Another Templates

Tuesday, 5 April 2016

Orang-Orang Pasar

              Pagi belum juga terang, lorong-lorong sebuah pasar kecil di perbatasan Jakarta-Depok, sudah dipenuhi para pedagang. Tanah pasar yang baru saja kering akibat hujan semalam, sudah kembali basah oleh tetesan es pengawet ikan-ikan segar yang baru saja mati. Bau sengit campuran daging busuk, ikan asin dan tanah sehabis hujan membuat rindu Minah terhadap tempat penghidupannya hilang sudah. Seminggu lamanya, Minah meninggalkan pasar demi mengurus pemakaman orangtuanya di Kuningan.

               Sehelai - dua helai daun rontok dari keranjang besar yang terikat di jok belakang motor tua Fauzan. Fauzan merapatkan motornya tepat di samping bilik kecil yang sudah di sewanya selama setahun. Minah yang sudah lebih dulu tiba di pasar, langsung membantu suaminya menurunkan keranjang besar berisi sayur mayur tersebut.

“Cabai naik lagi,” kata Fauzan datar.

“Berapa?” tanya Minah.

“30ribu.”

“Kok bisa?”

Fauzan menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.

Sambil merapikan sayur mayur di atas meja, Minah menggumam,”Harus jual berapa kita nanti?”

“Kita masih mending, barusan Pak Solihin bilang daging udah sampe 80ribu. Dia bingung hari ini mau jualan apa nggak.” Fauzan menaiki motornya,”Ayah ke pelabuhan ya.”

 “Katanya hari ini mau istirahat dulu?”

“Kalau ayah nggak kerja, gimana kita bisa beli sepeda untuk Azam?” ujar Fauzan tersenyum tipis.

“Nanti pinjem sama Abah … ”

“Jangan pinjam siapapun!” kata Fauzan memotong ucapan Minah. “Semiskin apapun kita, jangan berhutang!” Fauzan menegaskan sambil terbatuk.

Minah tahu, Fauzan sebetulnya sudah harus mengistirahatkan badannya yang semakin kurus. Pelabuhan sedang ramai-ramainya. Kapal-kapal pengangkut beras dan bahan makanan import sedang ramai merapat. Bulan depan, bulan Ramadhan.  Di satu sisi, Fauzan merasa bersyukur karena dengan demikian jasanya sebagai kuli panggul di pelabuhan akan semakin dibutuhkan, tapi di sisi lain tubuhnya meronta, kelelahan. Kondisi peralihan musim hujan ke musim panas menambah parah kondisi pelabuhan. Panas terik di siang hari, berubah menjadi hujan dan angin dingin yang menusuk di malam hari. Belum lagi, Fauzan harus menghirup angin dini hari, setiap kali dia mengantarkan sayur mayur agar Minah bisa berjualan di pasar setiap paginya.

Perlahan, pasar yang awalnya berbisik, sekarang mulai bersuara ramai. Minah duduk termenung menunggui dagangannya. Dia teringat tadi malam, anak pertamanya meminta sepeda untuk kenaikan kelasnya kali ini. Semuanya bermula dari kebiasaan Fauzan yang selalu menjanjikan hasil atas perbuatan. Dulu, ketika Azam baru mengerti tentang uang, Fauzan menyuruhnya mencuci motor dengan imbalan dua ribu rupiah. Akibatnya Minah dan Fauzan terpaksa memberikan Azam uang 2ribu setiap hari, karena setiap hari pula Azam mencuci motor. Sampai tiba musim kemarau panjang, Minah tidak tahu harus bersyukur atau tidak, tapi akhirnya Azam berhenti mencuci motor, karena air sumur rumahnya yang kering. Tapi kebiasaan itu tidak berhenti disitu. Ketika duduk di kelas satu, Fauzan menjanjikan sepatu baru untuk Azam jika berhasil mendapatkan nilai sempurna. Untungnya saat itu, Minah dan Fauzan sudah mulai berjualan di pasar tradisional kecil di sebuah komplek perumahan. Mereka bisa membelikan sepatu baru untuk Azam dan adiknya Isna yang masih TK. Tahun ini, Azam minta dibelikan sepeda agar dia bisa membonceng Isna dan tiba lebih cepat di sekolah.

