginan untuk bisa berhubungan badan secara sah.

Lantas aku atur jadwal tumbuh kembang anakku. Aku siapkan semuanya yang terbaik, makanan, minuman, pakaian, buku-buku dan alat-alat penunjuang rasa keingintahuannya. Aku ingin anakku mendapatkan yang terbaik. Setiap pagi, aku ajak anakku olahraga, 100 kali push-up, 100 kali sit-up, 100 putaran lari keliling lapangan bola. Mungkin terdengar berat, tapi sejak kecil aku biasakan dia tidak menyerah. Setiap kali dia mengeluh 'Ayah aku tidak sanggup lagi'. Aku pecut dia, setiap kali keluhannya. Hasilnya sekarang, badannya sudah hampir melebihiku, padahal usianya baru 12 tahun. Itu semua karena aku tidak lupa memberikannya makanan dan minuman yang bergizi. 2 liter susu, 10kg daging, 10 macam sayuran, 10 macam buah setiap pagi.

Bukan hanya dari fisiknya yang tinggi, tegap dan kekar, tapi kemampuannya menganalisa sudah melebihi Vladimir Putin. Aku ajarkan dia semua ilmu yang ada di dunia ini, dari aljabar sampai filsafat Aristoteles. Waktu umurnya 6 tahun, aku sudah melatihnya untuk membuktikan rumus E = M C2, Einstein. Bukan hal yang mudah, aku harus mengurungnya di kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin ratusan kali, sampai akhirnya dia mampu melakukanya.

Bulan depan usianya 21, dia sudah bisa masuk ke dalam pemerintahan. Dengan bekal pengajaran militer yang aku terapkan sejak kecil, umur 15 dia sudah lulus akademi tentara dan umur 18 dia sudah terpilih menjadi jendral. Sekarang aku sudah bisa berbalik mentertawakan semua orang yang mengatakan bahwa anakku adalah seorang monster.

Anakku terpilih menjadi presiden termuda yang pernah ada. Dengan kemampuannya menganalisa dan mempimpin pasukan, tidak ada orang yang tidak tunduk padanya. Negara aman dari ancaman negara luar. Negara aman dari rayap pemberontakan yang tidak tahu diri. Negara aman dari siapapun yang ingin berkuasa atas keegoisan dan nafsu untuk menang sendiri. Setiap ancaman yang muncul selalu bisa diatasinya. Semua orang yang menentangnya berakhir di tiang gantung.

Suatu ketika, dia datang kepadaku. Dia memohon ijinku untuk menikahi seseorang. Aku kaget, tertegun untuk beberapa saat. Aku merasa tidak pernah mengajarkannya untuk jatuh cinta. Seperti pengalamanku sebelumnya, aku tidak percaya tentang cinta. Cinta yang membuatku harus mengurus anakku seorang diri, ditengah ejekkan orang lain. Seketika itu pula aku berkata tidak. Tapi ajaranku untuk gigih dan tidak menyerah membuatnya datang berkali-kali kepadaku, meminta ijin untuk bisa menikah. Dan berkali-kali itu pula aku memecut dan melarangnya untuk menikah.

'Sejak kecil aku membiarkan diri mengikutimu. Hidup denganmu. Tidak ada satupun hal yang aku tentang. Maka sekali lagi aku memohon ijinmu untuk menikahi gadis yang aku cinta', katanya.

'Tidak', jawabku singkat.

'Kenapa?', tanyanya.

'Kamu tahu betapa mereka meremehkan kamu. Betapa mereka menganggap kamu seorang monster. Tidak ada satupun orang yang akan dengan tulus mencintai kamu. Mereka hanya ingin menjatuhkan kamu dengan fantasi cinta'

Dalam sekejap, dia mengambil belati jendralnya dan menusukkannya tepat ke jantungku. Dia lalu berkata 'kamu adalah seorang monster'.

-tamat-

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More