“Mba, masih pagi kok sudah bengong? Nanti rejekinya dipatok ayam lho!” tanya seorang wanita 10 tahun lebih tua dari Minah dengan ramah.

“Jangan dong, Bu Haji. Doain saya rejekinya nambah dong, Bu.”

“Iya, saya doain,  biar banyak yang beli.”

“Amiin.”

“Biar banyak rejekinya.”

“Amiin.”

“Biar bisa bayar kontrakannya.”

Minah tersenyum,”Kata Kang Fauzan, Pak Haji setuju kalau kami bayarnya minggu depan, Bu. Soalnya kan orang tua saya… .”

“Iya, saya tahu. Saya kan cuma mengingatkan,” ujar Bu Haji yang wajahnya tiba-tiba berubah jadi dingin. “Beli bumbu rendang, sayur asem sama cabeinya seperempat.”

“Iya.”

Minah membungkuskan sayur mayur yang diminta, lalu memberikannya pada Bu Haji.

“Berapa?” tanya Bu Haji masih dingin.

“25ribu,” jawab Minah.

“Biasanya juga 18!”

“Harga cabainya naik, Bu.”

“Belum juga bulan puasa kok udah naik?”

Minah terdiam.

“20!” kata Bu Haji memaksa. “Lagian juga belum bayar kontrakan,” ujar Bu Haji setengah menggumam.

Minah terpaksa menerima 20ribu dari Bu Haji. Minah memang telat dua bulan belum membayar kontrakan.  Tiba-tiba telepon seluler butut milik Minah berbunyi.

“Halo?” jawab Minah. Dalam seketika raut wajah Minah berubah, khawatir, takut bercampur sedih. Tapi Minah harus tegar. Tak lama kemudian, seorang wanita sebaya Minah datang menghampiri.

“Mba jual angkak?” tanyanya.

Minah terdiam.

“Mba?” tanya wanita itu lagi.

Minah tersadarkan dari lamunannya lalu berkata,”Suami saya pingsan!”

“Kenapa?”

“Kecapaian. Barusan temannya menelepon akan segera mengantarkannya pulang.”

“Jadi mba mau tutup sekarang?”

Minah tidak mungkin menutup dagangannya. Jika dagangannya tidak habis hari ini, bisa jadi besok tidak terjual sama sekali karena layu. “Nggak,”kata Minah pelan. “Mba cari apa?” tanya Minah.

“Mba jual angkak?”

“Angkak?” Minah balik bertanya.

“Iya, beras merah kering, obat untuk demam berdarah. Anak saya masuk rumah sakit. Katanya kalau minum itu bisa cepat sembuh,” tanya wanita itu dengan cemas.

“Maaf, Mba. Saya nggak jual.”

Minah memperhatikan wanita itu bergegas pergi ke toko sebelah, sebelahnya lagi dan ke seluruh pasar menanyakan hal yang sama. Dari kejauhan, Minah bisa melihat wanita itu mendekati toko Omah, wanita yang sudah dianggap Minah sebagai kakak sendiri. Di sela-sela keramaian pasar, Minah memperhatikan Omah berbicara pada wanita itu, hingga membuat wanita itu tampak lega.

Matahari sudah semakin tinggi. Keringat mulai mengalir keluar dari balik kerudung yang menutupi pelipis Minah. Sebentar lagi pasar mulai lengang, itu berarti sebentar lagi Bang Ramon datang. Setiap bulannya, Bang Ramon berkeliling menagih uang keamanan. Entah apa yang dilakukannya, tapi selama para pedagang tidak pernah lupa membayar uang keamanan, pasar benar-benar aman dan nyaman. Minah bergegas menutup dagangannya yang setengah laku, dia tidak rela memberikan uang hasil dagangannya hari itu untuk Bang Ramon. Tapi belum juga sempat Minah memasukkan sayuran sisa ke dalam keranjang, Bang Ramon datang.

“Kok sudah tutup?” tanya Bang Ramon ramah meski suaranya yang serak terdengar garang.

“Kang Fauzan dibawa ke rumah sakit. Katanya muntah darah.” Kata Minah menjelaskan dengan gugup. Bang Ramon mengusir Abdi, pedagang kelapa parut, dari pasar itu bulan lalu. Kejadian itu membekas jelas diingatannya dan juga semua pedagang di pasar itu. Abdi tidak sanggup membayar hutangnya pada Bang Ramon. Ketika itu Abdi berhutang pada Bang Ramon untuk melunasi hutangnya pada tukang kredit lainnya. Bang Ramon mengambil semua barang milik Abdi. Abdi dan keluarganya terpaksa pulang ke kampungnya di Sukaraja, kembali menjadi petani lahan sawah milik orang Jakarta.

“Waduh. Sakit apa?” tanya Bang Ramon lagi.

“Nggak tahu, kayanya kecapaian. Lagi dibawa ke rumah sakit sama teman-temannya,” jelas Minah.

Bang Ramon menganggukkan kepala,”Kalau begitu bulan ini kamu tidak usah bayar penuh! Cukup 20ribu saja!”

“Makasih, Bang!” ujar Minah seraya memberikan selembar 20ribu pada Bang Ramon.

“Tapi ingat, bulan depan kau harus bayar 80ribu!”

Minah mengangguk perlahan. Dia tidak percaya Bang Ramon mau melepaskannya begitu saja. Setelah, Bang Ramon beralih ke pedagang lain, Minah mengangkat keranjang sayurannya dan melangkah pergi meninggalkan pasar.

“Mba!” sapa Rizan, pemuda pasar pedagang gorengan yang letakanya di pintu keluar pasar.

Minah menoleh.

“Kok bisa ngutang sama Bang Ramon?”.

“Kang Fauzan lagi sakit,” ujar Minah setengah lelah harus menerima kenyataan sekarang suaminya ada di rumah sakit.

“Oh, cepet sembuh atuh yah!”

“Hari ini saya jualannya baru habis separuh, cuma dapat 150. Kalau boleh saya pinjam…”

“Saya lagi nggak pegang uang. Coba pinjam Pak Solihin!”

Minah melirik Solihin, pria 60an yang masih tampak sehat. Minah melangkah dengan berat menghampiri Solihin. Solihin tampak sedang berbincang dengan anaknya, Maman. Minah menghentikan langkahnya, begitu mendengar Maman kecewa harus menunda melamar kekasihnya karena Solihin belum ada uang untuk menikahkannya. Minah terngiang peringatan suaminya tadi pagi, jangan berhutang!

Tiba-tiba tepukan tangan ramah jatuh dibahu Minah. Minah berpaling, Omah berdiri di hadapannya.

“Baru hari ini jualan lagi, kok malah pulang cepat?” tanya Omah dengan wajah khawatir.

Minah terdiam, menatap Omah. Sejak pertama kali datang ke Jakarta, Omah adalah orang yang paling sering menolong Minah dan keluarganya. Dari mulai menumpang di rumah Omah, sampai dibantu mencarikan tempat berjualan di pasar. Minah tidak bisa berpikir panjang lagi, ucapan kata ‘pinjam’ sudah ada di ujung lidahnya.

Tiba-tiba Omah berkata, “Minah, anak saya masuk rumah sakit kena DBD. Hari ini sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi saya bingung gimana caranya bayar rumah sakit. Saya tahu orangtua kamu baru saja meninggal. Kamu pasti nggak pegang uang. Tapi kalau bisa sedikit saja ….”

Minah terdiam, di hadapannya Omah terlihat tidak berdaya. Dari kejauhan, tampak Azam dan Isna yang masih berpakaian seragam sekolah berlari mendekati Minah dengan semangat.

Selesai.


0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More